Selama pandemi covid 10 kita terbiasa mendengar dan mengucap kata-kata asing seperti suspect,physical distancing, sosial distancing, rapid test, swab test,pcr, lockdown.
Dan yang kini sedang populer adalah new normal life. Momen new normal saat ini ditunggu-tunggu. Sebagian besar orang ingin era new normal diberlakukan. Lalu apa itu new normal life atau tatanan kehidupan baru itu?. Akankah new normal akan jadi normalization of the massive death seperti yang dikhawatirkan masyarakat medis?.
Ketika covid 19 yang saat itu disebut China Virus menyerang Wuhan, banyak pemimpin dan masyarakat negara lain sesumbar bahwa negeri dan masyarakatnya kebal. Kebal karena tidak terbiasa makan kelelawar atau daging mentah, kebal karena terbiasa minum jamu temulawak.
Tapi kemudian kepercayaan diri dan sesumbar itu hilang. Kini tak ada pengecualian setelah merasakan dampak pandemic covid 19 yang ternyata tidak sekedar urusan kesehatan fisik, melainkan juga kesehatan mental, ekonomi bahkan politik. Di hadapan covid 19 tidak ada negara adidaya, tidak lagi ada negeri terpilih.
Dulu dunia dirubah oleh revolusi politik, pengetahuan dan industri. Tapi kini dunia dirubah oleh virus, organisme tak kasat mata. Covid 19 menjadi infeksi yang digdaya karena telah merubah siklus hidup secara mendasar.
Berabad-abad manusia meyakini diri sebagai mahkluk sosial, namun karena Covid 19 kita justru dituntut untuk membatasi pertemuan fisik. Pembatasan yang kemudian membuat orang bisa kehilangan peluang pekerjaan dan pendapatan. Yang terdampak bukan hanya yang terinfeksi namun semua orang dan justru kemudian menimbulkan gangguan kesehatan mental. Banyak orang jadi frustasi meski tak terinfeksi oleh Covid 19.
Juru bicara gugus tugas Covid 19 yang kini ditambah dengan seorang dokter yang muda dan berparas cantik memang tidak pernah menyebut berapa jumlah orang yang frustasi atau depresi gara-gara pandemi Covid 19. Tapi otoritas yang berkaitan dengan kesehatan mental pasti bisa menyebut jumlahnya yang pasti tak kalah dengan jumlah orang yang positif menderita Covid 19. Kebijakan pemerintah yang kerap kali tidak seragam bahkan punya sumbangan menambah jumlah penderita tekanan jiwa semakin besar ketimbang jumlah pasien yang positif covid 19.
Kini masyarakat medis yang pontang panting dan kehilangan banyak anggotanya, punya potensi untuk mengalami gangguan jiwa. Di tengah laju penularan yang belum menunjukkan kurva konsisten menurun, pemerntah telah mulai menyuarakan new normal life. Kebijakan ini muncul karena upaya pemerintah antara 2-3 bulan dengan kebijakan pembatasan sosial ternyata tak juga menunjukkan hasil yang nyata. Akibatnya beban menjadi lebih tinggi, pun juga masyarakat. Jika tak segera dikembalikan pada kehidupan normal bisa jadi permasalahan akan merembet kearah ekonomi yang makin ambyar, pergolakan sosial bahkan pergolakan politik.
Baik masyarakat maupun pemerintah sudah sama-sama tak sabar dengan alasan masing-masing. Masyarakat misalnya tak yakin pemerintah bisa membantu dalam kondisi darurat secara cekatan. Sebab yang disebut bantuan sosial dalam kondisi darurat ternyata perlu waktu berbulan-bulan untuk mencairkan. Dan akhirnya tak banyak membantu.
Sementara untuk pemerintah terus mempertahankan kondisi darurat akan semakin membongkar borok ketidakmampuan menanggani persoalan. Jadi tak ada pilihan lain, karena tidak mampu melawan maka pilihan yang paling logis adalah bersahabat atau berdamai.
Untuk berdamai itu maka diperlukan new normal life atau tatanan kehidupan normal baru di masa pandemi Covid 19 yang obat dan vaksinnya belum tahu kapan akan ditemukan.
Pelonggaran penjarakan sosial sebenanrnya tidak murni dari pemerintah. Masyarakat sendirilah yang lebih dahulu memulai. Di Samarinda jauh sebelum walikota mengeluarkan surat pelonggaran tahap I, masyarakat sudah biasa hidup normal saat menjalani bulan puasa. Setiap sore menjelang buka di berbagai penjuru kota muncul kerumunan tanpa protokol new normal.
Keyakinan bahwa resiko tertular kecil, tak ada transmisi lokal mungkin membuat orang Samarinda kemudian berani hidup normal sebagaimana masa sebelum Covid 19. Dan terbukti setelah lewat perayaan lebaran ternyata tak ada ledakan jumlah penderita. Samarinda normal-normal saja.
Acuan angka yang tak bertumbuh itu kemungkinan besar menimbulkan ‘rasa aman palsu’. Dan dalam masyarakat seperti ini, masyarakat abnormal maka normal baru menjadi tak bermakna.
Masyarakat cenderung optimis bahwa kematian karena Covid 19 adalah kematian yang biasa saja. Sama dengan kematian karena kecelakaan dan penyakit lainnya yang jumlahnya juga tak kalah banyak.
Abnormalitas Covid 19 yang lain adalah ketiadaan pakar. Hampir tak ada pakar yang punya pengaruh luas sehingga apa yang disampaikan akan menjadi patokan umum. Akibatnya yang justru lebih kuat adalah pernyataan-pernyataan para pakar konspirasi. Pandemi Covid 19 tidak dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat melainkan arena perang politik dan ekonomi.
Para pemimpin pun kerap kali menyampaikan optimisme tanpa dasar. Seperti mengatakan bahwa pandemi akan berakhir pada bulan tertentu, atau setelah puasa atau lebaran. Optimisme tanpa menjelaskan bagaimana Covid 19 akan diatasi.
New normal life barangkali merupakan cara dari pemerintah untuk kembali mengajak masyarakat menjadi optimis bahwa kehidupan akan berjalan kembali normal setelah sekian waktu semua capaian memburuk secara paripurna.
Dalam teori evolusi yang disebut sebagai new normal barangkali sejajar dengan adaptasi. Covid 19 adalah arena pertempuran dan siapa yang bisa beradaptasi dengan sempurna maka akan bertahan.
Hanya saja evolusi sekarang tentu berbeda dengan evolusi jaman dahulu. Pengetahuan dan teknologi serta kepakaran sudah melampaui jaman nenek moyang kita. Resiko atau hal-hal buruk atas penerapan sebuah kebijakan atau perilaku telah bisa diperkirakan.
Maka penerapan era normal baru tanpa perhitungan yang matang hanya akan menjadikan yang kuatlah yang bertahan. Dan new normal kemudian akan berarti menganggap kematian karena Covid 19 adalah kematian yang biasa-biasa saja.
Covid 19 bukanlah virus luarbiasa dan masih banyak virus sejenis lainnya yang belum menginfeksi manusia. Wabah baru karena corona virus yang lain juga masih terbuka.
Memahamai bagaimana cara penularan dan cara pencegahan bukanlah hal yang sulit. Namun karena menyangkut kepentingan dan perilaku banyak orang, justru itu yang menjadi sumber kesulitan utama.
Hampir tak ada satupun pemerintah yang mumpuni untk mengatur warganya. Menyiapkan langkah-langkah antisipasi dan menyediakan fasilitas-fasilitas untuk kondisi darurat.
Abai pada kenyataan ini karena optimisme pada era normal baru hanya akan mengantarkan kita pada kehancuran baru. Bersandar pada teori herd community sama artinya dengan membuka pintu untuk mengantar spesies kita pada kepunahan.
Belum ada riset yang menunjukkan hasil untuk cukup membuat optimisme baru yang bisa menjadi dasar bagi kita untuk percaya diri. Kepercayaan diri dan optimisme baru kita justru kerap dibangun oleh pseudoscience, pernyataan, analisis ataupun informasi yang disampaikan oleh para pakar bukan-bukan. Para pakar pengusung teori konspirasi.
Sebagai akhir dari perbincangan kita saat ini, saya akan mengutip pepatah yang disampaikan oleh GSSJ Sam Ratulangi. Dia mengatakan “Si Tou Tumou Timou Tou”, manusia hidup untuk menghidupkan orang lain.
Jadi dalam era new normal ini, kita mesti menyadari bahwa hidup itu bukan hanya untuk kepentingan diri kita sendiri melainkan juga kepentingan orang lain. Jangan sampai kita hidup namun menularkan penyakit untuk orang lain. Penyakit yang bisa menyebabkan penderitaan bahkan juga kematian.








