Lompatan sejarah peradaban manusia perdana sehingga mampu meninggalkan dunia ‘hewaniah’ adalah ketika mampu melakukan domestifikasi pada api. Manusia menjadi satu-satunya mahkluk hidup di muka bumi yang mampu menguasai dan menggunakan api untuk berbagai keperluan. Kemampuan manusia mengendalikan api menjadikan manusia menjadi mahkluk terkuat meski kekuatan fisiknya terbatas.

Di tangan manusia api menjadi sumberdaya yang bisa digunakan untuk berbagai macam hal termasuk salah satunya adalah memasak sehingga makanan menjadi lebih enak dan lebih mudah dicerna.

Lompatan sejarah berikutnya yang semakin membuat manusia makin jauh melampaui tumbuhan dan binatang adalah ketika manusia mulai mengembangkan permukiman menetap serta melakukan domestifikasi pada tumbuhan dan binatang. Revolusi agriculture ini menjadikan manusia yang adalah pengelana, pemburu dan peramu kemudian menjadi mahkluk pembudidaya (tanaman pangan dan ternak serta peliharaan).

Lingkungan sungai dan badan air lainnya adalah salah satu yang dipakai oleh manusia dalam kelompok hingga kemudian membentuk masyarakat. Daerah sekitar sungai adalah salah satu lingkungan yang paling di pilih oleh kelompok masyarakat untuk mengembangkan peradabannya. Daerah dataran banjir merupakan lokasi yang ideal untuk bercocok tanam. Lahan ang sering digenangi air saat musim hujan ini kemudian dikembangkan menjadi pertanian lahan basah.

Sementara itu untuk kebutuhan protein dipenuhi dari menangkap ikan, udang dan jenis tangkapan lain di sungai serta hutan di sekitar sungai. Namun kebutuhan protein juga dipenuhi dengan cara berternak binatang tertentu seperti unggas, kambing, kerbau dan lain sebagainya.

Untuk permukiman umumnya masyarakat pinggiran sungai dan badan air lainnya mengembangkan rumah panggung. Tinggi rendahnya tiang rumah tergantung dari ingatan ketinggian air yang biasa mengenangi permukaan daratan tempat mereka tinggal. Dari rumah ke rumah dihubungkan dengan jalan seperti jembatan.

Alur sungai kemudian juga menjadi jalur penghubung antara kelompok masyarakat yang satu dengan yang lainnya. Hubungan dilakukan dengan moda transportasi air yaitu perahu. Teknologi transportasi air berkembang seiring dengan perkembangan ekonomi dimana terjadi pertukaran barang atau produksi antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Mulailah tumbuh pusat-pusat perekonomian di tepian sungai.

Kebudayaan terkait dengan air juga mulai bertumbuh. Nama-nama permukiman dinamai dalam hubungannya dengan air. Di Kalimantan Timur misalnya kita mengenal sebutan atau nama daerah yang berhubungan dengan air atau sungai seperti Nehas, Long, Lung, Loa, Luah, Lok, Tepian, Muara, Tanjung, Teluk, Sei, Kedang, Karang dan sebagainya.

Kebudayaan yang bermula dari adaptasi masyarakat pada air kemudian terus berkembang dengan munculnya permukiman-permukiman yang semakin ramai, beberapa tumbuh menjadi kota, kota pelabuhan atau bandar.

Menjadi jelas bahwa perjalanan sejarah manusia mencatatkan fungsi dan arti air sangat penting untuk membangun kebudayaan dan peradaban. Seluruh peradaban tertua dan terbesar manusia di dunia ini pada awalanya dibangun dari sumberdaya air. Air yang membasahi wilayah atau tanah menjadikan lahan tersebut menjadi subur sehingga mengundang manusia yang awalnya hidup berpindah-pindah tempat atau nomaden kemudian mulai hidup menetap, bercocok tanam, memelihara hewan ternak dan peliharaan dan membangun peradaban.

Peradaban Mesopotamia tumbuh dan berkembang diantara sungai Efrat dan Tigris. Air dari kedua sungai itu dimanfaatkan untuk keperluan irigasi. Dari Mesopotamia lahir kerajaan besar yaitu Babylonia.

Di tepi sungai Nil berkembang peradaban Mesir Kuno yang mampu membangun Piramida yang tetap kokoh berdiri hingga sekarang. Di Sungai Indus tumbuh peradaban India Kuno. Sedangkan di lembah sungai Yangtze berkembang kebudayaan Neopolitik Cina.

Di wilayah Nusantara, kerajaan-kerajaan besar umumnya berdiri di dekat sungai yang terbubung dengan laut seperti kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Singhamandawa dan Kutai Kartanegara yang sejak semula berdiri di tepi Sungai Mahakam.

Keraton Yogyakarta juga diapit oleh dua sungai yaitu sungai Code dan Winongo. Di lingkungan keraton juga dibangun taman air yang disebut Taman Sari.

Air sungai di masa itu adalah air yang bisa diminum langsung oleh warga. Kenyataan yang mungkin saja mengherankan bagi mereka yang datang dari luar. Sumber air pada saat itu adalah mata air, yang kemudian alirnya mengalir ke sungai-sungai.

Dengan jumlah sungai melebihi angka 5000, Indonesia menjadi salah satu negara yang sebagian besar peradabannya dibangun atau muncul dari bantaran sungai. Tapia pa yang terjadi dengan sungai pada hari ini?. Sebagian besar sungai telah kehilangan wajah aslinya, sebagian besar sungai telah rusak. Kita tak lagi memuliakan sungai.

Di Kota Samarinda, Sungai Karangmumus adalah salah satu sungai yang airnya masih dimanfaatkan secara langsung oleh warga untuk kepentingan domestik. Air Sungai Karangmumus juga merupakan sumber air baku yang diolah oleh PDAM menjadi air bersih untuk didistribusikan ke rumah-rumah warga. Namun berapa banyak tinja yang dibuang langsung ke sungai itu setiap harinya?. Tentu saja selain tinja yang dibuang ke Sungai Karangmumus adalah urine, limbah dan sampah domestik, residu pupuk dan pestisida, limbah industri bahkan limbah medik.

Maka tak usah tercenggang jika hasil pemantauan kualitas air di sebagian besar sungai umumnya berstatus tercemar berat. Kondisi ini relatif terus bertahan selama bertahun-tahun, sangat sedikit sungai yang kemudian mencatatkan kualitas air yang makin membaik.

Setelah bermukim sebagai komunitas yang menetap, manusia mulai mengembangkan teknologi. Pengetahuan dan teknologi manusia berhasil melampaui apa yang disediakan secara langsung oleh alam. Manusia kemudian bukan hanya menjadi konsumen melainkan juga produsen.

Apa yang dulu dimanfaatkan secara langsung kemudian menjadi bahan baku atau bahan mentah untuk dikembangkan menjadi material atau produk yang tidak bisa disediakan oleh alam.

Pada fase ini kemudian sumber daya alam diekploitasi untuk menghasilkan produk-produk industri atau pengolahan. Keterbatasan transportasi air kemudian diatasi dengan perkembangan pesat moda transportasi darat. Fungsi sungai sebagai alur transportasi kemudian semakin tergantikan oleh jalan raya.

Jalan raya kemudian menjadi kiblat baru yang membuat masyarakat kemudian merubah arah hadap hidup. Rumah kemudian menghadap ke jalan raya dan membelakangi sungai.

Perubahan orientasi kehidupan (arah hadap hidup) membuat sungai semakin terlupakan meski kemanfaatannya sebagai sumber air bersih masih besar. Sungai tak lagi dimuliakan, yang menurun bukan hanya kualitasnya melainkan juga kuantitasnya. Banyak anak sungai hilang atau bertahan hanya sebagai parit, saluran pembuangan limbah. Selain itu sungai juga kehilangan kontinuitas airnya. Sungai kerap berada dalam kondisi ektrim, kelebihan air di musim hujan dan kehilangan air di musim kemarau.

Jasa besar sungai dalam membangun peradaban besar kemudian hanya menjadi kisah dan cerita sejarah yang hanya indah untuk didengarkan. Imaji kita tentang sungai yang indahpun kemudian berubah. Kita tak lagi beradaptasi pada dinamika dan ekosistem sungai melainkan justru ‘mendadani’ sungai sesuai dengan nalar kepentingan kita sendiri, hasil studi tiru di negeri atau daerah lain. Kita lupa bahwa sungai adalah air kehidupan, air yang menghidupkan bukan hanya kita manusia melainkan juga mahkluk hidup lainnya yang sebagian diantaranya tak bisa kita lihat dengan mata telanjang.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here