Ada ungkapan dalam bahasa jawa ‘kere munggah bale’ yang mengambarkan perubahan drastis pada diri seseorang yang kemudian berperilaku norak. Dan orang lan kemudian akan mengatakan orang itu sebagai kacang lupa kulit, orang yang tak sadar akan asal usul sebelumnya.

Dan mereka yang benar-benar jengkel kemudian akan membuat umpatan “krokot ditandur nang pot tetep ngesot” atau yang namanya rumput krokot sekalipun ditanam dalam pot tetap saja merambat.

Ungkapan itu dalam konteks perbincangan tentang sejarah yang konon pelajaran direncanakan untuk dihapus dari jadwal pelajaran siswa SMK, pasti akan diucapkan oleh mereka yang menentang. Sejarah yang adalah latar belakang tentu saja dianggap penting sehingga tak pantas untuk dihapus atau tidak diajarkan lagi.

Sebagian besar pendidik pasti merasa sejarah merupakan bagian penting dari perjalanan sebuah bangsa dan perlu ditanamkan dalam benak anak-anak muda (murid sekolah) untuk mengembangkan dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan kepedulian sosial budaya. Sejarah adalah bagian dari pendidikan karakter.

Dan hal itu telah dengan jelas ditegaskan oleh bapa bangsa, proklamator kemerdekaan RI yaitu Sukarno yang terkenal dengan singkatan Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Oh, iya wacana tentang penghapusan pelajaran sejarah itu ada dalam draf “Sosialisasi Penyederhanaan Kurikulum dan Asesmen Nasional” yang dirilis tanggal 25 Agustus 2020 yang kemudian menjadi berita dalam laporan harian Kompas edisi 18/09/2020 berjudul “Pelajaran Sejarah Terancam Hilang“.

Tentu saja laporan berita itu membuat banyak pihak meradang, utamanya para pengajar sejarah, masyarakat sejarah, ahli sejarah dan lain sebagainya. Entahlah apakah para mahasiswa sejarah ikut marah atau tidak. Yang pasti sampai hari ini tidak ada kabar tentang demontrasi menentang rencana itu dari mahasiswa sejarah. Bisa jadi karena kita sedang dalam masa pandemi Covid 19, tapi bisa pula para mahasiswa itu setuju saja sebab pelajaran sejarah bagi mereka memang membosankan.

Para mahasiswa jurusan sejarah pasti paham betul bahwa mereka adalah salah satu kelompok mahasiswa yang paling tidak dianggap penting bahkan kerap menerima ejekan sebagai kelompok yang gagal ‘move on’.

Meski dianggap tak bergengsi namun bukan berarti mahasiswa jurusan sejarah bisa bicara sembarangan. Pelajaran dan metodologi sejarah mengajarkan para mahasiswa untuk tidak mudah bicara tanpa bukti yang valid. Bicara sejarah sembarangan selain bisa menyebabkan kegaduhan, bisa pula berakhir dengan pemeriksaan polisi dan jeruji besi. Menyebarkan sebuah versi pengetahuan sejarah yang memang banyak versi bisa-bisa berurusan dengan pasal.

Inilah ironi, disaat kita banyak kali meneriakkan ‘Jas Merah’, ternyata fakultas sejarah tidak ada di semua universitas. Dan dengan jumlah fakultas yang sedikit itu ternyata yang mendaftar juga tidak berjejal seperti fakultas-fakultas lainnya.

Fakultas sejarah tidak menjadi favorit karena tujuan dari kuliah setelah lulus nanti adalah bekerja. Dan instansi, perusahaan atau lembaga apapun yang membuka lapangan kerja umumnya memang tidak suka sejarah, apalagi sejarah yang mengungkit-ungkit masa lalu. Alhasil lulusan fakultas sejarah sulit untuk memperoleh pekerjaan.

Yang cocok belajar sejarah itu memang mereka yang berniat jadi aktivis lsm, yang suka membela kepentingan rakyat untuk menghadapi investor yang lapar lahan. Investor yang suka mencaplok dan mengkonversi lahan untuk berbagai kepentingan.

Sejarah juga penting dipelajari oleh mereka yang akan menjadi pembela Hak Asasi Manusia. Mereka yang selalu kritis pada ketidakadilan dan praktek busuk regim dan aparaturnya di masa lalu.

Nah bayangan jika yang rajin belajar sejarah bukan hanya aktivis melainkan semua siswa dan mahasiswa, apa tidak repot negeri ini. Setiap hari akan muncul penolakan pada investasi dan demo juga tiada pernah berhenti karena ada deret ketidakadilan dan pelanggaran HAM di masa lalu yang dibiarkan begitu saja tanpa penyelesaian.

Maka bisa dipahami jika kemudian Kementerian yang mengurusi pendidikan justru berinisiatif untuk menghapus dan menghilangkan pelajaran sejarah di SMU dan SMK. Sejarah tidak menjadi pelajaran wajib.

Selain karena menterinya berlatar bidang yang futuristik, pelajaran yang jauh lebih penting adalah ilmu-ilmu atau pengetahuan yang bernilai praktis di masa depan. Kemampuan atau ketrampilan yang akan mengantar kepada era 4.0 atau bahkan 5.0.

Tapi kan sejarah tetaplah penting dan darimana kita belajar sejarah jika bukan dari pelajaran?

Jangan khawatir, yang disebut dengan media sosial dan semua yang daring-daring akan mengumpulkan catatan sejarah. Bukan hanya sejarah bangsa melainkan juga sejarah individu-individu. Sejarah dengan sendirinya akan tercatat dalam jejak digital yang ada di facebook, twitter, youtube, IG dan lain sebagainya.

Facebook bahkan tercatat paling rajin mengingatkan sejarah, pada hari yang sama apa yang kita posting di masa lalu akan muncul sebagai kenangan. Bahkan ulang tahun pertemanan kita dengan seseorang akan juga selalu diingatkan oleh facebook.

Jadi biarpun kita tak rajin membaca dan belajar sejarah, tetaplah menjadi bagian dari sejarah dengan gemar bermain media sosial. Dengan rajin bermain dan kepo-kepo media sosial maka kita sudah mematuhi nasehat presiden pertama RI karena kita tidak melupakan sejarah.

kredit foto : Ali Yahya – unsplash.com