KESAH.IDGelombang lay off, atau diberitakan sebagi PHK di perusahaan media mainstreams semakin kencang setelah pandemi Covid 19. Ada ribuan jurnalis berpengalaman kehilangan naungan, medianya tak lagi mampu menghidupi profesi ini. Mereka harus berhenti bukan karena tak mampu menuliskan berita dengan mendalam, memproduksi informasi yang diperlukan oleh masyarakat. Namun kue iklan yang dulu membiayai operasi pemberitaan makin mengecil, google dan meta menjadi platform yang lebih menarik untuk pemasang iklan karena ekposure yang besar. Masa depan jurnalistik terancam, karena kehilangan kawah candra dimuka, tempat jurnalis dengan idealisme yang terjaga ditempa.

Menjelang tahun 2000-an, saya mendapat istilah baru IDP’s, internal displacement people. Istilah ini untuk menyebut para pengungsi di dalam negeri, mereka yang terusir atau keluar dari tanah tinggalnya karena sebuah persoalan sehingga tak aman ditinggali, atau mereka bahkan tak dikehendaki tinggal disana.

Waktu itu Sulawesi Utara memang menjadi lokasi pengungsian warga Maluku Utara karena konflik horizontal disana. Mereka datang bergelombang dan kemudian ada yang tinggal di Bolang Mongondow, Bitung, Manado dan Sangihe.

Saya yang waktu itu bekerja di sebuah yayasan dalam program kesehatan masyarakat kemudian memikirkan untuk melakukan dukungan psikososial terhadap para pengungsi, terutama yang tinggal di Manado dan Bitung. Kebetulan sebelum itu saya mengikuti sebuah sesi pelatihan tentang kesehatan mental dan perilaku.

Istilah IDP’s saya baca dari dokumen LG karena proposal yang saya tuliskan untuk sebuah lembaga bantuan yang kini sudah dibubarkan oleh Donald Trump diterima.

Dua puluh tahunan lebih berlalu, setelah mendapat sebuah kabar yang menyedihkan dari perbincangan di zoom minggu lalu tentang banyaknya pemberhentian jurnalis di Jakarta, kali ini saya mendapat istilah baru dispaced journalist.

Teman yang terlibat dalam perbincangan di zoom menyebutnya sebagai lay off. Banyak perusahaan media memberhentikan pekerjanya terutama jurnalis. Tapi berita menyebutnya sebagai PHK atau Pemutusan Hubungan Kerja.

Kabarnya memang ada PHK massal, jumlah jurnalis yang diberhentikan dalam setahun ini berjumlah 1.200 dari media online, cetak dan televisi. Kompas, MNC, Inews, Republika, Liputan 6, Jawa Pos, Tribun dan lain-lainnya seperti kompak menyerah, tak lagi mampu lagi melawan algoritma yang menggantikan tugas ruang redaksi.

Bekerja di media raksasa kini bukan jaminan gengsi lagi, yang bertahan di dalam mungkin hanya menunggu waktu yang bisa jadi tidak akan lama lagi, menyusul rekannya kehilangan pekerjaan.

Istilah displaced journalists belum lama muncul. Menurut asal usulnya istilah ini muncul dari kafe kecil di Brooklyn. Biasa para jurnalis memang berkumpul di café-café tertentu. Kali ini yang berkumpul adalah tiga jurnalis yang tak lagi mengetik berita, padahal mereka bekerja di media raksasa, tapi kemudian kehilangan pekerjaannya.

Dua puluh tahunan lalu, ada seseorang dengan latar jurnalis radio yang bertanya pada saya “Kenapa tak menjadi jurnalis saja?”

Saya waktu itu memang bergaul akrab dengan jurnalis dan menghormati kemampuan mereka merangkai kata berdasarkan fakta.

Saya hanya menjawab ingin keliling Indonesia dan menulis.

Ada masa saya keliling kemana-mana, terutama Indonesia bagian timur dan sedikit tengah. Indonesia barat teramat jarang. Baru satu kali saya ke Sumatera, singgah di Medan dan kemudian ke Pematang Siantar.

Saya juga membiasakan untuk terus menulis. Namun ternyata pernah juga saya menjadi jurnalis. Mulanya media yang diterbitkan oleh sebuah program lingkungan hidup, dan kemudian menjadi jurnalis di media informasi lingkungan hidup.

Tapi saya tak pernah melabeli diri sebagai jurnalis, karena tak ada satu lembar kertaspun yang membuktikan kompetensi saya dalam jurnalistik.

Jadi ketika saya tak lagi bekerja di media informasi lingkungan hidup, saya tak merasa menjadi bagian dari displaced journalists.

BACA JUGA : Nyabu Sabu

Sebenarnya ketika internet berkembang dan diikuti oleh tumbuhnya platform media sosial, para tokoh media sudah mewanti-wanti, media mainstreams bakal mengalami senjakala. Jacob Oetama pendiri konglomerasi media Kompas, memperingatkan soal itu dalam kesempatan ulang tahun Kompas, entah yang keberapa. Yang jelas refleksi itu diterbitkan dalam sebuah buku.

Tapi tak ada yang menduga senjakala akan secepat itu.

Umumnya media, perusahaan media dan awaknya yakin mereka mampu menyesuaikan diri. Sebab orang-orang media termasuk menjadi orang yang pertama menguasai dan paham dengan seluk beluk internet.

Tapi mengonlinekan media mainstreams ternyata tak cukup. Bahkan yang lahir dengan native sebagai media online juga sudah mulai bertumbangan.

Masalahnya adalah cuan. Dan berita atau warta yang tadinya ditunggu dari jurnalis, kini bisa diberitakan oleh siapa saja. Media yang bermutu sekalipun juga ngos-ngosan. Punya jurnalis handal, tapi siapa yang harus membayar mereka jika iklan berada dalam penguasaan google dan meta.

Kini jarang ada perusahaan membeli air time siaran. Siaran langsung sudah bisa disiarkan melalui platform media sosial, engagement tak kalah dengan televisi. Siaran yang ditangkap menggunakan layar bukan lagi bersandar pada telvisi, melainkan pada layanan OTT, Over The Top, sebuah layanan streaming yang memungkinkan ditangkap melalui saluran internet.

Dulu televisi panen iklan dari sinetron atau serial-serial lainnya. Kini sinetron atau film bisa ditonton setiap waktu tanpa jadwal karena disiarkan oleh platform streaming seperti Netflix dan lain-lain. Platform ini bertahan karena menggunakan sistem video on demand yang berbayar, sementara siaran televisi mustahil menarik bayaran dari pemirsanya. Sejak dulu siaran televisi gratis, kecuali TVRI yang pernah mengenakan iuran. Itupun tak terlalu bisa mengumpulkan banyak uang, yang makan hati justru penagihnya.

Lay off, PHK atau apapun istilah lainnya sungguh menyedihkan. Mereka yang terpaksa kehilangan pekerjaan bukan orang-orang yang tak ahli. Kompetensi mereka tinggi, ketrampilannya sudah teruji tapi kemudian kompetensi itu tak lagi dibutuhkan karena wadah yang menaungi mereka gagal melakukan monetisasi produknya.

Prahara ini terutama mengenai institusi atau perusahaan media yang besar, yang punya jurnalis dalam jumlah yang cukup banyak.

Kecerdasan buatan turut menyumbang dengan cepat senjakala media konvensional yang berusaha menyesuaikan diri dengan jaman ini. Kini berita sudah bisa disusun dengan cepat dengan bantuan ChatGPT atau Copilot. Pena jurnalis sudah bisa diganti oleh penulis yang tak kelihatan, ghostwriter-nya adalah mesin yang dilengkapi dengan kecerdasan generativ buatan. Mesin kecerdasan yang dilengkapi dengan kemampuan belajar mandiri.

Bermodalkan mesin ini, penerbit bisa menjalankan publikasi dengan cara yang lebih murah dan cepat. Penulis beritanya tak mengeluh, juga tak menagih gaji.

BACA JUGA : CSR Tambang Itu Banjir dan Lumpur

Bicara soal sumberdaya para displaced journalists ini jelas bukanlah mereka yang dipecat karena gagal membuat produk. Mereka bukan orang gagal, orang tak berbakat, melainkan mungkin justru generasi terbaik jurnalistik namun harus terlempar dari sistem publikasi media yang tak lagi cukup menghasilkan uang untuk mempertahankan kinerja usahanya.

Peristiwa ini merupakan peristiwa jaman, karena kejadiannya bersifat global. Jurnalis hebat dan berbakat, menguasai teknik penulisan dan menaati etika jurnalistik namun kemudian tak bisa menjalankan profesi itu ada di mana-mana, di seluruh dunia. Jumlah jurnalis yang tumbang bertambah, media yang hilang tak berkurang.

Tanpa melakukan downsizing, dipastikan jumlah perusahaan media yang tumbang makin banyak lagi. Kini sebagian yang bertahan, jumlah jurnalisnya lebih sedikit dari jumlah tim kreator konten visual.

“Revolusi sedang hamil tua,” begitu agitasi aktivis sosialis setiap kali melihat gejolak politik yang membuat wajah regim memburuk. Saya sudah mendengarnya hampir seumur hidup.

Tapi yang cepat hamilnya justru senjakala media. Tak sampai separuh hidup saya menyaksikan tumbangnya radio, koran, televisi bahkan media online.

Tapi bukan berarti dunia tak butuh jurnalis. Profesi jurnalis tetap diperlukan walau selera publik cenderung suka pada yang viral-viral. Hanya saja institusi jurnalis formal ayng kini berada dalam tekanan, bekerja dalam institusi penerbitan tak lagi menjamin pendapatan seorang jurnalis. Kalaupun bisa menjamin, jaminannya juga tak lama dan mungkin harus menggadaikan idealismenya, karena media yang bertahan adalah media yang maju tak gentar membela yang bayar.

Tapi selalu ada yang bisa bertahan dan tidak menyerah, bahkan sebagian ada yang sudah mengantisipasi.

Di youtube dan kanal lainnya kita bisa melihat jurnalis yang membuka kanal sendiri. Mereka membuat vlog, video feature, podcast dan lain-lain. Banyak yang berhasil membangun kredibiltas personalnya, karena latar belakang jurnalistiknya.

Ruang redaksi mungkin mati, tapi masyarakat tetap menunggu informasi. Dan jurnalis tetap bisa menjadi produsen berita dan informasi walau tidak berada dalam bendera institusi. Jurnalis tetap bisa menjadi narator-narator independen.

Karena insitusinya tidak gemuk, mereka bisa beroleh pendapatan dari konten berbayar, donor, program lsm, atau konsumen yang bersedia membeli analisis data yang dihasilkan oleh mereka.

Jaman telah berubah, profesi besar yang terhormat yang kemudian akan terlumat bukan hanya jurnalis, mungkin akan disusul oleh dokter, guru, dosen, desainer dan lain-lain.

Bisa jadi ada yang melihat perubahan ini sebagai masa suram. Tapi tak tertutup kemungkinan untuk melihat situasi ini sebagai tranformasi, perubahan.

Disrupsi ini isa jadi merupakan peluang. Peluang bagi jurnalis untuk menunjukkan eksitensinya tanpa bayang-bayang kebijakan redaksional dan agenda pemilik perusahaan media.

Jurnalis kini bisa punya agendanya sendiri, terbuka untuk membangun komunitas, mandat, kepercayaan dari publik. Jurnalis bisa menjadi lebih otoritatif, punya pengaruh daripada sebelumnya dimana pengaruhnya selalu diwakili oleh institusi media.

Tak punya rumah, mengungsi bukan berarti lontang-lantung. Bisa jadi ini merupakan transisi untuk menemukan rumah baru.

Namun sebuah refleksi untuk masa depan jurnalistik mungkin perlu ditanyakan. Kalau institusi jurnalistik kemudian melemah, siapa yang kemudian akan mendidik, melatih dan menyediakan kawah candra dimuka untuk lahirnya jurnalis-jurnalis handal di masa depan?

note : sumber gambar – AA