Warga Samarinda tempo dahulu atau mereka yang telah melewati separuh abad tinggal di Samarinda pasti menyimpan Pesut dalam kenangan. Sampai dengan tahun 1970-an, mamalia air tawar yang tidak buas ini masih menjadikan Samarinda sebagai habitatnya.

Sampai dengan tahun 1976, Dinas Perikanan Kaltim memperkirakan ada sekitar 1.500 sampai 2.000 ekor Pesut di Sungai Mahakam. dan karena tidak ditemukan di tempat lain kemudian dinamakan sebagai Pesut Mahakam.

Oleh masyarakat sekitar Sungai Mahakam, pesut dianggap sebagai hewan keramat, hewan mitologis yang ada wujudnya aslinya. Maka samasekali tidak ada perilaku destruktif masyarakat secara langsung kepada Pesut, seperti mengusir, menyakiti, menangkap, membunuh untuk dimakan dagingnya.

Pesutpun berlaku sama. Tidak pernah ada laporan Pesut menganggu perahu nelayan yang melintas di dekatnya, atau menganggu anak-anak yang berenang di sungai dan ibu-ibu yang beraktivitas di atas batang apung.

Tapi sejak tahun 1980-an Pesut mulai menghilang dari Samarinda. Perairan Mahakam di wilayah Samarinda semakin ramai dengan kapal-kapal besar, selain bising kualitas airnya juga terus memburuk karena pencemaran limbah.

Pesutpun kemudian mengalah, berpindah semakin keatas kearah hulu Mahakam. Semenjak saat itu jumlah Pesut terus menyusut.

Kini berdasarkan data International Union for Conservation of Natura {IUCN}, status Pesut adalah citically endangered, satu langkah sebelum punah atau sulit untuk diselamatkan.

Status ini tercermin dari data yang dirilis oleh Rare Aquatic Spesies of Indonesia {RASI} yang menyebutkan kini hanya tersisa kurang lebih 80 ekor Pesut di ekosistem Sungai Mahakam.

Hanya saja kawasan Mahakam Tengah yang kini menjadi habitat utama Pesut Mahakam juga bukan merupakan rumah yang aman. Di wilayah yang meliputi Kecamatan Muara Kaman, Kota Bangun, Muara Muntai dan Muara Wis transportasi kapal pengangkut dan perahu nelayan juga ramai. Lalu lintas ponton pengangkut batubara dan lainnya bukan hanya melalui sungai utama melainkan juga anak sungainya.

Kebisingan yang ditimbulkan oleh suara mesin membuat Pesut tidak nyaman dan kehilangan orientasi sehingga bisa membuat Pesut hilang arah dan terlukai oleh kipas kapal atau perahu.

Bahaya lainnya adalah jaring nelayan. Pesut akan mengejar ikan yang bisa saja sedang menuju ke jaring sehingga ikut terjebak, atau memakan ikan yang tersangkut di jaring dan kemudian Pesut ikut terlilit sehingga tak bisa naik ke permukaan untuk mengambil nafas.

Karena mulai kehilangan kepekaan dan orientasi, Pesut juga kerap terjebak dalam cebakan di danau-danau yang surut, Pesut tidak mampu mencari jalan keluar menuju sungai yang lebih dalam.

Faktor lain yang kemudian mengancam Pesut adalah mutu air yang terus menurun. Selain karena industri tambang dan perkebunan, pencemaran air juga berasal dari permukiman di kawasan Mahakam Tengah yang umumnya berada di tepian badan air.

Pembuangan limbah dan sampah secara langsung ke air membuat air tercemar dan tidak sehat untuk Pesut. Bahkan sampah tertentu yang mengapung atau melayang-layang dalam air dianggap sebagai makanan oleh Pesut. Salah satu yang berbahaya jika ditelan oleh Pesut adalah diapers.

Dengan kondisi seperti itu rata-rata kematian Pesut bukan karena usianya selama 20 tahun terakhir adalah 4 ekor per tahun. Oleh karenanya wajar jika kemudian jumlah Pesut terus menurun sebab Pesut tidak bisa berkembang biak dengan cepat.

Seekor Pesut akan siap bereproduksi ketika berumur 3 tahun, kemudian akan mengandung bayinya selama hampir satu tahun. Dan hanya melahirkan satu ekor bayi Pesut yang akan diasuhnya selama dua tahunan.  Untuk siap bereproduksi lagi butuh waktu antara 4 sampai 6 tahun dalam kondisi yang stabil.

Alhasil jika yang mati karena kecelakaan, sakit atau terjebak adalah Pesut betina yang sedang dalam masa produktif maka satu kelompok Pesut akan kehilangan kesempatan untuk berkembang biak.

Pela dan Perlindungan Pesut

Bupati Kutai Kartanegara, Edi Damansyah pada Maret 2020 lalu telah menandatangani SK Pencadangan Kawasan Konservasi Perairan Habita Pesut Mahakam seluas 43,117,22 hektar. Dalam luasan ini tercakup zona inti, zona perikanan berkelanjutan, kawasan hutan sempadan sungai, areal hutan sempadan danau, zona rehabilitasi dan perlindungan hutan gambut serta rawa-rawa.

SK ini tentu merupakan kabar baik. Namun kabar buruknya, implementasi SK ini akan sarat dengan konflik kepentingan dan kewenangan. Kepentingan masyarakat yang lama telah mendiami kawasan itu dan kewenangan tata kelola termasuk perijinan yang berada di tangan pemerintah nasional atau pusat.

Ambil contoh soal zona perlindungan ikan, reservat atau suaka ikan, area yang memang dilarang untuk segala aktivitas penangkapan. Kewenangan atas kawasan ini ada di tangan pemerintah pusat dan dari sebelas kawasan reservat ikan di Mahakam Tengah, tinggal dua yang kondisinya cukup baik. Tanda-tanda untuk merehabilitasi atau merestorasi reservat ikan yang hilang tidak terlihat sampai sekarang.

Hutan tropis dataran rendah yang berada di sekitar badan air dan rawa-rawa gambut juga terus terancam. Selain karena faktor alam, penebangan juga terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Baik kebutuhan untuk energi, perahu/tranportasi, bangunan rumah maupun bangunan ruang usaha seperti rumah walet yang butuh banyak kayu.

Tanpa pencadangan untuk memenuhi kebutuhan kayu masyarakat, niscaya hutan alam akan terus dirambah. Sementara untuk melakukan pengawasan butuh sumberdaya yang besar juga kewenangan yang tak selalu dimiliki oleh pemerintah daerah apalagi pemerintah desa.

Sekali lagi kawasan ini sejak lama merupakan sumberdaya umum baik untuk masyarakat maupun dunia usaha. Sehingga bukan hanya sungai utama yang sibuk dengan hilir mudik kapal pengangkut melainkan juga anak-anak sungainya. Beruntung perkembangan jalan darat kemudian memberi kontribusi menurunnya jalur distribusi barang melewati perairan. Namun ada ekses lain, pembukaan jalan darat juga memancing pembukaan lahan di sepanjang jalan itu. Ekses lainnya jalur air menjadi tidak terpelihara sehingga banyak yang buntu.

Menjaga mutu air juga menjadi tantangan berikutnya. Kawasan permukiman di Mahakam Tengah bukan hanya berada di pinggir badan air melainkan juga di dalam badan air. Sehingga sulit untuk mencegah masuknya limbah domestik secara langsung ke badan air.

Manajemen atau tata kelola sampah dan limbah menjadi tantangan besar berikutnya. Jangankan di desa, di kota saja manejemen sampah dan limbahnya masih kedodoran.

Komitmen untuk melindungai Pesut Mahakam yang sekarat sudah muncul namun jalan masih panjang untuk melahirkan payung hukum yang lebih kuat dan operasional.

Sembari menunggu itu ada baiknya berkunjung ke Desa Pela. Disana ada kapal wisata yang cukup untuk memuat sampai 15 orang, menyebrangi Sungai Mahakam dari Liang Ulu untuk menyusuri Sungai Pela menuju Danau Semayang.

Jika beruntung dari atas dek kapal yang bertingkat itu bisa dijumpai rombongan Pesut antara 3 sampai 6 ekor yang masuk dari Sungai Mahakam, bermain di Sungai Pela dan berputar-putar di Danau Semayang.

Dan jika ingin mengenal lebih jauh Pesut Mahakam, habitat dan ekosistemnya di Mahakam Tengah, bisa juga menginap di Homestay yang ada disana. Kemudian dari Pela dengan perahu atau long boat berkelling meyusuri sungai dan danau, Bisa ke Melintang, Semayang, Siran, Muara Wis, Belayan, Kedang Murung dan lain sebagainya, selama isi dompet kuat untuk membayari biaya perjalanannya.

Deretan rumah terapung di Kampung Muara Enggelam, berada diatas Sungai Enggelam yang bermuara di Danau Melintang
Kampung Melintang yang berada di Sungai Melintang, penghubung antara Danau Melintang dan Semayang

note : tulisan ini merupakan catatan perjalanan kesah.id dengan fasilitasi dari Bidang Pengembangan Karya Seni Budaya/Ekraf, Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim.

foto pesut bersumber dari Sugeng Hendratno/Antara Foto

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here