Sebaris kata namun bisa melipat dunia, itulah puisi. Kata bukan sekedar susunan huruf yang jika dirangkai kemudian menjadi kalimat belaka melainkan juga punya makna. Makna itu bisa berarti kekuatan, nilai, rasa dan seterusnya.

Soal makna, sejak lama kita berkutat dengan makna kata yang dinamis. Setiap kata bisa berbeda makna jika ditempatkan dalam konteks situasi dan waktu yang berbeda. Makna kata tidak tunggal.

Sebagai negeri yang multi bahasa, urusan kata menjadi lebih rumit dan dinamis untuk Indonesia. Meski telah mengikrarkan diri sebagai satu bangsa dan satu bahasa namun tetap tak bisa dihindari kenyataan bahwa kita sebagai bangsa punya banyak bahasa, baik bahasa lokal, bahasa nasional, bahasa internasional sampai kembangan bahasa kontemporer yang mencampurkan berbagai bahasa tadi.

Politik bahasa kita dimulai dari jargon berbahasa Indonesia secara baik dan benar. Ada lembaga bahasa yang menjaganya dengan ejaan yang diperbaharui. Hanya saja bahasa juga soal rasa, maka formalitas berbahasa tidak selalu mampu mewadahi komunikasi yang memuaskan dan dipahami oleh semua pihak.

Dan yang disebut dengan komunikasi tidak selalu bersifat generalis, ada bentuk-bentuk komunikasi yang terbatas dalam kelompok-kelompok tertentu. Dan dalam kelompok-kelompok ini tumbuh kata-kata atau bahkan bahasa tertentu yang eksklusif. Namun kemudian kerap kali bocor dan berkembang meluas.

Salah satu yang fenomenal adalah bahasa anak-anak GALI (Gabungan Anak Liar) di Yogyakarta yang merupakan hasil modifikasi dari abjad atau huruf jawa yang kemudian diucapkan secara terbalik. Salah satu kata favorit yang kini dilestarikan adalah DAGADU yang menjadi merk produk appareal. Arti dari dagadu adalah matamu.

Meski tidak menjadi sebuah merk karena panjang, salah satu kalimat dari bahasa GALI yang masih terkenal adalah “Nyote nyoro pabu” yang artinya kamu kayak anjing (kowe koyo asu).

Sebagaimana hal yang lainnya, soal bahasa kemudian juga terkait dengan sopan-santun, moralitas bahkan kelas. Seseorang bisa dinilai intelek tidak intelek dari bahasanya, bisa dinilai sopan tidak sopan dari bahasanya, bisa dinilai bermoral dan tidak dari bahasanya.

Namun apapun itu bahasa tetaplah dinamis, dianggap berkelas atau tidak yang disebut gaya berbahasa alternatif selalu tumbuh dan mewarnai pergulatan bahasa di tengah masyarakat.

Di media sosial betumbuh berbagai macam gaya bahasa, berbagai jenis kata yang lazim dipakai misalnya oleh para youtuber, streamer, host-host video chat dan lain sebagainya. Gaya bahasa yang oleh mereka sendiri kerap disebut sebagai toxic.

Pasti ada yang gerah dengan semua itu dan kemudian menyatakan keberatannya. Salah satu yang baru-baru ini diprotes adalah kata anjay. Oleh mereka yang menentang anjay ditenggarai berasal dari plesetan kata anjing.  Sehingga dinilai tidak sopan, tidak pantas dan berpotensi merusak ahklak dan moral anak bangsa.

Anjay dianggap sebagai sebuah kata yang merepresentasikan makian. Padahal konon menurut mereka yang awal mulai memakai dan kemudian mempopulerkan anjay, kata itu justru merupakan bentuk pujian, kekaguman. Anjay akan diucapkan jika ada factor wow di balik sebuah fenomena atau aksi.

Dan jika ditelisik lebih jauh, ucapan atau kata anjay beroperasi dalam wilayah bahasa yang non formal, bahasa pergaulan untuk meluapkan atau menyatakan ekspresi pada orang lain yang dikenal dekat. Jadi menyoal anjay atau kata-kata lain yang pasti akan terus tumbuh sebenarnya adalah bentuk kesia-siaan.

Tentu saja mereka yang berkeberatan patut diacungi jempol karena menjunjung tinggi ungkapan bahasa menunjukkan bangsa. Artinya pada bangsa yang baik pasti berbahasa baik.

Namun jika kita keberatan pada umpatan dalam bahasa sebaik apapun juga selalu ada umpatan atau kata-kata yang berpotensi dipakai sebagai alat perundungan.

Dengan demikian selalu yang paling penting adalah berbahasa dalam konteks dan waktu yang tepat. Sebab anjay yang ditenggarai tidak sopan itu, ternyata mempunyai makna positif dalam bahasa lain dan ada banyak orang yang juga memakainya sebagai nama.

Jadi buat siapapun atau lembaga apapun yang pingin cari kesibukan atau punya peran untuk memperbaiki serta menjaga ahklak dan moral generasi penerus bangsa ini sebaiknya gunakan waktu, tenaga dan pikiran untuk menyoal hal-hal yang lebih penting ketimbang mempersoalkan kata-kata yang bukan merupakan ragam kata formal dan tak berapa lama lagi akan digantikan atau dilindas oleh kata baru yang ditemukan atau dipopulerkan oleh generasi berikutnya.

Soalnya anjier banget kalau cuma mau viral dan terkenal dengan menunggangi kata anjay.

kredit foto : medcom.id