KESAH.ID – Warung Kopi Madju di Jalan Panglima Batur, Samarinda, adalah “mutiara” tersembunyi yang tetap setia pada tradisi Kopitiam peranakan kuno, menolak tren modern. Warung yang dikelola hingga tiga generasi ini unik karena masih menggunakan arang untuk menjerang kopi dan memanggang roti, menghasilkan cita rasa smokey dan intens. Meskipun kalah populer di media sosial dan tidak menyediakan menu berat seperti Kopitiam lain, Kopi Madju menawarkan otentisitas yang khas dan ketenangan bagi pecinta kopi, membuktikan bahwa kesetiaan pada tradisi adalah kunci identitasnya di tengah gempuran modernisasi kota.
Di tengah hiruk pikuk Jalan Panglima Batur, sebuah arteri utama yang menggerakkan nadi perekonomian Kota Samarinda, ternyata ada ‘mutiara’ yang luput dari pantauan saya. Sama sekali tak saya duga bahwa di deretan ruko-ruko tersebut terdapat warung kopi bahari (tua) yang autentik.
Perihal warung kopi bahari, dalam benak saya—dan umumnya warga Samarinda—pasti akan merujuk pada The Big Four, yaitu Warung Kopi Ko Abun, Ko Lim, Warung Taufik, dan Haji Acut. Masih ada sederet nama lain yang populer seperti Warung Kopi Hainan, Timur Subur, Kopi Cangkir, serta para penerusnya seperti Papa Lim dan kedai-kedai modern.
Warung Kopi Maju (Madju), demikianlah namanya, bertahan tenang dalam diamnya di tengah keramaian jalan yang dihiasi banyak toko emas. Warung ini hampir tak terlihat karena papan namanya yang sederhana hanya ditempel di bagian dalam ruangan.
Ajakan dari seorang teman melalui pesan WA, “Lama kada bedapat (lama tidak bertemu),” menghantar saya memasuki warung kopi yang interiornya tak neko-neko. Mereka yang datang untuk pertama kali bahkan bisa jadi tidak yakin kalau itu adalah warung kopi, sebab penampilannya mirip toko tua yang mendekati senjakala.
Sama sekali tidak ada aksesori aesthetic atau tanda-tanda modern yang menunjukkan tempat itu adalah kedai kopi masa kini. Keyakinan itu baru muncul setelah saya melihat tungku, dandang air, dan teko untuk menyeduh kopi.
Menyesap kopi yang dijerang dengan panas arang, imaji saya seketika terbawa pada cerita masa lalu. Warung kopi yang telah dikelola selama tiga generasi ini, ternyata tidak bermula dari Sanga Sanga, melainkan dari daerah Sungai Dama.
Mulanya saya menduga hanya akan mengobrol berdua. Namun, setibanya di sana, ternyata kawan yang mengajak saya ngopi turut membawa serta rekan-rekannya.
Saat itu saya datang mengenakan kaus yang dulu dicetak sebagai upaya negative campaign untuk Prabowo. Kebetulan, salah satu rekan yang ikut ngopi adalah anggota DPR Kota Samarinda dari Partai Gerindra. Melihat sablonan di depan kaus yang saya pakai, ia bertanya, “Itu Prabowo dengan siapa, Mas?”
Saya jawab saja dengan lugas, “Wiji Thukul.”
Untungnya ia tidak bertanya lebih jauh lagi, sehingga suasana tidak terganggu oleh percakapan mengenai preferensi politik.
Sambil mengobrol santai, saya memperhatikan ada yang berbeda dari cara penyajian kopi dibandingkan dengan kedai-kedai sejenis. Kedai kopi semacam Kopi Maju, Kopi Cangkir, Kopi Ko Abun, dan lainnya kerap disebut sebagai Kopitiam.

BACA JUGA : Lepubung Kosong

Rumah kopi ini khas kaum peranakan Tionghoa yang merantau ke negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Kedai kopi ini biasanya didirikan di kota-kota niaga atau tambang, tujuannya untuk menyediakan minuman hangat dan sarapan sederhana di pagi hari.
Salah satu ciri khas dari Kopitiam tradisional—bukan Kopitiam sebagai merek dagang—adalah adanya masyarakat lokal yang turut berjualan di bagian depan. Mereka akan menjajakan nasi kuning, soto, lontong sayur, dan hidangan lokal lainnya.
Nah, di Kopi Maju, hal itu tidak ada. Tidak ada warga lokal yang berjualan makanan berat di depan. Selain itu, Kopi Maju masih setia menggunakan arang untuk menjerang kopi dan minuman lainnya.
Ketika seseorang memesan, peracik kopi menuangkan bubuk kopi ke dalam saringan kain, lalu menaruhnya dalam teko yang kemudian akan ditaruh di atas bara. Teko diisi air panas yang dijerang di atas panci tembaga. Setelah air mendidih, kopi siap disajikan dengan cara ditiriskan kembali menggunakan saringan.
Karena kopi dimasak di atas bara kayu hingga airnya mendidih, kopinya terlihat sangat intens. Aroma yang menguar dari segelas kopi terasa kuat menggoda, tercium bau smokey yang samar. Rasa kopi bertahan cukup lama di lidah saat kopi diseruput. Memang pahit, tetapi rasa pahitnya tidak sampai membuat mulut terasa tercekat.
Selain kopi hitam, tersedia pula kopi susu, teh susu, atau teh tarik.
Memang tak ada nasi kuning, lontong sayur, atau soto jika ingin pendamping kopi yang agak berat. Tetapi jangan khawatir, seperti kebanyakan Kopitiam, tetap ada makanan ringan yang bisa dipesan.
Di Kopi Maju, yang ingin mengunyah-ngunyah bisa memesan roti bakar atau roti goreng telur. Semua dimasak dengan arang sehingga memunculkan aroma yang khas. Roti yang dibakar dengan arang permukaannya akan menjadi renyah, dengan lapisan dalam yang kecokelatan namun masih bertekstur lembut. Demikian pula roti telur yang digoreng dengan wajan yang dipanaskan bara api; roti yang dilapisi telur akan matang sempurna, dengan aroma menggoda karena bebas bau gosong.
Warung kopi yang mulai tampak kusam termakan usia itu seolah berbisik, “Kami tak ikut tren, biarlah kopi kami tetap kopi tradisional.”
Kopi Maju memang sedikit berbeda dengan kebanyakan Kopitiam lainnya. Dengan satu set meja kursi di luar dan lima hingga enam set di dalam, kapasitasnya memang tidak besar. Karena tak terlalu ramai dengan pengunjung, menikmati kopi di warung itu jauh lebih tenang. Jika memesan, pesanan akan lebih cepat datang karena tak perlu antrean.
Selain dilayani oleh seorang Tacik (kakak perempuan Tionghoa) yang sudah berusia, ada pula seorang Koko (kakak laki-laki Tionghoa) yang masih cukup muda dan sigap melayani pesanan. Sekilas orangnya terlihat pendiam dan pemalu, tetapi ia tak pelit diajak mengobrol. Cerita tentang warung-warung kopi bahari di Samarinda meluncur lancar dari mulutnya.

BACA JUGA : Lahan Nganggur

Pada kunjungan pertama, saya tak punya cukup waktu untuk menikmati syahdunya ngopi di Warung Kopi Maju karena saya singgah sudah lewat pukul 17.00. Padahal, warung ini akan tutup pada jam 17.00 sore. Kebanyakan Kopitiam memang akan tutup sore hari, bahkan beberapa sudah tutup tak lama setelah tengah hari.
Satu dua foto yang diambil di Warung Kopi Maju saya unggah ke media sosial. Beberapa teman tertarik untuk turut mencicipinya. Saya pun datang kembali ke Warung Kopi Maju bersama seorang teman lainnya.
Beberapa ember arang yang ditaruh di bagian depan Warung Kopi Maju benar-benar menarik perhatian saya. Warung kopi ini menjadi unik dibanding warung atau kedai Kopitiam lainnya yang sering saya kunjungi. Tampil sederhana seperti kebanyakan warung lainnya, yang membedakan Kopi Maju dengan Kopitiam lain adalah absennya menu berat, seperti Soto Banjar atau Nasi Kuning.
Walau begitu, sajiannya tetap istimewa, karena selain kopi dan teh, ada aneka roti dan juga telur ayam kampung setengah matang. Karena tak ada makanan berat, kopi akan menjadi fokus utama untuk dinikmati. Asal datang saat perut tidak terlalu lapar, segelas kopi akan membuat hari semakin berarti.
Dibanding Kopitiam lainnya, Warung Kopi Maju jelas kalah populer, terutama dalam percaturan di media sosial. Warung ini hampir tak dikenal oleh anak-anak muda, Generasi Z apalagi Generasi C.
Namun, bagi pencari otentisitas, jelas Warung Kopi Maju menawarkan sesuatu yang khas: kopi yang di’rebus’ dengan arang. Untuk para pecinta kopi, menemukan Warung Kopi Maju serasa menemukan harta karun.
Saat menyeruput kopi terakhir dengan sensasi hangat arang yang masih melekat di lidah, saya menyadari, Warung Kopi Maju tidak perlu menjadi yang paling ramai. Cukup dengan menjadi yang paling setia pada tradisi, ia telah berhasil menciptakan identitasnya sendiri di tengah gempuran modernisasi warung-warung kopi tradisional di Samarinda.
note : sumber gambar – NONPROFIT JOURNALISM








