Sama seperti banyak hal lain dalam kehidupan, kopi bisa menyebabkan kecanduan. Saya kalau dari pagi sampai tengah hari membiarkan mulut tidak menjamah kopi maka kepala akan terasa pusing.

Ada jenis kopi tertentu yang saya sukai namun tidak setiap saat saya bisa meminumnya karena berbagai alasan termasuk salah satunya soal harga dan peralatan seduh.

Maka yang biasa saya minum adalah kopi tubruk, kopi kemasan yang banyak dijual di warung, toko atau swalayan.

Soal merek, meski punya preferensi namun saya tidak fanatik pada merek tertentu. Alhasil kadang-kadang saya terpengaruh iklan hingga mencoba merek yang sedang ramai muncul di layar.

Kopi tubruk memang merupakan cara minum kopi paling lazim di Indonesia. Nama tubruk berasal dari cara seduhnya, bubuk kopi disiram dengan air panas.

Ciri khas yang melekat pada kopi tubruk adalah memiliki ampas kopi.

Ampas yang berada dalam gelas membuat kopi tubruk masuk dalam kategori full immersion. Bubuk kopi terus terendam dan bereaksi dengan air. Tak heran jika kemudian kopi tubruk kerap dideskripsi sebagai kopi yang mantap, pekat dan kental. Joss lah.

Aroma kopinya juga akan terus bertahan dibandingkan kalau disaring.

Tehnik seduh tubruk sebenarnya juga dipakai oleh para Q grader, pencicip dan penilai dalam industri kopi.

Sebelum kopi di jual atau didistribusikan para Q grader akan melakukan cupping, menilai dan merasa aroma serta rasa kopi dengan mencium dan menyesap kopi berdasarkan urutan tertentu.

Beda kopi tubruk ala Q grader dan masyarakat pada umumnya adalah pada tingkat kehalusan bubuk kopi yang dipakai.

Kopi tubruk yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat umumnya digiling halus dan hitam karena gorengannya mendekati gosong.

Sedangkan kopi yang dipakai oleh Q grader digiling kasar dan tingkat gorengannya bermacam-macam. Agar bisa diperoleh mana yang paling baik.

Air yang dipakai untuk menyeduh juga berbeda. Di masyarakat, kopi tubruk identik dengan air mendidih yang baru diangkat dari kompor. Sedangkan untuk cupping, air panas yang dipakai bersuhu kurang lebih 96 derajat celsius.

BACA JUGA : Channel Youtube Faedah Tapi Underrated

Tidak semua pengemar kopi suka dengan kopi tubruk, terutama karena meninggalkan ampas dalam gelas. Tapi sebaliknya ada yang fanatik pada ampas kopi, utamanya mereka yang suka cethe atau lelet, mengoleskan endapan kopi ke rokok.

Maka jika ingin kopi yang mantap dan kental namun tak berampas bisa pergi ke warung kopi klasik yang menyajikan kopi saring.

Di Samarinda, kopi saring bisa dinikmati di kedai kopi sekitar kawasan pelabuhan seperti Kopi Ko’ Abun, Kopi Timur Subur, Kopi Ko’ Lim dan Kopi Hainan. Kalau di kedai kekinian, kopi saring salah satunya bisa ditemukan di jaringan kedai Klinik Kopi.

Tapi kalau tak punya waktu dan ingin menikmati di rumah maka pilihannya adalah bubuk kopi instan. Bubuk kopi yang kalau diseduh tidak akan menghasilkan ampas.

Kopi ini tentu saja dihasilkan oleh industri karena cara ektraksi mempunyai teknologi khusus yaitu spray-drying atau freeze-drying. Hasil ektraksi kopi dengan teknologi ini akan menghasilkan kopi instan yang mudah larut di air.

Tak perlu butuh waktu lama untuk menikmati segelas kopi instan, tinggal tuang air dan aduk. Tapi buat yang suka menikmati sensasi kopi, lama kelamaan kopi instan akan terasa flat, rasanya begitu-begitu saja.

Cara lain untuk menghasilkan kopi tanpa ampas di gelas adalah memakai metode seduh manual. Kalau tidak ingin repot, maka tinggal pergi ke kedai kopi manual brewing.

Tapi lagi-lagi kalau tak punya kesempatan dan waktu, maka perlu melengkapi peralatan seduh di rumah agar bisa menikmati kopi tanpa ampas, namun aroma dan rasanya tetap mantap.

Alat seduh yang paling dasar untuk menghasilkan kopi tanpa ampas adalah French Press. Bentuknya seperti tabung. Masukkan kopi ke dalam tabung lalu siram dan rendam dengan air panas. Setelah dirasa cukup,  tekan plunger yang ujungnya mempunyai jaring-jaring untuk memisahkan ampas dan kopi.

Hasil seduhan dengan French Press mirip dengan kopi tubruk, karena bubuk kopi terus terendam dalam wadah.

Alat lain yang bisa dibeli adalah Vietnam Drip. Bentuknya juga seperti tabung tapi lebih pendek dengan plunger yang bisa diatur untuk menekan bubuk kopi di bagian bawah tabung. Air panas dituang dan kemudian akan mengektraksi bubuk kopi dengan cara merendam dan kemudian hasil ektraksinya akan menetes untuk ditampung di gelas.

Kalau mau yang lebih rumit lagi masih ada alat seduh lain yaitu V 60 dan Aeropress. Menggunakan kedua alat ini masih diperlukan filter untuk membantu proses ektraksi agar bubuk kopi tidak ikut larut dalam wadah atau gelas.

Untuk yang ingin menyesap kopi yang intens, ada mocha pot atau rockpresso untuk menghasilkan segelas kopi espresso tanpa mesin yang amat mahal itu.

Sebenarnya sekarang ini ada yang menjual kopi dengan label easy drip. produsen tertentu mengemas jenis kopi single origin. Kopi easy drip tidak akan meninggalkan ampas digelas karena. Dengan membuka kemasan lalu menaruh diatas gelas, kopi siap diseduh dengan menuang air panas dalam kemasan yang terbuka atasnya. hasilnya akan mirip dengan seduhan kopi V 60 atau Vietnam Drip.

BACA JUGA : Eco Art Ala Temanku Lima Benua

Menghasilkan kopi yang enak memang tidak bisa instan. Ada proses yang panjang mulai dari perlakuan dan pemeliharaan kopi sejak di kebun, cara panen dan pengolahan paska panen.

Yang disebut dengan kopi enak sendiri juga bisa diperdebatkan, meski ada ukuran soal aroma dan cita rasa. Namun toh selera orang bisa berbeda-beda.

Maka tak perlu risau, soal bagaimana menyeduh dan menikmati kopi dengan benar andai saja kita sudah punya kopi kesukaan. Yang terbaik dan paling benar tentu saja yang cocok di lidah dan hari kita.

Yang terpenting untuk dipertimbangkan justru soal mana yang lebih sehat, antara kopi berampas atau kopi tidak berampas atau kopi instan.

Kopi berampas, atau bubuk yang berasal dari biji, yang dengan teknik tertentu bisa memisahkan ampasnya akan memberi sensai yang berbeda. Sebab aroma dan cita rasanya masih kuat, kekhasannya akan tertangkap.

Kopi ampas diyakini lebih sehat karena dalam proses pembuatannya tidak ditambahkan bahan-bahan kimia lainnya.

Meski demikian kopi ampas biasanya mempunyai kandungan kafein yang lebih tinggi. Kandungan yang berpotensi untuk menimbulkan kecanduan.

Mereka yang terbiasa minum kopi lalu dalam jangka waktu tertentu tidak meminumnya maka kepala akan terasa pusing, lemas, susah berkonsentrasi, gugup, gelisah dan cepat marah.

Jadi mau pilih yang ada ampas atau yang instan terserah saja mana yang kita suka. Apapun kopinya yang paling penting adalah cocok di lidah dan kantong. Jangan sampai karena fanatik dan menjaga idealis untuk meminum kopi yang benar malah bikin kita lupa memenuhi kebutuhan hidup lainnya yang jauh lebih penting dari sekedar bergaya dengan minum kopi.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here