Sebagai pemakai gadget berjuluk smartphone sebagian besarnya pasti pernah menerima pesan atau modus akal-akalan lewat pesan baik teks maupun suara. Ada banyak pesan yang meyakinkan sehingga banyak yang terkena jebakan hingga kemudian mengalami kerugian. Menangkal hal semacam itu sejatinya tidaklah sulit andai kita mau menggunakan akal sehat kita.
Ngomong-ngomong soal akal sehat dalam perjalanan tahun politik ini, soal akal sehat kerap diasosiasikan dengan seorang RG. Orang yang disebut sebagai ahli filsafat karena pernah diminta mengajar Filsafat di Universitas Indonesia itu menjadi ternama karena kerap menyebut kata dungu.
Kata dungu ternyata ajaib karena mampu mengontrol popularitasnya. Hingga kemudian dirinya dijuluki menjadi presiden Akal Sehat Indonesia (ASI). Gara-gara RG kemudian akal sehat menjadi perhatian, sampai sampai ada yang mengembangkan Senam Akal Sehat (SAS).
Kata akal bermuasal dari bahasa Arab yaitu Aql. Artinya yang berarti pengikatan atau pemahaman terhadap sesuatu. Akal juga berarti kemampuan melihat, cara memahami, menganalisa lingkungan atau sesuatu. Dengan demikian akal dekat dengan pikiran dan ingatan. Namun akal kerap juga dipandang secara negatif sebagai modus, tipu daya, muslihat dan kelicikan.
Lalu apa itu akal sehat?. Akal sehat sebagai sebuah konsep filosofis adalah kata yang jelas dan tidak ambigu. Akal sehat berarti akal yang bekerja secara logis dan secara fisik juga sehat. Akal sehat juga berhubungan dengan apa yang dipikirkan, maka disebut berakal sehat artinya berpikir secara baik-baik (sesuai moral). Maka berpikir mesum artinya tidak berakal sehat.
Lalu apa hubungan akal sehat dengan pemilu?. RG dan pendukungnya nampaknya mengartikan ber-akal sehat berarti memilih calon tertentu (salah satu dari dua calon) sebagai pilihan. Sehingga mereka yang memilih di luar calon yang didukung oleh RG dan gerbongnya adalah tidak berakal sehat.
Padahal dua orang, yang satu memilih A dan yang satunya memilih B, keduanya bisa saja dianggap berakal sehat, tapi keduanya bisa pula disebut tidak berakal sehat. Semua itu akan tergantung dari bagaimana mereka menggunakan akal atau tidak untuk menentukan pilihan.
Maka mengklaim bahwa yang memilih calon tertentu sebagai berakal sehat sementara yang memilih calon lainnya sebagai tak berakal sehat adalah cara berpikir yang tidak sehat atau cacat akal. Menganggap diri kita berakal sehat sementara orang lain tidak adalah pertanda dari gejala arogansi. Dan cara berpikir yang bernada arogan jelas bukan cara pikir yang muncul dari akal sehat.
Kita memang kerap berperilaku memakai model gagal logika. Siapa yang cepat mengatakan dirinya baik dengan mudah menuduh yang lain tidak baik. Dengan diakui berakal sehat maka kita berhak mengatakan yang lain tak berakal sehat. Karena diri kita pintar maka tak salah menyebut orang lain dungu.
Soal akal sehat, tak selamanya atau sepanjang waktu seseorang bisa mempertahankan akal sehatnya. Pada saat-saat atau kondisi tertentu bisa saja seseorang yang biasa berakal sehat tiba-tiba kehilangan akalnya. Selama seseorang waras dan sehat maka tak mungkin secara permanen kehilangan akal sehatnya.
Boleh-boleh saja seseorang atau sekelompok orang mengklaim berakal sehat dan kemudian melabeli semua yang dilakukannya dengan label akal sehat. Tetapi yang menilai apakah kita berakal sehat adalah orang lain yang juga berakal sehat. Dan selalu menganggap dirinya sebagai berakal sehat sementara orang lain di luar kelompoknya tidak berakal sehat, maka orang yang merasa berakal sehat itu sesungguhnya tak sadar kalau otaknya kerdil.
kredit foto : David Matos – unsplash.com








