Adalah kebiasaan Mustofa untuk berlama-lama di toilet. Biasanya saat buang air besar, selalu dipakai olehnya untuk mengkhayal. Kali ini khayalan Mustofa adalah tentang Sungai Karang Mumus di masa depan. Dia membayangkan wajah Sungai Karang Mumus di masa depan tak lebih dari guratan panjang dengan air menghitam tergenang pada bagian tengah sungainya.
Bayangan kelam tentang Sungai Karang Mumus ini membuat Mustofa berpikir untuk mengajak teman-temannya berbicara tentang masa depan sungai mereka ini. Mumus ingin menerapkan model Future Search Dialoque untuk membuat berbagai skenario penyelamatan Sungai Karang Mumus agar tak berkembang menjadi mantan kali.
-000-
Pagi-pagi sekali Mustofa sudah mengajak Bondan untuk bicara di bawah pohon tepian sungai. Bondan tahu benar jika mengajak kesitu pasti ada rencana atau perbincangan yang serius. Ketika menuju kesana Bondan hanya diam membisu demikian pula dengan Mustofa.
Sesampai disana dan setelah duduk, Mustofa langsung membuka pembicaraan “Bondan, kita harus segera menyelamatkan Sungai Karang Mumus,”
“Waduh…. apa-apaan kamu ini Mustofa, kenapa Sungai Karang Mumus?”
“Kamu itu nggak lihat kah Bondan, coba kita bandingkan dari tahun ke tahun, adakah yang berubah di Sungai Karang Mumus?”
“Ya adalah Mumus, sekarang sulit sekali dapat ikan kalau mancing,”
“Nah, itu salah satunya. Apalagi menurut kamu?”
“Airnya makin buruk, dulu coklat kekuningan sekarang kehitam-hitaman, kadang agak kehijauan,”
“Jadi menurut kamu, apa kesimpulannya?”
“Trend-nya kualitas sungainya semakin menurun,”
“Nah, kok bisa padahal kita ini kan daerah kaya, masak nda mampu pelihara sungai?”
Bondan sejenak berpikir. Pikirannya justru tertuju pada perkataan Mustofa yang menyebutkan daerah tempat tinggal mereka sebagai daerah yang kaya. Padahal dari apa yang terjadi justru sebaliknya. Daerahnya memang kaya, namun kekayaan makin lama makin menurun, pertumbuhan ekonominya cenderung melemah dan konon bahkan sudah dibawah nol alias minus.
“Mumus daerah kita ini sudah tidak kaya lagi. Sudah hilang kekayaan kita ini,”
“Kamu jangan ngarang-ngarang Bondan, kayak kamu itu ekonom saja,”
“Bukan aku Mumus ekonomnya, tapi coba lihat laporan otoritas keuangan. Ini lihat minus pertumbuhan ekonomi daerah kita,” ujar Bondan sambil menunjukkan grafik yang dibuka dari website otoritas keuangan negara.
“Oh inilah yang orang sebut sebagai defisit, biar lebih halus istilahnya,”
“Kita memang sering begitu Mumus, menghalus-haluskan istilah, menggunakan permainan bahasa untuk menutupi kenyataan,”
“Ah, nggak lah Bondan justru kata defisit itu tidak menutupi kenyataan. Defisit itu artinya kita pasrah, hanya menunggu dana bagi hasil saja tanpa ada upaya untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi yang melemah itu. Para pemimpin kita hanya berdoa agar harga komoditas energi merambat naik kembali, padahal Tuhan nggak ikut campur menentukan harga batubara, minyak dan gas,”
“Kalau diibaratkan lagu, kita ini lagu favoritnya …terlena….ku terlena ….”
“Itu sudah kita terlena karena pertumbuhan ekonomi kita mengandalkan pada industri tebang dan ekstraktif. Lalu kita kehilangan hutan, minyak dan gas menipis, batubara hampir habis,”
“Tapi kehilangan pertama kita adalah sungai, kita kehilangan sungai-sungai yang hebat dengan segala sejarahnya. Kamu kan tahu Mumus, banyak daerah kita dinamai berdasarkan sungai atau hal-hal lain yang terkait sungai seperti muara misalnya,”
“Iya Bondan ada banyak sekali kosa kata yang terkait dengan sungai seperti Lung, Long, Lok, Loa, Kedang, Karang, Tanjung dan lain-lain,” ujar Mustofa.
Bondan mengangguk-angguk mendengar keterangan Mustofa.
“Iya seperti Kota Samarinda, ini kita sudah lama kehilangan Sungai Karang Mumus, padahal dari pinggiran sungai ini banyak lahir Primus, pria karang mumus yang hebat-hebat dimasa lalu,”
“Aku setuju Bondan, buktinya kita lebih memilih bikin festival Mahakam ketimbang festival Karang Mumus,”
“Bicara soal sungai sebenarnya apa masalahnya?” tanya Bondan.
“Masalahnya yang dianggap sungai itu cuma badan sungai. Jadi yang disoal ya cuma sampah dan rumah-rumah dipinggiran. Maka untuk menyehatkan sungai pikirannya cuma satu yaitu relokasi,”
“Lho memang begitu to sungai itu?”
“Nah ini kalau isi kepalamu kecil. Sungai itu sistem yang rumit tapi bukan tak teratur. Yang disebut sungai bukan saja alur air tetapi juga daerah di sekitarnya bahkan jauh tapi tetap terhubung. Makanya ada sebutan Daerah Aliran Sungai, itu bukan hanya alur air, tetapi daerah pasang surut, sempadan, daerah resapan air, daerah perlindungan sungai, kawasan peyangga dan seterusnya,” terang Mumus.
“Jadi masalah Sungai Karang Mumus itu bukan cuma permukiman di badan sungai sama sampah dan limbah yang dibuang ke sungai?”
“Ya sekarang coba saja bersihkan semua rumah di pinggir sungai, lalu nda ada orang buang sampah lagi. Apakah sungai akan membaik?. Belum tentu, kalau pelumpuran terus terjadi ya sungai pasti dangkal, nda cukup menampung air hujan lalu tetap saja terjadi banjir,”
“Oh, begitu to?”
“Ya iya, sungai itu ekosistem, jadi harus terhubung antara alur air, daerah pasang surut dan daratan di kanan kirinya. Kalau sungai tidak diperhatikan ekosistemnya ya jadinya bukan sungai tapi cuma saluran air. Kamu ingat kah kalau sungai disebut air kehidupan, itu kenapa?. Karena sungai dan lingkungan sekitarnya itu habitat, tempat dan ruang hidup. Sungai walau bagus dipandang mata tapi kalau sudah tidak lagi menjadi habitat mahkluk tertentu ya artinya sungai itu sungai mati,”
“Lalu kalau melihat Sungai Karang Mumus sekarang ini, apakah kondisi sekarang ini karena kita tidak punya ahli sungai?”
“Ya ada lah, masak nggak sih. Kita kan banua sungai, masak nda ada ahlimya,”
“Lho kemana saja mereka selama ini?”
“Ya pasti jadi penasehat ahli lah,”
“Kok sungainya memburuk,”
“Namanya juga penasehat, kalau nasehatnya nggak didengar ya nda bisa maksa,”
“Lha kalau nasehatnya nggak didengar kok masih mau jadi penasehat?”
“Tanya saja ke mereka jangan ke aku lah. Tapi begini yang namanya penasehat itu juga harus mempertimbangkan kepentingan kalau memberi nasehat atau nasehatnya mau didengarkan,”
“Kepentingan siapa?”
“Ya kepentingan yang diberi nasehat, itu bisa kepentingan politik, ekonomi atau apapun,”
Bondan garuk garuk kepala walau tadi barusan keramas.
“Mumus, banyak lho orang yang mencintai sungai dan mengenal sungai ini tapi kok nda dipanggil jadi penasehat ahli,”
“Nah itu, orang-orang yang bekerja dengan hati biasanya memang tidak dipanggil jadi penasehat ahli lagipula mereka biasanya juga gak mau,”
“Kok bisa?”
“Ya itu karena mereka bekerja dengan hati,”
“Kalau begitu para penasehat ahli itu tidak bekerja dengan hati kah?”
“Ya itu yang bilang kamu bukan aku,”








