Sesuai ramalan BMKG.tentang cuaca ekstrim berlatar La Nina, Samarinda kemarin hujan.

Hasilnya terjadi genangan di mana-mana dan ada yang bertahan hingga hari ini. 

Bukan sedikit upaya pemerintah kota Samarinda untuk mengatasi banjir utamanya di tahun akhir Walikota yang sukses menjabat selama 4 periode. 2 periode sebagai wakil walikota dan 2 periode sebagai walikota.

Masalah di sungai Karang Mulus yang digadang-gadang selama puluhan tahun berhasil dieksekusi. 

Tapi hujan kemarin menunjukkan bahwa problem banjir bukan semata-mata di sungai Karang Mumus.

Problemnya ada pada DAS atau Daerah Aliran Sungai. Dan Samarinda mempunyai banyak sub DAS dan sub-sub DAS. Yang sebagian besar terlupakan.

Terlupakan karena bentang alamnya berubah banyak, tidak berkesesuaian dengan air yang salah satunya ditandai dengan hilangnya sungai yang kemudian hanya menjadi nama sebuah wilayah.

Tapi sudahlah yang namanya terpeleset ke lubang yang sama itu memang biasa.

Bahkan negeri yang paling ternama dalam demokrasi sekalipun bisa juga terpeleset.

Contohnya Amerika Serikat.yanh sudah ratusan kali melaksanakan pemilu presiden. Mestinya dengan tradisi panjang politik demokrasi, Amerika Serikat paham soal kepatuhan pada hukum dan konstitusi soal hasil pemungutan suara.

Tapi justru dimotori oleh Presiden petahana yang kalah, pendukungnya diprovokasi untuk menduduki gedung MPR (Capitol) tempat pengesahan hasil pemilihan umum yang sebelumnya telah disahkan oleh negara-negara bagian.

Politik Pengusaha Hiburan

Bisa dipastikan tidak ada pemilu yang benar-benar bersih. Namun hasilnya harus diterima apabila sudah disahkan oleh pelaksana pemilu.

Memang masih terbuka untuk menggugat di pengadilan. Dan apabila sudah dilakukan maka putusan pengadilan adalah yang terakhir, tidak bisa disengketakan ulang untuk memberi kepastian final.

Dan upaya untuk melakukan gugatan sudah dilakukan oleh Donald Trump dan para pengikutnya. Semua ditolak oleh pengadilan. 

Tapi Trump yakin pemilu Amerika Serikat curang dan hasilnya harus ditolak. 

Keyakinan itu terus dikobarkan meski jalan konstitusi sudah tertutup. Maka tak ada jalan selain memaksakan kehendak dengan mengerahkan massa yang kebetulan memang banyak.

Dan dimana pun yang namanya massa siap bergerak memang banyak. Kumpulan massa yang bergerak karena keyakinan memang bisa jadi senjata yang mematikan.

Sayang yang dilawan adalah konstitusi. Dan perlawanan pada kosntitusi pasti akan dihadapi oleh aparatur yang punya kewenangan memukul mundur termasuk dengan menggunakan senjata api.

Main gertak dan terus menggerutu memang merupakan gaya Trump, gaya pengusaha dunia hiburan yang kemudian terjun ke politik.

Merasa sukses menaklukkan Amerika Serikat tanpa latar belakang politik yang panjang, Trump jumawa.

Selebritasnya terus digelorakan untuk mempengaruhi orang-orang. Dia lupa bahwa presiden adalah pemimpin negera yang mesti mengutamakan nama negerinya ketimbang kepentingan dirinya sendiri.

Untung Amerika Serikat terpeleset satu kali karena memilih Trump sebagai presiden.

Bayangkan andai dia terpilih kembali, aneka keributan pasti akan terus terjadi. 

Dan karena itu terjadi di Amerika Serikat maka keributan yang ditimbulkan oleh presidennya pasti akan jadi perbincangan di seluruh dunia. 

Tidak seperti banjir di Samarinda yang orang Samarinda sendiri sudah enggan untuk memperbincangkannya. 

Apapun status tentang banjir, yang membacanya akan berkomentar ‘Semoga cepat surut’.

Sumber gambar : tekno.sindonews.com