Sewaktu di Manado dulu, saya paling suka kalau hari Minggu diajak piknik oleh para kaum bapa. Yang disebut dengan piknik adalah ramai-ramai pergi ke kebun untuk masak-masak disana. Kebun yang umumnya ditumbuhi pohon kelapa itu biasanya mempunyai pondok atau rumah kebun. Di sela-sela antara pohon kelapa akan ditanami aneka tanaman baik yang menghasilkan umbi-umbian, dedaunan untuk sayur dan lain sebagainya.
Memasak di kebun sungguh asyik, meski peralatan dapurnya tak selengkap di rumah dan demikian pula dengan bumbu-bumbunya. Nasi yang dimasak di kebun adalah nasi bungkus, dibungkus dengan daun tumbuhan yang disebut dengan daun nasi yang biasanya ditanam di pinggir kebun. Bumbu-bumbu sering dibilang rumpu-rumpu (rumput rumput), yaitu berbagai dedaunan dari aneka tumbuhan yang ada di kebun.
Dan lauk utama adalah ayam atau ikan yang dipelihara di kebun itu. Jenis masakannya tak jauh dari rica-rica dan woku. Akan lebih nikmat jika tidak dimasak di belanga melainkan dalam bambu. Di kebun biasanya juga ditanam pohon buluh nasi. Bambu yang tidak terlalu besar namun beruas panjang.
Dengan semua yang ada di kebun atau alam, masakan yang dihasilkan dengan peralatan sederhana ternyata jauh lebih nikmat. Kenapa terasa lebih nikmat?. Karena semua bahan yang dipakai masih segar, baru dipetik, tidak disimpan dalam kotak pendingin.
Kyakinan bahwa yang masih hidup atau masih segar jauh lebih nikmat diyakini oleh para nelayan penangkap ikan Salmon dari Jepang. Mereka pergi menangkap ikan sampai ke daerah yang jauh, melintasi negara lainnya. Agar ikan yang ditangkap tetap hidup maka mereka melengkapi kapalnya dengan bak air (kontainer) untuk menyimpan ikan yang ditangkap agar tetap hidup.
Namun ketika sampai di pelabuhan Jepang ikan yang mereka tangkap hidup-hidup dan disimpan di bak air ternyata banyak yang mati. Pun ketika sudah diberi pompa untuk mengalirkan udara dan diberi pakan. Mereka terus mencari cara agar ikan tetap hidup namun berbagai inovasi yang dilakukan belum membuahkan hasil.
Dan tanpa sengaja ada sebuah kapal yang merapat dengan ikan tangkapan yang kebanyakan masih hidup. Tentu saja kejadian itu mengemparkan dan mereka berusaha mencari jawabnya. Di bak air yang berisi ikan Salmon yang masih hidup itu ternyata ada ikan hiu kecil. Rupanya keberadaan ikan hiu yang badannya kecil sehingga tak mungkin memangsa itu membuat ikan Salmon ketakutan. Karena takut ikan-ikan Salmon itu terus bergerak dan tetap hidup. Salmon bergerak karena begitu Hiu mendekat mereka akan menjauh, mengambil jarak dengan hiu, bergerak terus untuk menghindar.
Kekhawatiran, tantangan dan tekanan bahaya ternyata justru menimbulkan daya gerak untuk bertahan. Semakin besar ancaman akan membuat usaha untuk bertahan hidup menjadi semakin gigih.
Sama seperti manusia, dimana gairah hidup akan meledak jika diberi tantangan. Tantangan akan memacu adrenalin yang membuat seseorang akan berusaha untuk menahklukkan, mengatasi persoalan. Karena gerakan atau aktivitas untuk mengatasi tantangan maka seseorang tetap survive.
Tak mengherankan jika kemudian banyak orang meninggalkan zona nyaman. Kedudukan yang tinggi, penghasilan besar, ekonomi yang mapan untuk memulai sesuatu dari nol, sesuatu yang mungkin tidak memberikan penghasilan sebesar sebelumnya, namun lebih memberi tantangan yang membuat orang terpacu untuk membuktikan diri. Menunjukkan eksistensinya.
Ada hukum batu di alam yang menyebutkan siapa yang terkuat dia yang bertahan. Yang disebut terkuat bukan berarti terbesar, tenaganya paling lebih, paling pintar, paling berkuasa. Yang disebut terkuat adalah yang paling punya semangat, punya kemauan, gigih, teguh, berhasil menemukan cara kreatif dan inovatif untuk menghadapi tantangan, keluar dari kesulitan atau bahkan bertahan dalam kekurangan hingga kemudian keluar sebagai pemenang, bertahan dan tidak punah mengarungi peradaban.
Maka lahirlah paradoks, pemenang adalah orang-orang kalah yang tidak menyerah. Kemenangan adalah rangkaian kekalahan-kekalahan. Keberhasilan adalah puncak dari deretan kegagalan. Konon semakin biasa terluka seseorang akan menjadi perkasa.
Tantangan adalah energi dan masalah adalah nutrisi hidup. Dengan tidak menghindari masalah dan menolak tantangan seseorang akan menyempurnakan hidupnya, hidup sungguh hidup.
Hanya saja yang perlu dihindarkan adalah membuat masalah dan menantang-nantang orang lain. Jangan sampai kita hidup karena menjadi masalah bagi orang lain, petentang-petenteng kesana kemari sehingga menimbulkan ketakutan yang tidak perlu pada orang lainnya.
Dan jangan lupa, agar hidup makin sempurna, sederhanakanlah hidup dengan memakan makanan segar, bukan makanan instan, awetan dan dibekukan. Yakinlah, sayur mayur, aneka bumbu dari kebun dan buah-buahan yang dijual di pasar malam jauh lebih segar serta sehat ketimbang yang dijual di pasar swalayan meski penampilannya kalah cantik.
Dengan membeli sayur dan buah-buah di pasar malam kita bukan hanya menyegarkan dan menghidupkan diri kita tetapi juga membantu kehidupan orang lainnya. Mereka yang masih bertekun memanfaatkan alam secara berkelanjutan.
kredit foto : Brooke Lark – unsplash.com








