Terlahir di desa yang terletak di Jawa Tengah bagian selatan membuat saya akrab dengan kerbau, kambing dan bebek. Sesekali kali saya juga bertemu dengan sapi yang dipakai untuk menarik gerobak. Pada saat liburan ke tempat Mbah, Pak De dan Pak Lik, saya akan bermain dengan kuda tunggangan. Sementara itu babi adalah binatang yang asing buat saya. Saya tahu di ibukota kabupaten, di ruas jalan dekat jembatan yang ‘menceng’ ada lapak penjual babi seminggu sekali dan berjualan pagi-pagi sekali. Tapi yang terlihat hanyalah potongan daging di atas meja. Jadi melihat babi saja tak pernah, apalagi makan.

Sesekali kalau bapak bepergian ke Salatiga, pulangnya kerap membawa ‘dendeng celeng’, daging asap yang alot itu berasal dari binatang yang bersaudara dengan babi. celeng adalah babi liar, babi hutan yang saya juga tak tahu seperti apa bentuknya. Namun sejak jaman dahulu, celeng selalu diburu karena dianggap sebagai hama, musuh para petani di tanah pertaniah yang terletak di pinggiran hutan.

Pertama saya melihat Babi terjadi di salah satu Kolese, sekolahan menengah yang dikelola pastor-pastor Jesuit di Mertoyudan Magelang. Di bagian belakang sekolah berasrama itu terdapat kandang babi yang cukup luas. Di kandang itulah saya untuk pertama kali melihat ‘Babi Bule’, beberapa besarnya hampir sama dengan luas kandangnya, saking besarnya babi itu tak lagi mampu lama-lama berdiri. “Ternyata Babi bisa sebesar Kerbau”, begitu ucap saya dalam benak sendiri. Di blok kandang lain saya melihat babi yang masih kecil-kecil, dengan kulit kemerahan dan bersih, babi-babi itu terlihat lucu.

Mengingat pengalaman masa kecil itu, maka saya jadi paham ketika sebuah program infotainment menayangkan ulang tahun Donita, pemain sinetron yang melambung namanya pada serial Cinta Fitri. Kue ulang tahun Donita yang super besar dihiasi dengan boneka-boneka babi berwarna pink sebanyak umurnya. Menurut manajernya, Donita memang amat mengemari boneka babi karena dianggap lucu. Namun yang pasti Donita tak makan babi, karena dia adalah seorang Muslimah.

Kelak saya selama setahun mengecap pendidikan di kolese yang ada di Mertoyudan itu. Dengan demikian setiap hari selalu mendengar ‘teriakkan’ babi-babi yang memang suka ribut kalau terlambat di beri makan. Kandang babi menjadi langganan untuk saya sambangi kala ‘bete’, ketika hati gundah melihat-lihat babi terutama yang munggil-munggil bisa menjadi obat yang mujarab.

Setelah menyelesaikan kursus satu tahun di Mertoyudan itu, kemudian saya berlayar ke Sulawesi Utara. Disinilah saya menjadi akrab dengan Babi, bukan hanya di mata tapi juga di mulut. Di Sulawesi inilah saya mulai mencicipi masakan berbahan dasar daging Babi. Ada babi kecap, babi rica-rica, babi cuka, tinorangsak, loba dan ragey yang adalah sate babi dengan irisan besar-besar. Banyak masakkan Minahasa, Manado yang lebih terasa sedap apabila diberi tambahan daging atau tawa’ (lemak) Babi. Salah satunya adalah Pangi, irisan daun kluwak muda yang dimasak dalam bambu. Sepintas Pangi kelihatan seperti tembakau susur saat disajikan.

Ada juga Mi Ba’ yang penjualnya banyak ditemui di sekitar jalan Garuda Manado, makanan berkuah lain yang kerap dicampur dengan daging babi adalah sup kacang merah atau brenebon. Beberapa tahun belakangan ini juga populer soto rusuk babi, yang bisa dijumpai di bilangan Sario Manado. Konon rusuk babi, bahan soto yang ternama itu adalah hasil import dari Jepang. Namun di luar semua itu yang paling istimewa adalah babi guling. Prestise dari seseorang atau keluarga yang mengadakan sebuah acara bisa dilihat dari berapa buah babi guling yang tersaji di atas meja jamuan.

Pada saat hari libur, saya juga kerap ikut dengan ‘Kaum Bapa’ membuat acara piknik yang biasanya diselenggarakan di sekitar Sabua yang ada di kebun. Menu utamanya adalah kepala Babi rebus, yang disantap dengan ubi atau pisang Goroho rebus dicocol dengan dabu-dabu iris yang pedas dan asam, karena irisan cabe dicampur dengan irisan tomat dan perasan air ‘Lemong Cui’. Sambil ‘memangsa’ kepala Babi yang telah direbus, kaum bapa terus bernyanyi diiringi gitar sambil sesekali meneguk Saguer, Cap Tikus atau juga Kasegaran yang membuat suasana kian terasa hangat. Terkadang piknik kaum bapa ini keterlaluan, karena dimulai dari pagi dan berakhir di malam hari kala jalan mereka mulai sempoyongan.

Akhirnya suatu waktu, saya harus meninggalkan kota yang membuat saya ‘dekat’ dengan babi itu. Saya berpindah ke kota yang membuat saya dekat dengan debu Batubara. Kota yang sungai maha lebar itu dihiasi dengan hilir mudik rombongan ponton yang berisi gunungan Batubara. Setelah berapa tahun tinggal di negeri Batubara ini saya baru tahu ternyata ada pasar yang menjual daging babi. Suatu saat saya diajak ke Pasar Subuh yang berada tak jauh dari Pelabuhan. Pasar yang tersembunyi dalam gang sempit itu ternyata di dalamnya banyak lapak yang menjual daging babi. Kembali saya melihat kepala babi di atas meja menunggu pembeli. Dan ternyata bukan hanya daging babi yang dijual disana melainkan juga anjing, biawak, ular, bulus, penyu dan sebagainya. Kini sesekali saya menyambangi Pasar Subuh itu untuk membeli sekerat daging babi, yang tentu akan saya masak sendiri dengan pengetahuan terbatas yang saya pelajari ketika di Manado dulu.

Namun ketika saya malas memasak, ada juga warung atau kios yang bisa disambangi. Ada rumah makan Manado di dekat Bank Tabungan Negara tak jauh dari pinggiran sungai. Di rumah makan itu tersaji berbagai jenis masakan Manado berbahan daging babi dan RW. DI hari minggu rumah makan itu juga menjual Tinutuan, bubur Manado yang fenomenal serta bakpao ba’ atau biapong. Jenis masakan serupa namun dengan citarasa yang berbeda juga bisa saya temui di ujung Jalan Sei Barito, disana ada rumah makan Dayak Ngaju yang kini berganti nama menjadi Dayak Mahakam.

Kerap kali saya juga rindu dengan masakan Manado yang tidak berbahan daging babi atau bnjing. Beruntung tak jauh dari RS. Dirgahayu ada rumah makan ‘Syallom’. Disitu saya bisa menemui masakan ikang woku belanga, ayam rica-rica, bebek rica, sayur campur dan sayur pahit yang diberi suwiran daging ikan cakalang.

Bercerita tentang makanan membuat perut saya terasa lapar, tapi saya tak akan mengajak bapak, ibu, saudara-saudari sekalian untuk memakan daging babi. Persoalannya tidak semua orang diperkenankan memakannya, entah karena alasan ajaran iman maupun kesehatan. Tapi baik yang diperkenankan makan maupun tidak rasanya akan sepakat kalau babi itu lucu.

Iya kan ..Bab …eh… Beib.

kredit foto : Christopher Carson – unsplash.com

artikel pernah dimuat di kompasiana tahun 2013

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here