Bulan Maret 2019, channel Tech it or leave it mengupload video review Acer Chromebook C83-131. Video review dibuat setelah 6 bulan memakai chromebook tersebut.
Chromebook buatan Acer itu ketika dirilis ditawarkan dengan harga sekitar 3 jutaan, namun di Tokopedia beberapa waktu kemudian dijual dengan harga sekitar 1,8 juta.
Kenapa?.
Kemungkinan laptop ini kurang laku karena masyarakat di Indonesia umumnya hanya mengenal laptop dengan OS window dan MacOS.
Disebut dengan chromebook karena os-nya adalah chrome besutan google.
Berbeda dengan laptop pada umumnya, chromebook memang ditujukan untuk pemakaian sederhana seperti mengetik, browsing dan nonton video di internet.
Spesifikasinya amat rendah jika dibandingkan dengan laptop yang berbasis windows. Chromebook umumnya hanya dibekali dengan prosesor intel Celeron, memory 2 giga, penyimpanan16 – 32 giga, baterai 3490 mAh sehingga beratnya hanya sekitar 1,1 kilogram.
Chromebook memang tak populer, terbukti video review dari Tech it or leave it hanya ditonton oleh sekitar 38 ribu kali sejak tahun 2019.
3 bulan lalu, channel DK ID yang dikenal karena sering mereview laptop BPJS atau Budget Pas-Pasan Jiwa Sosialita memperkenalkan juga sebuah chromebook dengan judul ‘Laptop Buat Anak Sekolah Yang Tahan Banting’.
Chromebook yang direkomandasikan adalah Acer Chromebook 712 atau C 871. Prosesornya sudah memakai intel core i3 1011OU. Memori RAM ada yang 4 dan 8 giga, sementara penyimpanannya ada yang 32 dan 64 giga. Semua terpasang on boards sehingga tidak ada opsi untuk upgrade.
Layarnya 12 inch full HD dengan panel IPS jadi tetap enak dilihat dari view angle manapun. Aspek rasionya agak aneh yaitu 3 banding 2 bukan 16 banding 9 seperti kebanyakan laptop lainnya karena laptop ini ditujukan untuk pelajar.
Dengan aspek rasio seperti itu layar terasa lebih luas jadi jika sedang belajar sesuatu baca artikel, baca ebook atau melihat website jadi lebih lega. Engsel chromebook ini juga bisa dibuka sampai 180 derajad sehingga nyaman juga dipakai belajar sambil baring-baring.
Tampilan chrome OS sebenarnya mirip android karena keduanya sama-sama buatan google. Jadi yang terbiasa memakai android sebenarnya tak perlu belajar lagi. Anggap saja ini adalah android di laptop.
Aplikasi buatan google semua ada dan ada juga playstore.
Bagaimana untuk main games?. Bisa saja namun untuk mengerakkan tidak ada tombol fisik di keyboards sehingga jadi ribet karena harus dimainkan dengan mouse. Namun ada beberapa games yang support dengan keyboards.
Jadi sebenarnya tidak 100 persen benar pandangan bahwa Chromebook hanya untuk belajar. Lama kelamaan chromebook juga akan berkembang seperti laptop mainstream lainnya seiring dengan banyaknya pengembang yang membuat aplikasi atau program berbasis chrome OS.
Untuk editing, chromebook juga bisa dipakai dengan memakai aplikasi editing yang ada di playstore seperti kinemaster misalnya. Jadi kalau untuk kepentingan diupload di sosial media, kemampuan editing chromebook sudahlah cukup.
Dari sisi desain Chromebook memang sederhana, kayak laptop kuno karena frame layarnya tebal.
Tampilan ini bisa dimengerti karena target pemakainya adalah anak-anak, terutama anak SD dan SMP serta SMA awal-awal. Pemakai yang masih brutal dan kurang hati-hati.
Maka dibalik tampilan sederhana itu, chromebook mempunyai banyak sertifikasi soal keamanan dan ketahanan. Berbagai test seperti guncangan, temperatur, kelembaban dan lain-lain. Sehingga tetap aman terjatuh, tersiram air, terkena cipratan saos dan menutup layar dengan keras, laptopnya tetap aman.
Harga yang ditawarkan untuk chromebook Acer 712 ini sekitar 4 jutaan.
{ baca juga : Tumbangnya Para Raksasa }
Kaum Mendang Mending
Amat jarang David, seorang review gadget dan teknologi di channel gadgetin menyentil pemerintah.
Tanggal 30 Juli 2021 yang lalu dia mengupload video dengan judul “ Pendapat saya soal berita laptop 10 juta, spek 4 juta”.
David tak tahan membaca berita tentang alokasi dana sekitar 2,4 trilyun untuk DAK atau Dana Alokasi Khusus tingkat provinsi, kabupaten dan kota guna pembelian 240.000 laptop.
Tanpa keterangan lebih lanjut maka jika dana itu dibagi dengan jumlah laptop yang akan dibeli maka akan diperoleh angka 10 juta untuk harga laptopnya. Harga tersebut bisa memperoleh sebuah laptop ‘branded’ kelas menengah.
Dengan laptop seperti itu paling tidak ada 240 ribu pelajar Indonesia akan mendapat fasilitas laptop yang gak bisa dibilang mendang-mending. Laptop yang cukup keren untuk kelas pelajar.
Dengan asumsi harga 10 juta itu, berita soal laptop menjadi masalah karena didalamnya sudah dicantumkan spesifikasi laptopnya yang diatur dalam peraturan menteri. Speknya tertulis RAM 4 Giga DDR4, Monitor 11 Inch LED, Prosesor dua core frekwensi lebih dari 1,1 GHz, Grafis HD, Penyimpanan 32 GB, USB Port 3.0, Chrome OS dan garansi 1 tahun.
Spek yang diatur dalam peraturan menteri ini jika dibandingkan dengan asumsi anggaran per laptop 10 juta maka ini adalah spek yang sangat rendah. Di pasaran ada banyak laptop dengan spek itu harganya dibawah 5 juta dan speknya sedikit diatasnya.
Kemudian ada berita susulan yang menyebut laptop 10 juta itu kurang tepat karena dana 2,4 trilyun itu bukan hanya untuk membeli laptop melainkan untuk pengadaan paket TIK bagi 242,565 paket TIK bagi 15,656 sekolah. Jadi selain laptop akan dibeli juga akses point, konektor, LCD Proyektor, Layar Proyektor dan speaker aktif.
Entah bagaimana pembagiannya atau bagaimana bentuk paketnya, namun bisa dikatakan para pelajar akan mendapat paket yang overkill.
Wajarlah karena menteri kita adalah orang hebat dalam bidang IT.
Spek laptop yang kelihatan cupu banget dibanding dengan Windows dan MacOS wajar saja karena yang akan dipakai adalah Chrome OS. Sekali lagi ini adalah OS yang mirip Android di kebanyakan HP kita yang tak butuh spek tinggi untuk mengoperasikannya.
Yang terbiasa browsing pasti tidak asing dengan google chrome. Dan nama OS ini diambil dari sana karena cara pakainya memang mirip dengan google chrome.
Jadi chromebook ini adalah laptop yang begitu kita buka langsung akan masuk ke google chrome dan kita tak bisa keluar dari sana.
Sekilas seperti sempit sekali cakupannya, namun sejatinya tidak karena di smartphone semua hal dibuka melalui browser.
Jadi laptop ini bisa dipakai untuk browsing, akses video youtube, mendengar podcast, mengetik dengan google doc atau bahkan microsoft office yang berbasis browser, meeting, email, chatting dan lain-lain. Pendek kata apa yang bisa dikerjakan lewat android juga bisa dikerjakan lewat chrome OS.
Kalaupun dibilang ada kelemahannya adalah tidak bisa dipakai untuk bermain games yang berbasis PC dan menjalankan aplikasi editing seperti adobe premiere serta pekerjaan multimedia yang butuh sofware khusus.
Chromebook memang dikembangkan dalam posisi sebagai laptop pelajar.
Ketika pandemi penjualan chromebook naik berkali lipat di luar negeri namun di Indonesia tidak kedengaran. Chromebook hampir tidak dikenal disini.
Tidak ngetrendnya chomebook di Indonesia tidak lepas dari kondisi dan sebaran jaringan internet kita. Meski bisa dipakai offline, chromebook sejatinya adalah laptop yang diciptakan dengan syarat terkoneksi internet terus menerus.
Jadi kalau jaringan atau koneksi internet kita super lemot maka memakai chromebook bakal menyebalkan sekali.
Maka pertanyaannya apakah paket TIK yang berbasis laptop chromebook ini bakal maksimal kalau jaringan dan akses internet kita masih minimal?.
Jadi gak usah julid-julid amat soal rencana kucuran dana 2,4 trilyun untuk tahun ini dan bertrilyun di tahun kemudian sampai 2024.
Paket TIK untuk pelajar ini bisa diibaratkan sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Sebab dalam peraturan menteri, laptop mesti dibeli dari vendor atau produsen Indonesia atau dalam negeri yang memenuhi syarat TKDN.
Artinya chromebook akan dipasok atau dibuat oleh produsen dalam negeri semacam zyrex, axioo dan advan.
Apakah mereka sudah membuat chromebook?. Nampaknya baru axioo, yang mempunyai satu jenis produk chromebook yang dipasar dijual dengan harga sekitar 5,6 juta. Produk itu jika dibandingkan dengan produk sejenis yang diproduksi oleh pabrikan luar negeri harganya malah lebih mahal.
Tapi tak apalah lebih mahal karena selain untuk meningkatkan sarana belajar bagi pelajar paket TIK ini juga menjadi stimulus untuk pengembangan produsen teknologi dalam negeri. Siapa tahu dengan alokasi dana ini para produsen dalam negeri akan semakin berkembang bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan negeri sendiri melainkan juga bisa bersaing dengan produk-produk luar negeri.
Lebay nggak sih?
Sedikit lebay mungkin namun jangan sinis dulu sebab selain paket TIK untuk sekolah, pemerintah juga meluncurkan program Laptop Merah Putih bekerja sama dengan perguruan-perguruan tinggi ternama di Indonesia. Nah kolaborasi antara program Laptop Merah Putih dan pengembangan paket TIK untuk pelajar ini mungkin kelak melahirkan model atau platform laptop yang bisa bersaing dengan produk ternama seperti Asus, Acer, MacBook, HP, Huawei, Xiomi, Infinix dan lain-lain.
Mimpi kali ya?. Nggak juga sih, semua bisa tercapai andai kita punya road map dan blue print yang jelas untuk pengembangannya.
Nah, punyakah kita road map atau blue print itu?.
Mungkin punya namun nggak semua orang tahu atau boleh tahu.
{ baca juga : Datang Sebagai Bocah, Pergi Sebagai Sejarah }
note : sumber gambar – Tribun News








