Saat pembelakuan PPKM Level 4, saya sempat pergi ke salah satu mall untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Memasuki tempat parkir yang berada mungkin di lantai 2 bangunannya bikin hati jeri. Kalau biasanya kebingungan cari tempat untuk parkir di sebelah mana, ini malah kebingungan mau taruh dimana karena ruang parkirnya hampir-hampir kosong.

Sepi sekali, bahkan tak nampak seorangpun pegawai penjaga area parkir. Di depan pintu masukpun tak ada satpam yang berjaga sambil mengenggam termogun.

Suasana lengang semakin mencekam ketika di dalam bangunan. Hampir semua tenant-nya tutup terkecuali yang menjual makanan siap saji dan obat-obatan. Jumlahnya tak banyak dan nampak pegawainya juga sudah dikurangi.

Tiba di swalayan meski terang benderang namun tak nampak ada keramaian. Hanya dua atau tiga kasir yang berjaga. Ada banyak barang yang didiskon namun semua masih tertata rapi menandakan tak banyak yang datang untuk melihat-lihatnya.

Apakah semua kelesuan ini semata hanya karena pandemi?.

Sebenarnya tidak sebab tanda-tanda kelesuan mall atau pusat-pusat perbelanjaan super besar sudah mulai terasa lima tahun terakhir ini. Konsep mall sebagai one stop living mulai tergerus oleh berkembangnya kemunculan banyak tempat piknik dan tongkrongan yang lebih bernuansa outdoor.

Perkembangan game online atau game yang berbasis gadget juga turut mengerus jumlah anak-anak yang memaksa orang tuanya untuk piknik ke mall pada hari-hari tertentu. Pusat-pusat permainan di mall tak lagi menarik hati anak-anak sebagai sasaran utamanya.

Sementara untuk belanja kebutuhan sehari-hari, kemunculan minimarket yang dekat dengan permukiman juga mengerus pengunjung tetap supermarket yang ada di mall-mall. Belanja di minimarket jauh lebih praktis dan tidak membuang waktu terlalu banyak.

Kebutuhan lain seperti sepatu, pakaian, kosmetik dan lain-lain kini bisa dipenuhi dengan belanja online. Yang bukan hanya bisa dibayar ketika barang datang {COD} melainkan juga bisa dikredit.

Nampaknya semua yang serba besar tak lagi cocok untuk jaman ini, sama seperti baliho-baliho besar yang jarang membuat wajah yang dipampang akan muncul jadi pemenang.

Matahari dan Giant

Matahari pasti besar dan mencolok, kalau matahati itu baru tersembunyi. Sedangkan Giant artinya memang raksasa.

Matahari dan Giant adalah dua nama besar serta raksasa dalam bisnis dept store atau supermarket di Indonesia.

Beberapa tahun terakhir ini Matahari mulai menutup beberapa gerainya, langkah itu diikuti oleh Giant. Langkah Giant bahkan lebih ekstrim karena memutuskan untuk menutup semua gerainya pada bulan Juli 2021.

Apa yang terjadi pada kedua raksasa itu?.

Hidup memang selalu mempunyai batas, meski bumi bulat dan bundar, namun kehidupan didalamnya mempunyai tepi.

Dalam bidang politik misalnya, seorang yang kelamaaan jadi ‘pahlawan’ kemudian akan berakhir menjadi ‘penjahat’. Bercokol terlalu lama atau over stay akan menjadi biang kehancuran.

Tidak ada juara untuk selamanya, the greatest off all time.

Giant bukanlah jagoan lokal. Berkembang dan besar di Malaysia, berdiri untuk pertama kalinya pada tahun 1944, didirikan oleh Teng Meng Chin. Setelah sukses, Giant berekpansi ke luar negeri. Datang ke Indonesia dengan mengandeng Hero Supermarket Tbk, milik pengusaha Muhammad Saleh Kurnia.

Hero membuka gerai Giant pertama kali pada tahun 2002, Giant kemudian menjadi senjata andalan Hero untuk mendulang pendapatan sekaligus sebagai cara untuk menghadapi saingan yang mendominasi pasar waktu itu. Salah satunya adalah Carrefour.

Giant terus berkembang hingga di masa jayanya Hero mempunyai seratusan gerai Giant di berbagai kota di Indonesia dengan jumlah karyawan kurang lebih 14 ribu orang.

Sedangkan Matahari Departement Store juga punya sejarah panjang di Indonesia. Pada usia 18 tahun, Harry Darmawan mendirikan toko fashion dan pakaian anak-anak. Toko itu dinamai Matahari yang kemudian berkembang menjadi department store modern pertama di Indonesia pada tahun 1972.

Matahari terus bertumbuh dan pada tahun 2019 mempunyai 169 gerai yang tersebar di 76 kota seluruh penjuru Indonesia. Luas area pertokoannya mencapai 1 juta km persegi keseluruhannya. Mempekerjakan kurang lebih 40 ribu orang dan bermitra dengan 700 pemasok lokal serta internasional.

Namun angin perubahan datang. Sejak tahun 2015 Hero mulai dilanda badai kerugian. Hingga kemudian di tahun 2020 mengumumkan kerugian telah mencapai 1 trilyun lebih. Padahal di tahun sebelumnya kerugian hanya sekitar 33 milyard saja.

Dan pada akhirnya tanggal 25 Juni 2021, Manajemen Hero mengumumkan akan menutup seluruh gerai Giant di bulan Juli 2021.

Matahari juga berada dalam posisi yang tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh Hero lewat Giant-nya. Matahari juga mulai menutup gerai-gerainya sembari membuka gerai baru di lokasi yang punya potensi yang baik.

Tahun 2020 Matahari menutup kurang lebih 25 gerai dan di kuartal pertama tahun 2021 ada 23 gerai dalam pemantauan dan 13 diantaranya akan ditutup. Tahun 2019 Matahari masih mencatat laba bersih sekitar 1,3 trilyun namun di tahun 2020 Matahari kemudian mencatat kerugian 823 milyard.

{ baca juga : Datang Sebagai Bocah, Pergi Sebagai Sejarah }

Menutup Bukan Bangkrut

Pandemi Covid 19 yang telah berlangsung selama lebih dari satu tahun bukanlah penyebab langsung dari melemahnya industri retail besar. Namun tak bisa dipungkiri bahwa pandemi memaksa kita menerima kenyataan bahwa industri retail telah berubah.

Jauh hari sebelum pandemi layanan ecommerce yang semakin aman dan nyaman telah merubah kebiasaan belanja masyarakat. Pada saat yang sama bangkit pula industry kreatif yang memungkinkan siapapun memproduksi apapun.

Produsen-produsen baru yang kemudian tidak mengantungkan pemasarannya pada gerai-gerai fisik atau retail. Mereka melakukan pemasaran langsung melalui marketplace.

Masyarakat kemudian mempunyai akses yang luas terhadap produk apapun yang bisa dibeli dengan mudah bahkan sambil rebahan.

Brand-brand yang dulu bisa mendikte konsumen kini kehilangan kekuatan itu. Masyarakat pelanggan menjadi sangat perkasa, masa depan sebuah brand terletak di ujung jempol para pelanggannya. Satu kali pencet bisa membuat sebuah brand melompat tapi sebaliknya juga bisa bangkrut.

Faktanya selain desakan marketplace, para pelanggan supermarket di masa pandemi ini menjadi lebih menyukai gerai-gerai kecil atau minimarket yang lebih dekat dengan rumah atau tempat tinggalnya.

Gaya belanja online dan omni channel atau memesan/membeli secara online lalu mengambil di gerai semakin menjadi pilihan. Dan nampaknya gaya ini akan bertahan.

Maka ada dua pilihan bagi para retailer besar untuk moved on dari gaya lama agar tak mengalami kebangkrutan.

Pertama adalah melakukan resizesing atau memecah-mecah unit penjualannya menjadi lebih kecil namun lebih banyak, tersebar di kawasan-kawasan permukiman. Seperti halnya jaringan ritel minimarket Indomart, Alfamart dan Alfamidi.

Unit-unit ini berfokus pada kebutuhan tertentu yang paling dibutuhkan oleh masyarakat atau fokus pada produk tertentu misalnya kesehatan, seperti obat, alat kesehatan, makanan dan minuman sehat.

Kedua adalah melakukan pengabungan antara penjualan online dan offline, atau omni channel.

Langkah  pertama nampaknya diambil oleh Hero, mereka menutup hypermarket-nya dan kemudian akan memfokuskan pada gerai-gerai supermarket yang lebih kecil serta membuka gerai-gerai baru pada sektor yang mempunyai potensi pertumbuhan tinggi.

Sektor yang diyakini masih punya potensi pertumbuhan tinggi adalah peralatan rumah tangga, kesehatan dan kecantikan serta keperluan hari-hari untuk kelas atas. Ikea, Guardian dan Hero Supermarket kemudian menjadi pilihan bagi Hero untuk melakukan rezesing dan focusing.

Strategi lain dipilih oleh Matahari untuk lebih menekuni penjualan online. Mataharimall.com ditransformasi menjadi matahari.com yang akan menjadi kanal dari semua penjualan online dari semua produk Matahari Departement Store.

Matahari juga meluncurkan chat & shop dan hypermart online.

Selain mengembangkan kanal sendiri, Matahari juga melakukan kerjasama penjualan dengan grabmart, Tokopedia dan jd.id.

Untuk memberikan pengalaman belanja yang lebih baik pada pelanggan, Matahari juga membeli saham Bank Nobu. Sehingga selain memberi layanan pembayaran online, Matahari juga mengembangkan layanan pinjaman untuk para pelanggan dan juga mitranya.

Pengabungan antara Tokopedia dan Gojek juga ditindaklanjuti oleh Matahari lewat kemitraan dengan Go To sehingga melahirkan layanan Go Mart.

Akankah moved on Hero dan Matahari akan berhasil?.

Tidak ada yang bisa menjamin keberhasilan itu. Namun strategi gerai-gerai kecil terbukti berhasil sebagaimana ditunjukkan oleh indomaret dan alfamart.

Sedangkan penjualan online baik melalui chat & shop dan marketplace dibuktikan berhasil oleh jaringan freshmart.

Membangun gerai-gerai kecil dan melakukan penjualan online akan membuat lebih adaptif karena data-data pelanggan lebih mudah dibaca dan dianalisa. Gerakan atau kecenderungan pelanggan dengan mudah diantisipasi dan kemudian dihadapi dengan berbagai program pemasaran.

Ada banyak perusahaan dan pengusaha yang saat ini menolak untuk moved on, mereka terus menerus mengais-ngais sumber yang sudah kering dan berharap ada keajaiban.

Selalu berpikir bahwa menutup artinya bangkrut.

{ baca juga : Berita Tipu Tipu Yang Memperdaya }

note : sumber gambar – cnbc indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here