KESAH.ID – Mahakam memang membuat rindu. Bukan hanya karena minum airnya lalu membuat ingin kembali lagi ke Samarinda seperti mitos jaman bahari. Tapi sungai sepanjang 920 km yang bermuara di Selat Makassar ini memang menyimpan pesona, mulai dari pesona sejarah budaya hingga keanekaragaman hayatinya. Maka Sungai Mahakam bukan hanya dirindukan karena aliran dan airnya, tetapi juga ikatan nilai, spitual dan kehidupan yang sangat kuat bagi masyarakat Samarinda, dan daerah lain disepanjang alirannya. Rindu Samarinda, sering berarti rindu Mahakam yang kala hari mulai temaran, pendar lampu dari permukaan airnya sungguh menenangkan.
Jangan minum air Sungai Mahakam kalau datang ke Samarinda jika tak ingin dibuat rindu ketika sudah meninggalkannya. Ya itu kepercayaan lama, unik dan penuh makna.
Ada keyakinan barang siapa meminum air Mahakam maka akan kembali lagi ke Samarinda. Mitos lokal ini menunjukkan hubungan yang sangat mendalam antara seseorang dengan kota Samarinda ternyata dikaitkan dengan Sungai Mahakam. Ini mengingatkan bahwa untuk Samarinda, Mahakam bukan hanya sebuah aliran sungai, tetapi jiwa Samarinda, ada jejak emosional dan spiritual yang kuat di sungai yang membelah kota Samarinda ini.
Maka meminum air mahakam menjadi metafor untuk menggambarkan perjumpaan dan perpisahan yang kemudian membangkitkan nostalgia dan kerinduan terhadap Samarinda sebagai kota yang penuh kenangan.
BACA JUGA : Pernah Bersama Di Samarinda Tapi Kini Terasa Asing
Nyatanya Sungai Mahakam selain ikonik juga esensial untuk Samarinda. Semua yang ke Samarinda bukan hanya akan minum air Mahakam, tetapi juga mandi dengannya. Karena air Sungai Mahakam adalah sumber air baku untuk air bersih di Kota Samarinda.
Bukan hanya itu, di Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur yang dulunya merupakan wilayah dari Daerah Istimewa Kutai sebelum menjadi provinsi tersendiri ini, kedudukan Sungai Mahakam memang penting.
Sungai sepanjang 920 km ini, menopang kehidupan Kota Samarinda bahkan Provinsi Kalimantan Timur karena transportasi dan perdagangan. Mahakam menjadi urat nadi tranportasi dan perdagangan sejak ratusan tahun lalu. Sungai yang bermuara di Selat Makassar ini adalah saksi paling terpercaya dari arus keluar dan masuk komoditas di wilayah Kalimantan Timur.
Dengan Daerah Aliran Sungai yang maha luas, dipenuhi oleh hutan termasuk hutan tropis basah dataran rendah, Sungai Mahakam juga merupakan gudang keanekaragaman hayati. Aliran sungainya sendiri merupakan habitat bagi mamalia air tawar terbesar yakni Pesut Mahakam. Pesut merupakan salah satu kekayaan ekologis Sungai Mahakam yang paling bernilai.
Untuk masyarakat Kalimantan Timur terutama daerah Mahakam Ulu, Kutai Barat, Kutai Kartanegara dan Samarinda, Sungai Mahakam adalah pembentuk identitas budaya dan tradisi. Ikatan antara masyarakat dengan sungai ini sangat tinggi, menumbuhkan kebudayaan mulai dari kepercayaan, cerita rakyat, mitos, kuliner, arsitektur, alat tangkap dan lain-lain.
Upacara terkait dengan siklus hidup maupun daur musim sering dikaitkan dengan Sungai Mahakam. Salah satu upacara terbesar dalam tradisi Kutai yakni Erau, ditandai dengan Upacara Mengulur Naga yang dilakukan di Sungai Mahakam.
Dan untuk warga Kota Samarinda wilayah tepi Mahakam sering disebut sebagai tepian. Tempat warga melepas penat, menyaksikan kerlap-kerlip lampu yang terpantul pada airnya di malam hari. Pendar dan pantulannya memberi rasa tenang dan juga inspirasi untuk membuka percakapan yang hangat.
Beberapa lokasi wisata kemudian tumbuh di tepian Mahakam, termasuk di dalam alirannya dengan adanya beberapa kapal yang melayani wisata susur sungai. Menyusuri Sungai Mahakam di sepanjang wilayah Kota Samarinda, melewati bawah bentang jembatan panjangnya menjadi pengalaman yang sulit didapatkan di tempat lainnya.
Andai pernah menyusuri Mahakam ke hulu maupun ke hilir hingga menemui muara laut, mungkin itu yang akan lebih membawa kerinduan ketimbang karena meminum airnya. Tapi rindu itu mungkin saja akan terbalas dengan sejenak menepi di tepian Mahakam, tepian yang di Kota Samarinda mulai dibangun taman-taman ikoniknya. Yang terbaru adalah Teras Samarinda yang persis berada di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur.
Tapi dibalik semua memori kerinduan itu terselip keprihatinan yang dalam. Destinasi wisata di Samarinda terus berkembang, hanya saja destinasi wisata lama dan legend seperti Air Terjun Tanah Merah, Air Terjun Berambai dan Air Terjun Pinang Seribu makin merana. Aliran airnya tak lagi penuh pesona, keruh dan pelan karena alih fungsi lahan disekitarnya.
BACA JUGA : Revolusi Trump
Ya, ekploitasi emas hitam, batubara telah merubah wajah Kota Tepian Mahakam yang dulu penuh pesona. Ada banyak lubang dibiarkan dimana-mana, bukit yang dulu menghijau kini hampir rata dan berwarna kecoklatan. Tutupan lahan di perbukitan makin berkurang karena bukit menjadi tujuan pengembangan permukiman akibat dataran Kota Samarinda sering kebanjiran.
Lahan atau ruang terbuka hijau makin berkurang. Ibu Kota Provinsi yang dikenal sebagai Provinsi Rimba ini ternyata kekurangan Ruang Terbuka Hijau dan Hutan Kota. Kota Samarinda kekurangan lahan untuk Ruang Terbuka Hijau karena lahan lebih diutamakan sebagai lahan komersial. Tapi anggapan bahwa kita adalah kota hutan yang mungkin membuat pemerintah tak terlalu serius mengejar target memenuhi atau melewati apa yang ditentukan oleh Undang Undang.
Data terakhir menunjukkan hutan kota di wilayah samarinda luasnya sekitar 380 -an hektar. Dari tahun ke tahun hanya seluas itu. Tapi yang diklaim sebagai Hutan Kota, 99% adalah KRUS atau Kebun Raya Unmul Samarinda, yang semestinya tak bisa disebut sebagai Hutan Kota karena tujuan dari hutan itu adalah untuk pendidikan dan penelitian. KRUS adalah Hutan Dengan Tujuan Khusus. Jadi sebenarnya Hutan Kota di Samarinda hanya sepenggal.
Eksploitasi batubara, pematangan lahan perbukitan, tutupan vegetasi yang berkurang membuat Samarinda serasa makin panas dari tahun ke tahun. Koefisiensi air permukaan juga semakin besar karena daya tahan dan serap lingkungan pada air hujan makin kecil.
Beban tekanan ekologis pada lingkungan Kota Samarinda makin berat. Untungnya, Sungai Mahakam masih perkasa walau didera tekanan beratus-ratus tahun lamanya. Maka tak salah jika ada yang merindu pada Kota Samarinda, sebenarnya sedang rindu pada Mahakamnya.
note : sumber gambar – SUSURGANGSAMARINDA
Penulis : Malvin
Editor : Yustinus Sapto Hardjanto








