Pada suatu masa, saya pernah dijuluki manusia 1 persen. Muasalnya adalah dari kisah, cerita atau apapun yang saya tuturkan. Menurut teman-teman sepergaulan  99% dari apa yang saya tuturkan adalah karangan, bukan fakta.

Untungnya sebutan 1 persen itu bukan berarti “kepercayaan botak”. Sehingga tak membuat mereka yang menyebut saya manusia 1 persen menganggap saya pembohong.

Jadi 1 persen kebenaran ternyata tetap membuat teman saya percaya dan menganggap 99 persen lainnya adalah imajinasi, kreasi, narasi yang menyakinkan.

Dalam peradaban manusia 1 persen memang menentukan. Dilihat dari DNA-nya, 99 persen DNA kita sama dengan simpanse dan bonobo yang suka jingkrak-jingkrak di dalam hutan.

Konon 70 ribu tahun yang lalu nenek moyang kita sama kelakuannya  dengan kedua kera besar itu. Sama-sama suka bergelantungan di pohon, sama-sama nggak malu bercumbu di depan yang lainnya.

Dan 70 ribu tahun kemudian, manusia dengan 1 persennya mampu meninggalkan simpanse dan bonobo yang masih tetap telanjang dan jingkrak-jingkrak di hutan.

1 persen itu adalah imajinasi, kemampuan manusia untuk membuat cerita. Mulai dari cerita tentang dirinya, asal usul dan penyebab segala sesuatu.

Dari semua cerita, kisah, narasi itu kemudian muncullah pengetahuan yang menjadi pedoman.

Mulai dari pengetahuan tradisional hingga kemudian berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang didasari dengan riset. 

Ilmu positif ini kemudian membuat manusia semakin jauh meninggalkan kedua saudara sepupunya. Mampu membangun gedung bertingkat, membuat pesawat, pergi hingga keluar angkasa, berhubungan satu sama lain dengan tatap muka meski jaraknya berjauhan, membuat senjata pembunuh sehingga menjadi mahkluk terkuat dan menemukan obat-obatan untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

Ternyata 1 persen saja bisa membuat perbedaan 360 derajat.

Dokumentasi

Kelebihan manusia terpelihara karena dokumentasi. Apa yang dibayangkan, dipikirkan dan dilakukan didokumentasikan. 

Ketika belum mengenal tulisan, pengawetan dilakukan melalui gambar dan coretan di dinding-dinding gua.

Baru kemudian setelah mulai menyepakati aksara, dokumentasi fakta dan fiksi dibuat dalam bentuk buku yang berkembang mulai dari  lembar kulit kayu, kulit binatang, daun lontar, papirus dan lain sebagainya 

Menulis kemudian menjadi kunci bagaimana manusia memelihara dan membangun peradaban.

Perkembangan teknologi membuat dokumentasi menjadi semakin mudah dan beragam.

Selain tulisan,. foto dan video kini menjadi alat dokumentasi yang lebih favorit.

Digitasi juga membuat dokumentasi lebih mudah. Di internet ada aplikasi baik berupa ruang media sosial maupun drive dan cloud untuk berbagi dan menyimpan dokumentasi yang bisa diakses kapan saja, dimana saja dan oleh siapa saja.

Sayangnya di internet kerap beredar baik sengaja maupun tidak dokumentasi kelakuan, pikiran dan perkataan yang tidak baik.

Jumlahnya sebenarnya tidak banyak, tapi yang sedikit itu kemudian bikin heboh. Merebut ruang perbincangan, membuat jempol gatal untuk membagikan.

Barangkali yang mengacau dan merancau di ruang digital jumlahnya hanya 1 persen.

Namun 1 persen ini kemudian menjadi viral. Akibatnya ada sangka bahwa ruang digital ini hanya itu semua.

Hari ini jagat maya dihebohkan dengan sebuah postingan, besok postingan diributkan, esoknya lagi postingan dilaporkan dan berikutnya yang memposting diperiksa atau ditangkap oleh polisi.

1 persen selain bisa menghasilkan perbedaan besar ternyata juga bisa membuat dunia jungkir balik dalam kehebohan.