Adakah lockdown yang dilakukan hanya beberapa hari, jauh dibawah masa inkubasi virus Covid 19?.

Ada, yang melakukannya adalah negara bagian Queensland di Australia. 

Tapi kebijakan ini dilakukan ketika baru ditemukan satu orang yang terinfeksi. Lockdown tiga hari dilakukan untuk mengefektifkan tracing dan testing agar tidak terjadi penularan yang semakin besar.

Lalu ketika jumlah penderita covid 19 meningkat, Turki juga menerapkan lockdown akhir pekan. 

Dan rupanya ini yang menginspirasi anggota DPR untuk mendorong pemerintah menerapkan lockdown akhir pekan guna mengerem laju infeksi covid 19 yang telah menembus angka 1 juta infeksi.

Usulan ini disampaikan karena Presiden menyebutkan bahwa Pembatasan Pergerakan dan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tidak efektif untuk tidak menyebutnya gagal.

Gubernur Jawa Tengah kemudian menerapkan lockdown akhir pekan itu. Dan kemudian gubernur Kalimantan Timur juga melakukan hal yang sama, mulai mingu pertama bulan Februari 2021.

Darimana datangnya atau asal usul metode lock down akhir pekan untuk mengerem laju penularan covid 19?. Data atau penelitian mana yang dipakai untuk menetapkannya?.

Adakah hasil penelitian atau data yang menunjukkan Covid 19 aktif menular pada hari Sabtu dan Minggu?.

Namun jika tidak kebijakan ini hanya akan jadi permainan rem dan gas. Covid 19 direm pada hari Sabtu dan Minggu serta nge-gas lagi mulai dari Senin sampai Jumat.

Kenapa?. Karena masa inkubasi Covid 19 yang diterima secara umum adalah 14 hari. Jadi kalau di-block hanya dalam waktu dua hari maka tidak cukup. Minimal mau memblock ya harus sama dengan masa inkubasi.

Maka jika dilihat dari konteks epidemilogi, kebijakan lockdown akhir pekan ini sungguh membingungkan. Pemerintah atau wilayah yang menerapkannya seperti sedang bermain yoyo. 

Bersantai Santai Dahulu Sakit Kemudian

Hampir setahun hidup dengan pandemi termyata kita belum menemukan cara terbaik untuk menghadapinya. 

Persoalannya adakah cara yang terbaik?. Secara umum cara terbaik yang bisa diambil saat pandemi baru mulai adalah menganggap semua orang terinfeksi. Oleh karena semua harus dikarantina. Itulah yang disebut dengan lockdown. 

Cara lainnya adalah 3 T, testing, tracing dan treatment. Lakukan test sebanyak mungkin, telusuri mereka yang berkontak dengan yang terinfeksi dan rawat mereka yang terinfeksi.

Dan kemudian yang paling umum adalah 3 M, memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

Semakin hari data berapa yang ditest makin tak jelas, peta persebaran, sejarah infeksi dan lain sebagainya.

Upaya untuk menegakkan M3 juga semakin luruh. Banyak instalasi cuci tangan yang dipasang dipinggir jalan sudah tak ada airnya. 

Dan menjelang akhir tahun agar anggaran tak menguap semua kegiatan pemerintah dikebut termasuk perjalanan keluar daerah.  Meski perginya dilakukan test tapi pulangnya tidak.

Hampir satu tahun terkungkung pandemi energi sudah mulai habis. Anggaran yang telah digelontorkan juga tak menunjukkan hasil yang maksimal. Stimulus apapun yang diberikan akan sulit untuk berkembang jika tidak ada kepastian.

Nampaknya sudah kepalang basah. Cenderung lunak diawal dengan langkah moderat menghadapi pandemi membuat kita ketinggalan. 

Disaat negara-negara lain yang tidak lebih baik dari negeri ini mulai melandai angkanya, kota justru terus meningkat hingga menembus angka psikologis.

Mau mengetatkan tentu terlambat. Maka pilihannya ketat setengah-setengah. Yang kita semua tahu inisatif apapun yang hanya setengah-setengah malah bisa memperparah keadaan 

Sebagai sebuah judul, lockdown akhir pekan yang di Kalimantan Timur disebut sebagai Kaltim Silent atau Kaltim Steril memang keren. Ear catching lah kata mereka yang biasa bikin coppywriting.

Tapi sekeren apapun jangan-jangan judul ini merupakan symptom atau penanda bahwa benar virus Corona varian barunya bukan hanya menginfeksi paru-paru saja melainkan juga telah menyerang otak.

.