Apa yang dicari manusia?. Banyak orang akan menyebut rasa bahagia.

Bahagia secara sederhana adalah keadaan tanpa ancaman atau rasa nyaman.

Namun ternyata para neuroscientis mengatakan bahwa kenyamanan atau kebahagiaan yang bertahan lama akan membahayakan. 

Pasalnya bahagia akan membuat manusia terlena. Ketiadaan masalah akan membuat manusia berhenti berpikir, tak lagi mencari kiat, trik atau apapun untuk memperjuangkan hidupnya. 

Konon keadaan tanpa ancaman akan membuat manusia berhenti mengembangkan kecerdasan yang bisa mengantar pada kematian atau bahkan kepunahan.

***

Perkembangan kecerdasan manusia berhubungan erat dengan pencarian untuk menemukan cara hidup yang lebih baik, lebih nyaman untuk semua.

Lahirlah teknologi, alat bantu untuk mengatasi berbagai persoalan. 

Teknologi terus berkembang dari waktu ke waktu. Dan perbaikan dari satu model ke model lainnya terkadang nampak sebagai lompatan kemajuan yang tak berhubungan dengan yang sebelumnya. Inilah yang disebut disrupsi.

Disrupsi sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Namun sepuluh tahun terakhir ini menjadi sangat terasa karena kemajuan terjadi dalam ruang yang berbeda. Apa yang sebelumnya mekanis dan fisik  kini masuk dalam ruang digital. Sehingga inovasi atau kreatifitas seolah meniadakan yang lama.

Ya disrupsi adalah sebuah inovasi atau kreatifitas yang menghasilkan produk, platform atau sistem yang mengantikan model lama dengan cara baru.

Disrupsi menjadi kentara karena pemain lama, raksasa di jamannya kemudian banyak yang tumbang, terseok dan punah. Apa yang dianggap terlalu kuat untuk bangkrut, karena penguasaan pasar, karena kekayaan, karena penguasaan teknologi sebelumnya terbukti bisa kalah.

Kita menyaksikan para inovator yang berjasa melakukan perubahan namun kemudian mencapai puncak kenyamanan akhirnya terlena dan kemudian tergilas. Tergilas oleh kelompok yang kecil, apa yang lazim disebut sebagai start up.

Nokia, Sonny Erikson, BlackBerry, nama besar dalam teknologi komunikasi mobile tumbang.

Yahoo, perusahaan teknologi yang kemudian berkembang jadi perusahaan media akhirnya sekarat.

Ritel, swalayan raksasa, mall-mall kesepian karena toko online dan marketplace.

Pegawai Bank-bank mulai cemberut karena fintech.

Raksasa otomotif dunia Toyota, tahtanya mulai digeser oleh Tesla.

Apa pesannya?. Tinggalkan zona nyaman, teruslah berkreasi dan berinovasi. Jangan merasa sudah besar dan tak tergoyahkan. 

***

Dunia adalah pasar yang diperebutkan oleh mereka yang memproduksi produk jasa, barang, layanan, informasi dan pengetahuan tentang apapun yang membuat hidup penghuninya menjadi lebih mudah, aman dan nyaman.

Semua berlomba menemukan dan membuat apa yang dibutuhkan oleh manusia  serta bernilai ekonomi.

Kreatif dan inovatif menjadi kunci. Sebab di masa sekarang ini, disaat segala sesuatu menjadi serba digital yang disebut temuan bukan lagi evolutif melainkan revolutif.

Apa yang dulu tidak kita pikirkan bahkan sudah terjadi. Siapa yang berfikir akan muncul Gojek, perusahaan angkutan namun tak punya mobil dan motor, perusahaan layanan makanan tapi tak punya restoran, perusahaan keuangan tapi nggak punya bank.

Pembeli adalah raja, itu merupakan mantera lama. Tapi sekali lagi di jaman digital pelayanan kepada pelanggan dan pembeli menjadi lebih terpersonifikasi. 

Yang disebut layanan premium bukan lagi milik mereka yang kaya raya, kelompok eksklusif dan kaum elit. Pengalaman belanja justru menjadi layanan utama bukan layanan istimewa. 

Dunia memang berubah cepat. Namun masih ada yang bergerak amat lambat. Yang lambat itu adalah politik.

Politik adalah semua hal Ikhwal untuk membuat kehidupan bersama menjadi lebih baik. Politik menempatkan suara rakyat sebagai suara Tuhan (Vox Populi, Vox Dei). Para politikus menyebut diri sebagai pelayanan masyarakat.

Tapi politik terus menerus masih merupakan janji. Janji keteraturan, janji keadilan, janji kesejahteraan dan seribu janji lainnya 

Dan janji adalah fiksi.

Karena konon politik lahir di jaman pertanian, lahir dari tangan orang pemalas namun pintar mengarang. Tujuannya adalah mereka tak bekerja namun dapat panenan lebih besar dari mereka yang rajin menanam.

Karena karangannya maka kaum pemalas ini disaat panen bisa mendapatkan setoran dari petani. Dan sampai hari ini politik tetap tak jauh dari setoran yang bukan merupakan hasil dari kerja keras, keringat dan kecerdasan mereka.

Sumber gambar : wartaekonomi.co.id – medium

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here