KESAH.IDHampir semua anak-anak Indonesia memainkan sepakbola, sampai dewasapun sepakbola masih jadi olahraga kesukaannya. Namun prestasi sepakbola Indonesia tak sementereng bulu tangkis yang berkali-kali menyumbangkan prestasi tingkat dunia. Naturalisasi kemudian dipilih untuk membentuk Timnas yang kuat. Hasilnya cukup lumayan, sepakbola kembali menjadi euforia yang membanggakan. Namun tetap ada PR panjang untuk PSSI guna mencetak bibit-bibit pemain yang mumpuni lewat kompetisi dalam negeri yang kuat.

Sama seperti kebanyakan anak lainnya, saya suka bola. Rasanya dari kecil, permainan yang paling favorit saya mainkan bersama teman-teman adalah sepakbola. Saya bermain sepakbola sampai beberapa tahun setelah tamat SMA.

Dulu saya suka bermain di bagian depan, rasanya sungguh menyenangkan bisa menceploskan bola ke dalam gawang lawan.

Tapi lama kelamaan seiring dengan kesukaan menghembuskan asap tembakau, berada di depan, lari-lari di tengah lapangan bikin habis nafas. Sayapun lebih memilih berdiri di bawah mistar gawang, meski sebenarnya saya tak terlalu gesit menangkap bola yang hendak disarangkan ke dalam gawang.

Dan nanti setelah tak lagi bernafsu untuk main bola di lapangan, saya masih tetap menyukai tontonan sepakbola, terutama liga-liga Eropa. Mulanya saya suka Liga Italia ketika ada Maradona, Batistuta dan trio Belanda bermain disana.

Kemudian saya juga suka Liga Inggris saat pemain-pemain dari Belanda berjaya di Arsenal.

Tapi ketika Lionel Messi mulai bersinar di Barcelona, sayapun mengemari Liga Spanyol.

Kesukaan pada Lionel Messi ini sampai membuat saya terkena parasocial disorder, saya marah kalau ada yang merendahkan Messi, membenci atau menghinanya. Terlebih lagi jika yang melakukan adalah pengemar Christiano Ronaldo.

Sampai disini saya yakin pasti ada yang bertanya-tanya, kenapa saya tidak sekalipun menyebut sepakbola atau pesepakbola Indonesia. Dimana nasionalisme saya?.

Sebenarnya saya tidak abai pada sepakbola Indonesia. Di masa stasiun televisi baru dihuni oleh TVRI sebagai satu-satunya pemilik siaran publik, saya kerap menonton pertandingan Liga Galatama dan kompetisi PSSI Perserikatan.

Liga Galatama menjadi liga profesional pertama yang saya kenal sebelum saya tahu dan mengemari tontonan dari liga-liga profesional di Eropa.

Saya masih bisa menyebut berderet nama yang dulu di kenal di Liga Galatama dan PSSI Perserikatan.

Hanya saja ketika kedua liga ini digabungkan, saya memang tak cukup punya perhatian. Terkecuali ketika masih di Manado, waktu itu saya ikut-ikutan FOMO dengan sesekali menonton Persma Manado bertanding di Stadion Klabat.

Saat Sulawesi Utara dipimpin oleh Gubernur EE. Mangindaan, sepakbola memang mendapat perhatian besar. Mangindaan berhasil memasyarakatkan sepakbola dan mensepakbolakan masyarakat.

Setiap kali blusukan kemana-mana, EE. Mangindaan selalu membala bola sepak di bagasi mobilnya yang kemudian dibagi-bagikan kepada masyarakat yang ditemuinya, terutama anak-anak dan pemuda.

Hadirnya Gubernur yang Gila Bola membuat Persma berhasil masuk divisi utama. Nama Persma semakin mencuat ketika ditangani oleh pelatih dari Chile yakni Manuel Vega. Sang pelatih juga memboyong trio asal Chile yakni Rodrigo Araya, Juan Rubio dan Nelson Sanchez.

Nanti ketika saya meninggalkan Sulawesi Utara dan pindah ke Samarinda, saya beberapa kali menyaksikan pertandingan sepakbola di Stadion Segiri Samarinda dan Stadion Aji Imbut Kutai Kartanegara.

Memang bukan untuk menikmati sepakbola melainkan karena menghargai dan menghormati ajakan teman. Apalagi setiap pulang menonton pertandingan, teman saya mengajak makan Soto Banjar yang ayam kampungnya terasa empuk. Ayam Bapukah sebutannya.

BACA JUGA : Titisan Marquez

Hanya saja ketika teman saya itu hilang rimbanya, sepakbola kemudian makin jauh. Lebih-lebih lagi Messi tak lagi di Barcelona. Sepertinya semangat untuk menyaksikan sepakbola yang paling akhir adalah ketika menyaksikan Lionel Messi membawa Argentina ke final piala dunia. Saya bersemangat ikut nonton bareng dan kemudian jingkrak-jingkrak ketika Argentina mengalahkan Perancis.

Beberapa tahun terakhir ini sepakbola Indonesia mulai naik daun kembali terutama Tim Nasional setelah ditangani oleh pelatih dari Korea Selatan Shin Tae-yong.

Pelatih yang konon berjanji akan tinggal di Indonesia selamanya jika tim yang diasuhnya lolos ke Piala Dunia ini nampaknya paham dengan sepakbola di Indonesia.

Dia nampaknya paham kalau mengumpulkan pemain-pemain terbaik Indonesia tak bakal membuat Tim Nasional bersinar. Dan hal itu memang terbukti, biar ditangani oleh pelatih terhebat sekalipun, prestasi terbesar Indonesia di pentas dunia hanya dicapai di jaman pelatih Sinyo Aliandoe. Indonesia nyaris masuk Piala Dunia setelah berhasil menjadi juara grup Zona B AFC.

Bahkan ketika Tim Nasional dipersiapkan dengan cara mendidik para pemain muda di Eropa dan Amerika Latin, hasilnya juga tak mengembirakan.

Shin Tae-yong sepertinya berhasil menerbitkan asa buktinya kaos atau merchandise Timnas Indonesia kembali laku.

Tapi mohon maaf, saya masih belum bernafsu untuk menyaksikan pertandingan Timnas Indonesia yang jalannya menuju Piala Dunia makin terbuka.

Walau begitu Shin Tae-yong tentu patut dipuji karena menunjukkan cara atau jalan yang benar, yakni dengan merekrut pemain-pemain dari negeri yang kompetisinya telah mapan.

Yang disebut dengan Timnas adalah pemain-pemain siap pakai. Persiapan mereka untuk sebuah pertandingan yang membawa gengsi negara tidaklah lama.

Dalam daftar pemain Timnas versi Shin Tae-yong sekurangnya ada 14 pemain naturalisasi. Mereka adalah Marc Klok, Jordy Amat, Shandy Walsh, Shayne Pattinama, Ivar Jerner, Rafael Struick, Justin Hubner, Nathan Tjoe-A-On, Tom Haye, Ragnar Oratmangun, Jens Raven, Jay Idzes, Calvin Verdonk dan Maarten Paes.

Daftar itu masih akan bertambah panjang karena 5 lagi yang sedang menunggu proses yakni Mees Hilgers, Eliano Reijnder, Tim Gypens, Dion Marxk dan Maurismo Hinoke.

Namun Shin Tae-yong tidak melulu mengandalkan para pemain naturalisasi. Dia juga melakukan pendekatan mengutamakan pemain-pemain Indonesia yang muda. Pemain muda yang menjadi andalan Shin Tae-yong antara lain Rizki Ridho, Pratama Arhan, Marcelino  Ferdinan dan lain-lain.

Paduan antara pemain naturalisasi dan pemain muda berbakat terbukti meningkatkan level permainan Timnas Indonesia. Dibawah Shin Tae-yong Timnas Indonesia masuk ke babak 3 penyisihan piala dunia dan play off olimpiade.

Prestasi ini membuat masyarakat sepakbola kembali bersemangat mendukung Timnas Indonesia. Dimana-mana diselenggarakan nobar ketika Timnas bertanding.

Shin Tae-yong berhasil membebaskan Timnas Indonesia yang tadinya sekelas dengan Laos, Timor Leste dan Kamboja, menjadi sekelas dengan Irak, Jepang, Korea Selatan dan Australia.

BACA JUGA : Kabinet Tidar

Memang ada yang tak setuju dengan cara naturalisasi ini. Rocky Gerung menyebutnya sebagai nasionalisme semu.

Atau mungkin malah ada yang menuduh kita memang mengidap mental inlader, mental bekas bangsa jajahan. Sebab sebagian besar pemain naturalisasi berasal dari negeri Belanda.

Rocky mungkin terlalu meromantisasi nasionalisme. Padahal sederhana saja selama masyarakat bangga pada Indonesia itu sudah cukup. Jika banyak yang membanggakan tentu kemudian masyarakat akan cinta dan menjaga Indonesia.

Sebagai masyarakat yang dikenal mencintai bola maka tidak ada yang salah dengan membangkitkan rasa bangga, cinta dan bela negara lewat sepakbola. Soal siapa yang bermain di Timnas bukanlah sebuah masalah, toh mereka bermain untuk Indonesia.

Di kebanyakan Timnas negara-negara yang bersinar dalam sepakbola tidak semua pemainnya juga pemain asli negara tersebut. Sebagian ada yang dinaturalisasi dan sebagian lainnya merupakan imigran.

Hanya saja di Eropa soal naturalisasi dan lainnya memang lebih gampang. Negara-negara disana umumnya mengakui kewarganegaraan ganda.

Tapi memang dalam jangka panjang jika sepakbola ingin sehat dan berkelanjutan tidak boleh selamanya memakai metode instan dengan mendatangkan pemain naturalisasi. Pemain Timnas pada masanya harus berasal dari putra bangsa yang dididik di negeri sendiri.

Kita mempunyai semua syarat yang diperlukan untuk melahirkan pemain-pemain sepakbola yang hebat. Namun punya kekurangan dalam satu aspek yang penting yakni kompetisi reguler untuk semua umur.

Pemain yang hebat lahir dari pertandingan rutin yang dimulai sejak diri. Dengan pertandingan yang rutin mereka akan terbiasa mengintepretrasikan semua petunjuk pelatih di latihan pada saat pertandingan.

Ini yang masih menjadi tantangan karena kita lebih sering menyelenggarakan turnamen ketimbang mengembangkan kompetisi yang bermutu.

Dan kapan kita bisa menyelenggarakan kompetisi rutin untuk semua umur, sepertinya masih jadi tanda tanya.

Jadi dengan prinsip tak rotan akarpun jadi, pemain naturalisasi masih menjadi solusi.

note : sumber gambar – ITS