KESAH.ID – Suka pamer dan ingin mendapat pengakuan dari orang lain adalah sifat bawaan manusia semenjak lepas dari peradaban pemburu pengumpul. Sifat atau kesukaan ini kemudian dikapitalisasi oleh produsen dan pemasar lewat industri gaya hidup, termasuk industri wisata dan ekonomi kreatif. Jadi pamer itu baik karena meningkatkan produksi dan konsumsi.
Waktu jalan-jalan pagi menyusuri Telihan (jalanan berupa jembatan kayu memanjang) di Desa Semayang, saya membaca papan publik yang isinya mengelitik.
Di dekat Masjid Al Hikmah Darussalam, ada papan bertuliskan “Rajin baca status, tapi jarang baca Al Qur’an”
Yang baca pertama kali pasti tersentil dan mungkin segera mengamininya.
Saya yakin hanya sedikit yang kemudian makin rajin membaca Al Qur’an setelah membaca tulisan itu. Sebagian lainnya tetap rajin membaca status.
Status memang penting dalam kehidupan. Meski nilai, kebijakan dan pengetahuan mendorong hal-hal yang inklusif, kehidupan sosial, politik, religius, ekonomi, budaya dan lainnya selalu melahirkan kelas, strata atau kasta.
Tak bisa dihindari dua bayi yang sama-sama lemah akan mengalami perlakuan berbeda walau lahir di rumah sakit yang sama.
Perlakuan berbeda karena lahir di kelas yang berbeda, asuransi yang berbeda, orang tua yang kedudukan dan kekayaannya berbeda.
Perbedaan ini tentu diciptakan, masyarakat menjadi tidak egaliter atau tidak inklusif lagi setelah berevolusi dari masyarakat pemburu pengumpul ke masyarakat bertani atau menetap.
Ketika tinggal menetap, mulai mengenal kepemilikan, kekayaan yang harilus dilindungi. Sistem sosial semakin rumit dan memunculkan diversifikasi peran serta pekerjaan dalam masyarakat.
Muncul orang pintar, orang kuat, orang berpengaruh dan lain-lain yang kemudian menjadi patokan. Pengetahuan pada suatu masa bahkan hingga sekarang ini memang kerap berbasis pada otoritas. Yang punya otoritas dianggap sebagai yang benar dan diikuti.
Sayangnya kebanyakan orang lahir sebagai orang rata-rata saja. Sehingga perlu diupgrade untuk naik statusnya, agar mendapat pengakuan.
Status mesti diciptakan atau diusahakan, bahkan direkayasa. Validasi agar dapat mengklaim status tertentu adalah uang. Dengan uang segalanya bisa didapatkan. Soal yang diperoleh itu asli atau kw itu urusan belakangan.
Dulu punya motor itu keren, sudah dianggap jadi orang kaya atau berkecukupan. Siswa SMA yang pulang pergi sekolah mengendarai motor akan mendapat nilai lebih di mata teman-temannya.
Tak peduli kalau motor yang dinaikinya adalah hasil dari penjualan sawah orang tuanya.
Saya ingat ada beberapa tetangga yang dikatai oleh tetangga lainnya sebagai orang yang menaiki pematang sawah. Sebab motor yang dipakai untuk bergaya membuat keluarganya kehilangan sawah.
Biasanya para guru akan memberi nasehat jadilah dirimu sendiri, terima diri apa adanya.
Nasehat yang sulit untuk dipenuhi karena kebanyakan kita mengukur segala sesuatu memakai ukuran yang dilihat ada pada orang lain.
Tetangga yang akrab saling menyapa diam-diam akan saling lirik isi rumahnya.
Kalau tetangga membeli televisi, maka tetangga sebelahnya juga merasa harus membeli yang ukuran layarnya lebih besar.
Kalau tetangga memarkir mobil di depan rumahnya, maka tetangga sebelahnya akan menyusul hingga kemudian jalanan jadi sesak dengan deretan mobil.
BACA JUGA : MM 93 Dan Honda Yang Tak Lagi Terdepan
Generasi yang mukai suka mengingat-ingat yang dulu-dulu kerap menglorifikasi masa lalu.
Doyan sekali mengatakan manusia dulu umurnya lebih panjang, lebih sehat-sehat, lebih tinggi dan besar badannya dan lain-lain.
Mereka juga kerap menyangka bahwa yang namanya pamer dan pansos adalah kelakuan orang saat ini. Dianggapnya orang dulu nggak suka pamer dan cari cara untuk menaikkan statusnya.
Perkembangan media sosial memang kerap membuat orang berpikir yang namanya pamer, flexing, pansos dan FOMO adalah penyakit orang sekarang.
Kita sering lupa bahwa orang dulu pamernya juga tak kalah konyol. Misalnya memasang gigi perak dan emas. Atau memakai perhiasan seperti gelang emas dari pergelangan tangan sampai lengan, juga cincin batu akik yang besarnya seperti telur ayam kampung.
Mungkin ada benarnya kalau dulu cara pamernya lebih halus dan tidak seterbuka sekarang.
Tapi bukan berarti orang dulu juga gak suka pamer. Cara, alat dan modus pamernya saja yang belum sebanyak sekarang ini.
Bukti bahwa orang dulu sudah suka pamer bisa ditelusuri dalam wejangan tradisional masyarakat Jawa. Ada nasehat soal ‘Ojo dumeh’.
Nasehat ini pasti muncul karena ada kecenderungan orang untuk pamer entah kekuasaan, pengetahuan, kekayaan dan lainnya. Maka orang dilarang untuk mentang-mentang.
Ungkapan lain yang punya nada agar tidak terlalu menunjukkan pencapaian adalah “Kere munggah bale,”
Orang kaya baru, orang biasa yang kemudian memperoleh kemuliaan karena mendapat pekerjaa bagus kemudian kerap berubah perilakunya. Mereka melakukan hal itu agar mendapat pengakuan atas status barunya.
Terlalu berusaha menunjukkan pencapaiannya agar dilihat orang banyak akan diibaratkan sebagai orang yang miskin namun tidur dalam peraduan raja. Lupa diri.
Intinya pamer atau keinginan untuk mendapat pengakuan tertentu adalah bunga kehidupan, bukan hanya masyarakat sekarang melainkan memang sudah sejak dulu-dulu.
Manusia memang haus pujian sejak semula walau pujian itu kebanyakan palsu.
Akibatnya mengatakan hal yang tidak sebenarnya menjadi salah satu ketrampilan pertama dan utama manusia dalam berbahasa.
Ketrampilan mengatakan yang tidak sebenarnya membuat manusia pintar mencari alasan-alasan pembenaran untuk melakukan hal-hal yang tak perlu. Hal yang tidak perlu seolah menjadi keharusan.
Seperti wisuda anak-anak TK yang berlomba-lomba diadakan di hotel atau gedung pertemuan megah lainnya layaknya wisuda sarjana.
Untuk apa, padahal TK itu bukan atau belum masuk kategori sekolah. Jadi kelulusannya tak perlu dirayakan berlebihan, belum ada status keilmuan apapun dari anak-anak TK. Pendidikan yang paling penting di TK adalah melatih anak-anak menjadi semakin manusiawi, memahami dasar-dasar kehidupan seperti kerja sama dengan orang lain, hormat pada orang lain.
Mewisuda anak TK seperti seorang sarjana malah mengajarkan anak-anak sejak dini untuk pamer, berlaku di luar yang seharusnya.
Diluar itu, wisuda besar-besaran untuk anak TK itu sejatinya hanya untuk membuat orang terkesan, bukan pada anak-anak yang diwisuda melainkan orang tuanya.
Orang tuanya ingin pamer bahwa mereka benar-benar peduli pada pendidikan anaknya sejak dini. Walau dengan cara yang sesungguhnya tak mendidik.
BACA JUGA : Digedor Tambang Koridor
Cara manusia bertindak atau berperilaku sebagian besar memang tidak rasional. Selalu memikirkan masak-masak segala sesuatu memang membuat hidup jadi tak menyenangkan,.hidup jadi melelahkan.
Maka manusia cenderung melakukan apa yang disukai, apa yang menyenangkan. Baru kalau ada yang mempertanyakan lalu dicari-cari alasan pembenaran.
Rasionalitas lebih sering dibajak oleh emosi. Kemampuan rasionalnya dipakai untuk memperkuat kecenderungan pikiran emosionalnya.
Pamer tentu lebih menyenangkan ketimbang tampil asli dan otentik. Butuh kerendahan hati dan keberanian untuk tampil apa adanya. Di dunia yang ukurannya serba status, tampil otentik bisa membuat orang tersingkir dari perhatian orang lain. Tidak dianggap.
Kecenderungan ini dipahami benar oleh para produsen dan pemasar barang serta jasa.
Mereka dengan cara tertentu mendorong orang untuk suka pamer, mencari pengakuan dengan apa yang dipakai atau dikonsumsi.
Kebutuhan subyektif terus dipompa. Lewat berbagai cara, terutama dengan memakai jasa para influencer yang akan membuat pengikutnya ingin meniru apa yang dilakukan oleh pujaannya.
Ekonomi menjadi lebih dinamis karena orang kemudian berbelanja atau menghabiskan uang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak mereka perlukan.
Ongkos untuk memenuhi kebutuhannya menjadi ongkos subyektif.
Ada produk yang kemudian dianggap eklusif, auto menaikkan derajat pemakainya. Hingga kemudian harga yang harus dibayar jauh diatas harga barang sejenis lainnya.
Dalam dunia fashion, kemudian dikenal istilah brand kepala. Brand terkemuka yang produknya mahal, sehingga membuat mereka yang memakainya akan mendapat perhatian dari lingkungannya.
Karena memberi keuntungan dan distribusi ekonomi maka perilaku pamer dan panjat sosial kemudian seolah difasilitasi. Industri gaya hidup, pariwisata dan ekonomi kreatif mengambil banyak manfaat dari kesenangan orang untuk pamer dan mendapat pengakuan sosial atau status tertentu.
Produk yang mampu menjawab kebutuhan itu akan laku dan booming, jadi trend.
Untuk menjadi pemakai pertama banyak orang rela mengeluarkan uang begitu saja tanpa pikir panjang. Status sebagai orang pertama yang memakai atau memiliki sesuatu bisa membuat seseorang jadi viral, menjadi selebritas.
Jadi siapapun yang ingin sukses berbisnis atau berusaha jangan emosi melihat orang pamer atau sirik dengan melakukan orang pansos.
Kenali kebutuhan mereka dengan jawab dengan jasa atau produk yang bisa mehilangkan lapar dan dahaga mereka atas pengakuan dari orang lainnya.
Dan yang suka pamer atau pansos, teruslah pupuk kegemaran anda sekalian. Sebab ekonomi akan dinamis jika anda makin doyan pamer dan mencari jalan naik kelas sosial. Pamer dan kegilaan anda pada pengakuan adalah energi untuk pertumbuhan ekonomi.
Makin banyak orang suka pamer dan keranjingan pansos maka makin banyak orang belanja barang dan jasa.
Tapi ingat jangan biayai semua itu dengan uang pinjaman apalagi dari pinjaman online. Karena jika anda mangkir bayar, teman atau lingkungan terdekat anda bisa ikut menanggung getahnya.
note : sumber gambar – SINDONEWS. COM








