Ada masanya banjir sangat disukai di Kalimantan Timur, banjir itu adalah banjir kap. Istilah ini dikenal dari tahun 70 hingga 80-an saat kepala daerah/wilayah diberi wewenang untuk memberikan ijin pemotongan kayu bulat {log} didalam hutan.

Banjir kap merujuk pada masa kejayaan kayu bulat yang dipotong di hutan-hutan dan kemudian diangkut dengan cara dihanyutkan melalui Sungai Mahakam untuk dijual secara langsung kepada pembeli baik dari luar negeri maupun pulau lain yang kapalnya sudah menunggu di sepanjang Sungai Mahakam.

Banjir, saat air naik menjadi saat yang ditunggu sehingga para penebang dari hutan bisa mengangkut kayu dengan cara menghanyutkan melalui parit-parit buatan hingga sampai ke anak sungai atau Sungai Mahakam.

Dimasa ini cerita tentang uang berkarung-karung atau berpeti-peti adalah cerita biasa. Pun juga cerita macam orang kampung yang daerahnya tidak dialiri listrik namun ramai-ramai beli kulkas.

Pendek kata ada banyak orang menjadi “orang kaya baru’, mulai dari pekerja, calo hingga juragan-juragan. Paling tidak kini ada dua juragan yang kemudian dikenal sebagai pengusaha hotel besar di Samarinda, Ibukota Provinsi Kalimantan Timur. Haji Rusli yang awalnya adalah camat, kemudian pensiun dini kemudian dikenal sebagai pendiri dan pemilik Mesra Group; dan Yos Sutomo, yang kini dikenal sebagai pendiri dan pemilik Senyiur Group.

Ekploitasi hutan besar-besaran dan tanpa ampun ini memang tak berlangsung lama. Tahun 80-an, kegiatan ekploitasi hutan kemudian diserahkan kepada perusahaan-perusahaan dengan modal kuat dan mempunyai ijin HPH. Kayu tidak lagi dijual secara langsung dalam bentuk kayu bulat, melainkan kayu olahan dan kayu lapis.

Di Samarinda sendiri kemudian berkantor kurang lebih 30-an perusahaan, beberapa diantaranya adalah perusahaan pengolahan kayu yang besar. Namun menjelang tahun 2000-an, era kejayaan kayu mulai meredup, banyak perusahaan mulai tutup dan menyisakan kawasan serta bangunan yang mangkrak, terbiar begitu saja.

Kenapa industri kehutanan utamanya kayu bulat yang berasal dari hutan alam dengan cepat tumbang?.

Agus Afianto, akademisi dari Universitas Gajah Mada yang lebih dikenal dengan nama alias Prof. Picoes menerangkan bahwa karakter industri kehutanan itu unik. Dari sisi ekonomi, industri kehutanan adalah industri yang punya karakter long term production period.

Jika kayu yang dipanen adalah kayu yang ditanam akan butuh waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk menunggu, meski sekarang ada beberapa jenis kayu yang hanya butuh 10-15 tahun untuk dipanen.

Maka cara untuk mempercepat adalah dengan menebang kayu pada hutan alam. Dan disinilah masalah timbul. Menebang kayu pada hutan alam diandaikan oleh Agus Afianto sebagai berproduksi dengan cara merusak pabriknya.

Kayu dari hutan alam yang ditebang adalah pohon yang menjadi pabrik penumbuh kayu itu. Dan kayu tidak mungkin dipanen hanya dengan dikupas kulitnya atau hanya diambil dahannya. Kayu menjadi produk ketika ditebang pohonnya. Proses itulah yang bisa menghasilkan produk, namun sekaligus juga merusak pabriknya.

Dan untuk menghasilkan kayu yang ditebang dengan diameter sebesar drum minyak, perlu waktu ratusan bahkan ribuan tahun. Lamanya waktu itu tak mungkin dikejar untuk memenuhi kebutuhan dari pabrik-pabrik yang rakus bahan kayu. Akibatnya tidak butuh waktu lama, pabrik-pabrik akan kehilangan bahan baku ketika tak lagi tersedia lahan hutan alam yang bisa {diijinkan} untuk ditebang.

Kelak kemudian memang muncul hutan produksi, hutan yang sengaja ditanami dengan tanaman sejenis. Namun produksi kayunya jelas berbeda dengan hutan alam, pun juga ekosistemnya. Hutan kayu sejenis yang berasal dari pohon yang ditanam meski disebut hutan jelas akan miskin keanekaragaman hayati dibanding dengan hutan alam. Pun demikian juga dengan fungsi ekologis atau layanan ekosistem yang dihasilkan olehnya.

Lalu saat ini berapa luas hutan Kalimantan Timur yang tersisa?.

Berdasarkan SK Menhut No 79/Kpts-II/2001 luasan hutan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara adalah 14.651.533 ha. Yang terdiri dari kawasan konservasi seluas 2.165.198 ha, kawasan hutan lindung 2.751.792 ha, kawasan hutan produksi tetap 4.612.965 ha dan hutan produksi 5.121.688 ha.

Tapi luasan ini terus menurun seperti tercermin dari terbitnya SK Menteri Kehutananan No. 664/Menhut-II/2013 dimana dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah Provinsi Kalimantan Timur disetujui perubahan peruntukan kawasan hutan menjadi bukan hutan.

Selain itu luasan hutan juga menurun dengan terbitnya kebijakan Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan {IPPKH}. Jenis izin ini diberikan kepada perusahaan tambang batubara dan perusahaan non tambang lainnya. Jumlahnya mencapai ratusan dengan luasan ratusan ribu hektar.

Bicara soal luasan hutan, data yang tersedia tidak selalu mencerminkan realitas yang sebenarnya. Yang disebut data luasan hutan bukanlah gambaran eksisting hutan melainkan data administrative dan hukum. Sehingga meski disebut sebagai kawasan hutan, bisa jadi didalamnya jumlah bangunan dan infrastruktur lainnya jauh lebih besar dari tegakan pohon dan isi hutan lainnya. Namun meski berwujud kampung, kawasan itu tetap disebut hutan karena secara administratif dan hukum ditentukan demikian.

Aktivitas penebangan dan alihfungsi dari jaman banjir kap hingga jaman tik-tok ini tentu saja menimbulkan gangguan pada keseimbangan alam terutama tata air. Kualitas lingkungan menjadi menurun dengan peningkatan air permukaan dan erosi tanah di musim hujan. Akibatnya sungai dan badan air yang terhubung dengan kawasan hutan mengalami pendangkalan yang luar biasa.

Sementara pada musim kemarau, rendahnya tutupan lahan dan makin sedikitnya air yang meresap dalam tanah membuat kelembaban tanah menjadi cepat berkurang sehingga memancing kebakaran lahan, terutama lahan gambut.

Dan dimasa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, sering kali terjadi kelongsoran karena tanah terutama yang berada di kemiringan kehilangan faktor pengikatnya.

Dampak akibat deforestasi di masa lalu dan masih berlangsung sampai sekarang meski tidak sebrutal jaman lalu kini menyisakan bencana yang kian lama kian permanen dalam rupa banjir, kekeringan, kebakaran lahan dan tanah longsor.

Meski demikian masih ada kabar baik. Hutan yang tersisa di Kalimantan Timur secara kualitatif masih cukup mempunyai daya dukung untuk menopang kehidupan masyarakatnya. Namun kabar buruknya, kualitas atau daya dukung ini tidak berlaku merata. Ada tempat atau wilayah tertentu yang daya dukung hutannya sangat rendah atau bahkan minus.

Dan sayangnya area atau wilayah terburuk itu adalah Kota Samarinda yang merupakan Ibukota dari Provinsi Kalimantan Timur. Wilayah hutan yang tersisa di Kota Samarinda, termasuk dengan Hutan Kotanya tidak lagi cukup untuk menahan beban atau tekanan terhadap lingkungan hidupnya.

Kota yang tak lagi berhutan pasti akan banyak berhutang. Hutangnya adalah hutang ekologis yang mesti dibayar dengan penderitaan warga di semua musim. Musim hujan akan kebanjiran, musim kemarau akan kekeringan. Di musim hujan sungainya akan kelebihan air, namun di musim kemarau sungainya akan kekurangan air, menghitam airnya dan berbau dan hanya mengalirkan sampah.

Longsor dan kebakaran juga akrab dalam kehidupan keseharian warganya.

Itulah harga yang harus dibayar ketika kita memanen dengan cara merusak pabriknya.

sumber gambar : www.hutanhujan.org

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here