Ketika kelas satu SMP, saya mengikuti darmawisata ke DKI Jakarta. Itu kali pertama saya pergi ke Ibukota Negara dengan naik KA Sawunggaling dari Stasiun Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah.

Menginap di Gedung Kwartir Nasional setiap harinya saya dan teman-teman bisa berjalan menuju Monumen Nasional.

Ada beberapa tempat yang kami kunjungi. Salah satunya adalah Taman Impian Jaya Ancol. Di sana saya menyaksikan pentas Pesut (lumba-lumba air tawar).

Tak disangka dan tak dinyana kelak kemudian hari saya akan pergi ke tempat Pesut itu berasal.

Desa atau kampung tempat Pesut itu diambil (ditangkap) adalah Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Pada tahun 1974 untuk pertama kali enam ekor pesut Mahakam ditangkap di Sungai Pela guna  dibawa ke Jakarta.

Operasi untuk pemindahan berjalan kurang sempurna. Pesut seharusnya bisa dibawa ke Jakarta dalam jangka waktu 24 jam namun ternyata meleset karena harus menginap semalam di Balikpapan.

Dengan menumpang pesawat Dakota DC 3 Pesut Mahakam terbang sejauh 1540 km dari tanah asalnya ke Ibukota Negara. Pergi sejauh itu tentu saja menimbulkan tekanan mental dan fisik bagi Pesut sehingga sesampai di Jakarta, 3 dari 6 yang dibawa mati karena kulitnya kering. Tentu saja ini merupakan kehilangan besar karena Pesut adalah mamalia air yang sangat langka dan biaya operasi pemindahan juga sangat besar.

Pesut adalah mamalia langka meskipun umurnya bisa mencapai puluhan tahun. Mamalia ini dianggap dewasa ketika berumur 6-8 tahun. Hidup berpasangan menetap dan beranak hanya satu setiap melahirkan setelah mengandung janin selama 11-13 bulan. Bayi yang dilahirkan akan tetap menyusu pada induknya selama hampir dua tahun. Dengan demikian setiap induk hanya bisa melahirkan setiap 4 tahun sekali. Dan umur produktifitas yang pendek setiap induk kemungkinan hanya akan melahir 4 hingga 5 anak.

Ikonik Tapi Merana

Pesut Mahakam tentu saja istimewa. Binatang purba ini bukan saja langka namun terancam punah. 

Habitatnya yaitu Sungai Mahakam adalah sungai yang sibuk. Sejak awal tahun 70-an hingga sekarang sungai ini dari hulu hingga hilir menjadi tempat lalu lalang tongkang pengangkut kayu dan batubara.

Meski selalu menjadi maskot sesungguhnya masa depan Pesut tak terlindungi. Sulit untuk menentukan area konservasi tanpa gangguan dari aktivitas ekonomi yang mengancam nyawa Pesut. Ancaman baik keamanan maupun ketersediaan pakan.

Konon di tahun 80-an jumlah pesut masih berkisar 300 ekor namun jumlah itu terus menyusut. Dan di tahun 2020 ini jumlahnya dibawah 100 ekor.

Setiap tahun selalu ada kematian Pesut bukan karena tua melainkan karena kecelakaan entah karena terkena baling baling kapal, terjebak di cebakan yang air surut atau terlilit jaring nelayan.

Dengan jumlah pesut dewasa yang terbatas, rentang waktu melahirkan yang panjang jumlah kematian bisa lebih tinggi dari jumlah kematian sehingga kemungkinan kepunahan pesut semakin tahun semakin tinggi prosentase kemungkinannya.

Kemungkinan kepunahan semakin tinggi karena habitat alamiah Pesut Mahakam juga semakin menyusut. Kondisi ini kemudian membuat Pesut Mahakam dalam status kritis atau rawan punah.

Berada di perairan Sungai Mahakam membuat Pesut tidak akan karena ramai lalu lintas perahu dan kapal bermesin. Pesut kemudian masuk ke anak-anak Sungai Mahakam seperti Sungai Kedang Rantau, Sungai Nelayan, Sungai Kedang Kepala, Sungai Pela dan Batubumbun.

Tapi di anak-anak sungai ini mereka juga tidak aman karena beberapa anak sungai Mahakam ini sekarang juga menjadi tempat melintasnya ponton batubara.

Pasokan makanan di anak sungai Mahakam juga tidak terjaga karena rawa-rawa banyak dikonversi menjadi kebun sawit dan masih tingginya masyarakat yang melakukan destruktif fishing dengan menyetrom ikan ataupun memakai alat tangkap yang tidak ramah ekologi.

Kekurangan pakan, hidup dalam lingkungan yang mengancam keselamatan pada akhirnya akan menganggu kesehatan pesut termasuk kesehatan reproduksinya. Perkembangbiakan Pesut menjadi terganggu.

Sungai Pela Rumah Pesut

Beruntung sejak Pesut yang ditangkap dan dibawa ke Taman Impian Jaya Ancol, Sungai Pela masih menjadi rumah bagi Pesut sampai saat ini. Anak sungai yang menghubungkan antara Sungai Mahakam dan Danau Semayang masih menjadi tempat perlintasan rombongan Pesut untuk bermain, kawin dan melahirkan di Danau Semayang.

Masyarakat Desa Pela tentu saja bukan hanya bangga bahwa sungai dan danau mereka adalah ruang hidup Pesut melainkan juga terdorong untuk terus menjaga pesut. 

Pemerintah desa terlibat aktif dengan mengeluarkan peraturan terkait alat tangkap yang bisa membahayakan nyawa dan masa depan Pesut.

Dengan turut aktif menjaga dan mengamankan keberadaan Pesut kini masyarakat Pela mempunyai keuntungan karena Desa Pela kemudian tumbuh menjadi Desa Wisata Unggulan.

Pengelola wisata di desa Pela yaitu Pokdarwis 3 B (Bakayuh,Baumbai dan Babudaya) sama sekali tidak mengekploitasi Pesut atau menjadikan pesut sebagai komoditas.  Bisa menyaksikan Pesut adalah bonus, namun jika tidak wisatawan tetap bisa belajar tentang Pesut di Museum dan Kuburan Pesut. 

Tanpa bertemu atau melihat Pesut para wisatawan atau pengunjung masih bisa melihat dan menikmati keindahan ekosistem sungai, danau dan rawa yang melingkupi Desa Pela dan budaya yang tumbuh dari lingkungan itu.

Kredit foto : Pokdarwis B3 Pela