KESAH.IDCoba-coba ngerokok di sekolah itu sebuah permainan yang berbahaya. Masalahnya aroma rokok di area bebas rokok mudah untuk ketahuan. Dan kalau sampai guru memergoki siswanya merokok jarang yang emosinya nggak langsung naik. Ditampar guru karena merokok di sekolah mungkin hukuman yang sepadan. Tapi jaman telah berubah, menampar siswa apapun alasannya tetap salah dan bisa memancing solidaritas antar siswa yang mungkin tidak tepat dan malah bikin keadaan jadi semakin memiriskan.

Coba-coba merokok di sekolah itu seperti petualangan untuk menimba adrenalin, main petak umpet tanpa sembunyi, menantang tapi penuh risiko. Saya dan teman-teman pernah coba-coba ini waktu SMA. Biasanya kami memilih spot pojok belakang sekolah, daerah sepi alias jarang dilewati guru maupun murid lain. Sebenarnya tak ada tempat yang aman, tapi kami sok yakin saja kalau tempat yang kami pilih itu aman tanpa pengintaian.

Tapi yang nggak kami sadari, sekolah kami itu dikelilingi pagar dan steril dari rokok. Jadi aslinya tak aman. Aroma asap rokok itu nyebar kayak gosip di warung kopi. Yang punya indera penciuman tajam bisa langsung ngeh dan lapor ke guru BP atau kepala sekolah.

Pas pus pus pus, kami hisap rokok dengan penuh kebahagiaan—obrolan lancar, canda tawa bertebaran. Tiba-tiba, “Suster!” teriak salah satu teman, yang jeli kayak detektif swasta. “Suster” di sini bukan suster biasa, melainkan kepala sekolahyang terkenal galak. Suaranya saat menghardik cukup untuk membuat jantung serasa mau copot.

Rokok yang dipegang langsung dijatuhkan ke lantai karena nggak mungkin dibuang lewat pagar yang tinggi. Disinilah momen epik terjadi—rokoknya ditindih pake telapak tangan sambil angkat turun badan macam push-up dadakan. Pura-pura push up yang sebenarnya sia-sia.

Sebab, bau asap rokok susah segera dihilangkan. Tapi yang terpenting, kami gak ketahuan saat masih mengebulkan asap. Kalau tertangkap basah pasti lebih gawat.

Omelan suster langsung meletus. Walau tak memergoki dan menangkap tangan, tapi suster tahu kalau saya dan teman-teman merokok.

Untungnya, suster yang galak itu nggak pernah pake cara fisik kalau marah. Kalau sampai ditempeleng oleh suster, mungkin kami akan memberikan kedua pipi untuk ditampar, asalkan suster tak memanggil orang tua ke sekolah. Dulu, kalau sampai orang tua dipanggil gara-gara anak nakal di sekolah, orang tua nggak akan marah ke guru, melainkan murka kepada anaknya. Di rumah, si anak bukan hanya ditampar melainkan digampar.

Beruntung kalimat sakti suster  tak keluar waktu itu: “Kami nggak ngajak kalian sekolah di sini kalau nggak bisa ikut aturan, silakan keluar!”  Itu kalimat yang paling kami takuti dari suster kepala sekolah karena bisa berakhir dengan dikeluarkan dari sekolah.

Akhirnya suster menyuruh kami bubar. Kami langsung ambil langkah seribu tanpa ba bi bu. Teman yang menekan rokok sambil push-up palsu juga ikut bangkit. Rokok masih menempel di telapak tangannya. Saat dicabut untuk dibuang ke kotak sampah, terlihat telapak tangannya memutih dan terkupas, perihnya nggak sembuh berhari-hari.

Sesi ngebul di sekolah itu jadi percobaan pertama dan terakhir kami. Terlalu besar taruhannya, terlalu berisiko buat sekadar menikmati asap.

BACA JUGA : Menulis Lucu

Sejak SMA, saya memang mulai merokok. Biasanya cuma satu batang waktu perjalanan ke sekolah, dan sebatang lagi waktu nongkrong di warung samping depan sekolah kalau datang kecepatan. Pulang sekolahkembali satu dua batang, tergantung sisa uang jajan dan transport.

Anak sekolah coba-coba ngebul di sekolah itu udah jadi ritual dari jaman dulu. Yang kena tampar atau kena hukuman guru juga banyak. Tapi dulu kalau kena tampar guru, jarang berani ngadu ke orang tua. Soalnya kalau ngadu, malah bisa tambah kena tinju di rumah. “Bikin malu orang tua” adalah kalimat makan ati banget dari bapak-ibu di rumah kalau kami bikin salah di sekolah.

Dulu masyarakat agak maklum kalau guru suka mendidik dengan cara keras. Bagi orang tua, yang terpenting anaknya jadi disiplin. Jaman sekarang? Keras dikit dikira bullying, lalu resiko trauma dibesar-besarkan.

Maka, kalau guru sampai tampar murid, bisa heboh 7 turunan. Orang tua kadang bawa-bawa polisi sampai minta ganti rugi. Padahal masalahnya tak segawat aksi kriminal.

Baru-baru ini ada kejadian murid ketahuan merokok, kepala sekolah main tampar. Murid marah, orang tua ikut-ikutan tak terima, bahkan teman-temannya ikutan demo minta kepala sekolah dicopot. Solidaritas antar pelajar patut diacungi jempol, walau kalau ditelisik lebih jauh malah ironis. Karena tak ada ancaman mogok dari siswa tatkala banyak sesama pelajar keracunan makanan dalam program MBG.

Masalahnya, kepala sekolah pasti punya alasan untuk menegaskan kalau sekolah adalah area bebas asap rokok, dan murid apapun alasannya tidak dibenarkan merokok di sekolah. Merokok di sekolah jelas pelanggaran dobel. Maka wajar kalau Kepala Sekolah murka, walau ekpresi murkanya dengan menampar tak bisa dibenarkan.

Intinya, kepala sekolah dan siswa sama-sama perlu ditegur. Karena keduanya punya kesalahan yang layak dikasih hukuman.

BACA JUGA : Otak Palsu

Sebagai perokok, saya gak pernah menyangkal kalau rokok itu bermasalah. Merokok memang bukan kegiatan yang seharusnya tidak dikagumi atau dibela-bela. Maka saya juga nggak pernah mencari  pembenaran, atau omong kosong untuk membenarkan kebiasaan saya merokok. Saya merokok karena suka dan kebiasaan. Soal risikonya, saya paham tapi ya itu, pengetahuan gak selalu bikin orang berubah.

Buktinya, pejabat tahu korupsi salah tapi tetep aja nyari celah buat korupsi. Sama aja kan?.

Pemerintah jelas terus berusaha mengurangi perokok dengan berbagai aturan dan pembatasan.  Seperti iklan dan sponsorship dari perusahaan rokok. Tapi jumlah perokok kayaknya susah banget nyusut. Gambar ngeri di bungkus rokok? Nggak terlalu ngaruh, malah bikin kita makin penasaran seperti nonton film horor.

Menteri Keuangan yang baru akhirnya ngomong bijak: harga rokok jangan dinaikan lagi secara ekstrim. Prioritasnya adalah membasmi rokok ilegal dulu. Soalnya, rokok mahal bukan bikin orang berhenti, tapi beli rokok murah, rokok ilegal yang cukainya abal-abal.

Rokok ilegal ini katanya nguasain hampir 40% pasar. Pemerintah rugi cukai segede APBD Jakarta, tapi perokok masih sama aja, bahkan perokok baru tetap hadir tanpa kaderisasi.

Kalau harga rokok makin mahal dan perokok protes dengan aksi mogok merokok? Waduh, negara bisa goyang!

Kalau para perokok mogok, Menteri Kesehatan mungkin senang. Tapi Menteri Pertanian, Tenaga Kerja, Perdagangan, dan Polhukam bakal kelam dan kusam aura wajahnya.

note : sumber gambar – HELLOSEHAT