Dalam obrolan para pecinta kopi kerap muncul keyakinan bahwa kopi-kopi yang ditanam dan tumbuh di tempat yang elevasinya tinggi dianggap sebagai kopi terbaik. Benarkan demikian?.

Nyatanya memang demikian, kopi dari dataran tinggi Sumatera, Jawa, Sulawesi hingga Papua adalah kopi yang bukan hanya diminati namun juga mahal harganya.

Pun demikian dalam lomba-lomba kopi dunia, para pemenang umumnya berasal dari wilayah tanam yang cukup tinggi. Kenapa demikian?.

Elevasi atau tingkat ketinggian wilayah memang memberikan pengaruh pada kualitas biji kopi, mulai dari ukuran, bentuk hingga aroma serta rasa kopi.

Karena kopi yang tumbuh dan tahan hidup di ketinggian adalah kopi arabika. Species ini suka pada ketinggian 800 mdpl keatas yang iklimnya sejuk dan cukup dingin.

Sementara robusta, yang dianggap lebih bandel dari arabika meski bisa tumbuh di wilayah cukup tinggi namun cenderung akan produktif apabila ditanam dibawah ketinggian 800 mdpl.

Kopi yang ditanam di ketinggian memang bijinya cenderung lebih padat dan berat, karena pertumbuhannya lebih lambat. Pertumbuhan buah yang lambat mempengaruhi juga hasilnya yang lebih sedikit sehingga harganya cenderung lebih mahal, dibanding dengan kopi yang tumbuh di daerah lebih rendah.

Kopi yang baik akan dinilai dari acidity, aromatic dan flavourfull, dan kopi-kopi yang ditanam di wilayah yang lebih tinggi akan menghasilkan rasa dan karakter yang lebih kaya dibanding dengan kopi di dataran rendah.

Memang tidak mutlak, sebab pada akhirnya kualitas biji kopi juga akan tergantung dari proses sebelum disajikan mulai dari pemanenan, pengolahan paska panen, roasting hingga cara atau metode penyeduhan.

Dengan demikian sesungguhnya kenikmatan segelas kopi adalah sebuah perjalanan panjang yang terdiri dari berbagai fase hingga sampai di gelas yang siap untuk diseruput.

BACA JUGA : Salted Coffee

Aceh adalah daerah di Indonesia yang identik dengan kopi. Masyarakatnya amat lekat dengan kebiasaan minum di kedai-kedai kopi.

Saya belum pernah kesana, namun lewat pemberitaan saat pemulihan sesudah tsunami ada banyak liputan tentang serba-serbi kehidupan disana, ngopi di warung kopi adalah salah satunya.

Menyaksikan liputan warung kopi sungguh mengasyikkan terutama saat peracik kopi mengangkat tinggi-tinggi saringan kopi yang meneteskan seduhan pada deret gelas-gelas dibawahnya.

Konon semakin tinggi saringan diangkat rasa kopinya akan semakin nikmat.

Kopi yang diteteskan dari ketinggian itu akan menghasilkan buih-buih di bagian paling atas yang nampak elok saat dipandang.

Tampilan kopi akan semakin menawan, kala peracik membuat Kopi Sanger. Kopi sanger adalah kopi susu yang sering disebut sebagai capucino-nya Aceh.

Namun kopi sanger berbeda dengan kopi susu, sebab meski berasal dari bahan yang sama namun racikannya berbeda.

Sanger sesungguhnya berasal dari kata ‘sanggeng’ yang artinya bodoh karena takarannya lebih sedikit dari kopi susu pada umumnya.

Istilah sanggeng kemudian berubah menjadi sanger di tahun 1990-an, ketika muncul kopi ini yang harganya lebih murah dari kopi susu biasanya. Sanger adalah sebutan yang berasal dari singkatan ‘sama-sama ngerti’.

Kopi susu yang sama-sama masih nikmat namun harganya lebih murah ini kemudian kerap disebut sebagai kopi persaudaraan. Harganya bersaudara sehingga di tanggal tua sekalipun masyarakat tetap bisa menikmati kopi.

Nikmatnya kopi sanger konon berasal dari cara pembuatannya. Kopi ini dituang berkali-kali dari satu wadah ke wadah yang lainnya seperti cara membuat teh tarik. Selain asyik dilihat, hasilnya ketika dituang ke dalam gelas terlihat bukan hanya berbuih melainkan berbusa.

BACA JUGA : Ice Coconut Coffee with Soda

Banyak yang menyangka aksi peracik atau barista mengangkat tinggi-tinggi wadah atau saringan kopi untuk dituangkan dalam gelas adalah sebuah aksi. Aksi yang dimaksudkan untuk menjadi sebuah tontonan atau hiburan bagi pengunjung kedai.

Tapi nyatanya bukan, meski itu menarik untuk disaksikan.

Menuang kopi dari ketinggian tertentu memang merupakan trik, namun itu sebuah trik agar cita rasa kopi menjadi seimbang dan pas. Partikel kopi dan air akan tercampur lebih baik jika dituang dari ketinggian tertentu.

Menuang kopi dalam gelas dari ketinggian tertentu juga akan menurunkan suhu kopi dalam gelas, sehingga rasa kopi akan lebih stabil dan intens. Sesapan segera tidak akan membuat bibir panas dan lidah terasa terbakar. Pun tangan yang memegang gelas tak akan merasa kepanasan.

Konon menuang kopi dari ketinggian juga akan membuat seduhan kopi berinteraksi lebih banyak dengan udara. Paparan udara yang makin banyak akan memperkuat karakter yang kuat dari kopi dan membuang karakter yang lemah.

Hanya saja, efek dari menuang kopi di ketinggian tertentu sebetulnya bisa diperoleh dengan cara biasa saja yaitu mengaduk dengan sendok.

Masalahnya mengaduk kopi dengan sendok pasti akan kalah keren ketimbang menuang dari ketinggian tertentu. Jadi apa salahnya bergaya saat menuang kopi, toh itu bukan hanya aksi kosong belaka.

Menikmati segelas kopi yan disajikan dengan cara yang menghibur jelas akan lebih membahagiakan.

note : sumber gambar – Kopi Solong