Dalam dunia ekonomi dikenal sebuah paradoks yang disebut kutukan sumber daya alam. Sebuah fenomena dimana daerah atau negara dengan kekayaan sumber daya alam yang besar ternyata mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat dari daerah atau negara yang tidak memiliki sumber daya alam yang berlimpah.

Atau dengan kata lain, ekploitasi kekayaan sumberdaya alam yang dimiliki justru membawa masyarakatnya dalam kondisi hidup yang rawan konflik dan tetap miskin. Ekstraksi sumberdaya alam gagal menjadi alat ungkit untuk membangkitkan kesejahteraan masyarakat.

Kondisi ini tercipta karena industri ekstraktif secara alamiah adalah industri yang tertutup. Akses dan kontrol masyarakat atasnya sangat rendah. Sejak awal dari proses perijinan hingga ekploitasi masyarakat sekitar tidak tahu apa-apa. Hal mana menyebabkan industri ini rawan dengan korupsi karena keuntungan tidak terbagi secara merata.

Faktok lainnya adalah cara kerja industri ekstraktif yang sifatnya merusak atau menimbulkan kerusakan yang tidak bisa dipulihkan. Pun seandainya bisa akan butuh waktu yang lama.

Industri ekstraktif bersifat merusak karena mengambil produk sekaligus ‘pabrik’ nya. Seperti penebangan kayu di hutan, produknya adalah kayu besar yang tidak ditanam dan dipelihara oleh yang menebang. Yang ditebang adalah pohonnya, yang merupakan ‘pabrik’ penghasil kayu. Dengan demikian mengambil produk dengan cara menebang sama halnya dengan membunuh penghasilnya.

Dan kemudian penebangan akan membuat hutan menjadi gundul. Tapak hutan menjadi berubah. Dampaknya bukan sekedar kehilangan tutupan lahan, melainkan juga menimbulkan gangguan pada siklus air dan perlindungan permukaan tanah. Akibatnya di musim hujan akan menimbulkan bencana banjir, erosi dan tanah longsor, sementara di musim kemarau akan terjadi kekeringan dan ancaman kebakaran lahan.

Sedangkan ekstraksi mineral atau bahan tambang lainnya jauh lebih merusak. Dengan model penambangan terbuka {open pit mining} yang dirusak bukan hanya permukaan tanah melainkan sampai ke lapisan-lapisan bumi berikutnya.

Bisa jadi secara pendapatan, ekstraksi sumberdaya alam akan menghasilkan pemasukan yang besar. Namun kemudian meninggalkan beban kerusakan lingkungan yang menimbulkan kerugian yang tak kalah besar, berlangsung dalam waktu yang lama dan mereka yang tidak menikmati hasil ektraksi sumberdaya alam turut pula menanggung kerugian.

Atasa salah satu cara, fenomena kutukan sumberdaya alam sebenarnya sudah terjadi di Kalimantan Timur. Politik ekonomi yang bertumpu pada ekploitasi sumberdaya alam dalam sepuluh tahun terakhir sudah menimbulkan masalah baik secara ekonomi maupun ekologi.

Model ekonomi yang tidak ekologis ternyata membuat pertumbuhan pendapatan daerah cenderung menurun. Rata-rata pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur tidak lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional. Pun juga pendapatan besar di masa lalu ternyata tidak membuat Kalimantan Timur mempunyai infrastruktur yang baik untuk mendorong kesejahteraan masyarakatnya.

Pendek kata, model ekonomi tebang, sedot dan keruk ternyata tidak membuat masyarakat Kalimantan Timur berdaulat atas sumberdaya atau kekayaan alamnya. Mereka yang mencari penghidupan dan mengantungkan hidupnya pada bumi dan kekayaan sumberdaya alamnya kerap kali justru terusir, tersingkir dari atas lahan yang menjadi gantungan hidup karena lahannya telah jatuh dalam penguasaan investor industri ekstraktif.

Ekonomi Ekologis

Meski telah puluhan tahun diekplotasi habis-habisan, secara makro kualitas daya dukung lingkungan Kalimantan Timur masih cukup baik. Kekayaan alam yang tersisa dan sebagian yang terjaga masih akan menjadi daya tarik utama untuk para wisatawan baik nusantara maupun manca negara.

Dengan demikian pariwisata bisa menjadi sebuah pilihan untuk mewujudkan semangat berani berdaulat untuk Kalimantan Timur. Berdaulat artinya sumber-sumber kekayaan bisa mendatangkan kemanfaatan secara berkelanjutan atau lestari.

Dan pariwisata adalah sektor yang paling memungkinkan sebab yang di ‘panen’ adalah jasa lingkungan atau layanan ekologis berupa pemandangan yang indah, lanskap yang menawan, udara dan air yang segar, kicauan burung dan suara riang aneka binatang lainnya serta interaksi warga dengan lingkungan hidupnya yang mewujud dalam kehidupan sosial dan budaya.

Bisa jadi ada yang skeptis terhadap pariwisata karena keuntungan dari kehadiran para wisatawan hanya akan terbagi dalam kelompok tertentu, bukan kepada masyarakat luas. Terhadap keraguan ini, maka untuk memperluas dampak ekonomi secara berantai, sektor pariwisata mesti dihubungan dengan ekonomi kreatif.

Sinergi antara parisiwisata dengan ekonomi kreatif akan meliputi sub sektor kuliner, seni pertunjukan, musik, kriya, kain dan pakaian, cinderamata, festival/event public hingga aplikasi.  Kolaborasi ini pasti akan menghasilkan nilai tambah dan memperluas pembagian keuntungan atas kehadiran wisatawan di sebuah daerah.

Wisata pada dasarnya adalah perjalanan seseorang atau sekelompok orang ke daerah lain untuk melihat, mengenal, menikmati dan mengetahui lingkungan serta cara hidup masyarakat tempatan. Dengan pengertian seperti ini maka Kalimantan Timur mempunyai potensi wisata yang sangat besar karena kekayaan keragaman sumberdaya alam baik yang hayati maupun non hayati. Dan potensi itu semakin besar karena interaksi warga dengan lingkungannya yang menghasilkan ragam kehidupan sosial dan budaya yang juga tak kalah menariknya.

Kekayaan alam, sosial dan budaya tentu saja juga merupakan lumbung untuk menghasilkan karya atau produk kreatif mulai dari kuliner, aksesories, kerajinan, kain dan pakaian, musik, pertunjukan/festival dan lain sebagainya.

Simbiosis atau kesalingterkaitan antara sektor pariwisata dan ekonomi kreatif pada akhirnya akan membantu keberlanjutan atau kelestarian lingkungan hidup, keanekaragaman hayati tetap terjaga. Jika simbiosis mutualisme antara pariwisata dan ekonomi kreatif terjadi maka ekonomi ekologis akan terwujud lewat sustainable tourism.

Pada saat ini pernyataan “Untuk ekonomis harus ekologis” barangkali akan dicibir. Namun sinisme itu dengan sendirinya akan lenyap kala sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang kini tengah berkembang pesat bisa melakukan sinergi, berjalan beriringan dan saling menguatkan.

Note : tulisan ini merupakan catatan perjalanan kesah.id dengan fasilitasi dari Bidang Pengembangan Karya Seni Budaya {Ekraf}, Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here