Pengetahuan saya tentang desain publik tidak terlalu banyak. Namun ketika mengeluti program Komunikasi, Informasi dan Edukasi dalam berbagai bidang, saya tahu persis bahwa untuk mendesain medium komunikasi publik tidaklah gampang. Ada sebuah proses yang panjang agar pesan yang dipublikasikan dalam berbagai medium tidak menghasilkan bias pemahaman atau bahkan salah persepsi.

Dalam ilmu komunikasi setiap saluran atau medium komunikasi mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebuah pesan agar bisa ditangkap dengan utuh perlu disampaikan dengan medium yang sesuai. Satu pesan yang akan disampaikan kepada publik memang bisa disampaikan dalam berbagai saluran atau medium komunikasi namun tetap harus disesuaikan dengan tahapan atau kontinuum komunikasi.

Seseorang yang tidak dikenal dan tiba-tiba saja memasang baliho wajahnya di pinggiran jalan pasti akan menimbulkan tanda tanya. Maka baliho bukanlah medium sosialisasi yang tepat untuk langkah pertama memperkenalkan diri.

Kita juga sering menemukan poster yang penuh berisi catatan seperti memindah buku dalam selembar kertas lebar. Dan kemudian dipasang dipinggir jalan. Yang membuatnya mungkin sudah merasa benar, meski sesungguhnya yang dilakukan olehnya adalah kesia-siaan. Siapa yang akan membaca poster yang dipasang di pinggir jalan ketika sebagian besar pemakai jalan adalah pengendara kendaraan bermotor.

Baliho, poster, t-shirt, stiker, pin dan produk sejenisnya adalah alat untuk reminder, pesan yang ditulis didalamnya umumnya hanya untuk mengingatkan. Medium komunikasi semacam ini bukanlah alat sosialisasi, atau perangkat untuk menerangkan produk.

Bahwa bisa saja kita punya niat baik untuk menginformasikan sesuatu kepada orang lain, masyarakat banyak. Namun niat baik itu jika tidak disalurkan lewat medium yang benar justru akan menimbulkan bias, entah itu kehebohan atau bahkan makian serta cercaan.

Kota Samarinda, kota tepian berkali-kali melakukan pencitraan kota. Namun berkali-kali pula yang dilakukan malah menimbulkan persoalan. Apa yang dipikirkan oleh para perencana ternyata tidak selaras dengan yang ditangkap oleh warganya.

Ambil contoh saja Taman Samarendah. Taman ini sejak awal pembangunannya sudah bikin heboh karena menggusur (melenyapkan) salah satu situ bersejarah untuk Provinsi Kalimantan Timur. Konversi area pendidikan dan lapangan bersejarah menjadi taman kota ternyata tidak menciptakan sejarah baru.

Dinamai sebagai Samarendah, taman ini mau menunjukkan jati diri atau identitas Kota Samarinda. Namun taman yang bisa diibaratkan sebagai pot raksasa karena posisinya lebih tinggi dari area disekitarnya malah melahirkan kebingungan. Belum lagi elemen hias yang kemudian disertakan dalam taman itu. Yang pertama adalah semacam tugu yang malamnya berhias lampu. Bentuk tugu itu entah dimaksudkan untuk melambangkan apa?. Konon jika kita menginap di hotel Mesra lantai atas dan melihat ke arahnya dari jendela, saat tugu itu dibalur lampu berwarna netral bakal kelihatan seperti pocong.

Ketidakjelasan identitas Taman Samarendah semakin bertambah ketika kemudian ditambahkan patung kuda. Apa hubungan antara Samarinda dan kuda?. Pun dari sisi estetika kehadiran patung kuda di Taman Samarendah tak menambahkan apa-apa selain visual kesesakkan. Elemen hias entah dalam bentuk tugu, patung atau apapun jika kemudian hadir dan terpisah atau tidak menyatu dengan kesekitarannya justru akan menghasilkan sampah visual.

Dan kini yang sedang ramai diperbincangkan – setelah sebelumnya juga ramai tentang logo branding yang mirip lambang Mc D, lalu patung yang dikira Pesut padahal lebih mendekati Beluga – adalah gapura yang dibangun di Jalan AM. Rifadin. Memang belum jadi namun pembangunan yang “telanjang” menyebabkan masyarakat bisa melihat apa yang sedang dibangun.

Menurut persepsi masyarakat terutama yang doyan nonton kartun Jepang, bentuknya seperti ekor Kyubi bernama Kurama dalam serial Naruto. Gapura itu seperti hendak menyambut orang yang datang ke Konoha Amegakura tempat tinggl Naruto dan ninja Shinobi lainnya, bukan ke Kota Samarinda.

Sekali lagi gapura itu belum jadi dan semoga setelah jadi nanti apa yang dimaksudkan oleh pembuatnya yaitu sebagai simbol burung enggang yang diwakili oleh paruhnya akan terlihat.

Namun apapun yang jadi nanti, mestinya segala kehebohan terhadap apa yang dibangun oleh Kota Samarinda untuk memperindah kota, menegaskan identitas atau pencitraan kota kerap kali justru menjadi problem estetika. Para perencana dan pembuatannya nampak sekali kurang mempunyai kepekaaan terhadap seni dan keindahan.

Maka jangan salahkan jika muncul pandangan kritis atasnya sebab sebuah karya di ruang publik membuka peluang tanggapan dan telaah dari masyarakat luas atas seni dan keindahan juga persepsi atasnya.

Atas semua distraksi estetika yang terjadi di ruang publik Kota Samarinda mestinya para perencana dan pembangun kota berefleksi agar program pencitraan kota ini tidak semata-semata didesain dan dilakukan sebagai proyek semata. Apa yang dilakukan bukanlah sekedar menghabiskan anggaran yang telah direncanakan sebab simbol-simbol atau penanda yang dibuat adalah cermin peradaban. Jika apa yang dibangun dengan biaya besar kemudian hanya menghasilkan kehebohan maka itulah cermin dari adab pembuatnya yang hanya ingin menghabiskan anggaran secara legal namun sama sekali tak menyumbangkan peradaban baik untuk kotanya.

kredit foto : pemkot samarinda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

thirteen − six =