Tahun lalu beberapa kawasan di Samarinda terendam banjir hingga setinggi dada orang dewasa di saat perayaan hari raya lebaran. Kawasan yang terkena banjir sebagian besar berada di daerah Samarinda Utara. Hujan terus menguyur dengan intensitas yang lumayan lebat di semua orang sedang bersuka karena telah menunaikan ibadah puasa.

Banjir bukan hanya membuat perayaan Idulfitri menjadi kurang semarak melainkan juga menimbulkan kerugian bagi tempat rekreasi yang mestinya panen pengunjung di libur hari lebaran. Sebagian taman rekreasi di Samarinda berada di wilayah Samarinda Utara. Dan banjir pada hari lebaran itu membuat semua taman wisata urung memperoleh rejeki nomplok di hari raya.

Sekitar semingguan lagi hari raya lebaran akan tiba. Samarinda diguyur hujan setiap harinya. Intensitasnya memang tidak tinggi. Namun meski tak terlalu lebat andai hujan turun tiap hari niscaya Samarinda juga akan tergenang.

Tanah di Samarinda adalah campuran tanah liat dan pasir halus. Jika terus menerus terkena air hujan akan cepat menjadi jenuh. Kecepatan menyerap airnya yang rendah membuat air di permukaan harus mengantri untuk meresap. Akibatnya akan terjadi tumpukan air di permukaan (run off). Tumpukan air permukaan yang besar dan luas serta mengenangi tempat yang tidak semestinya berair akan disebut dengan banjir.

Ada atau tidak ada orang di Samarinda, jika hujan terus menguyur selama beberapa hari secara ajeg maka dipastikan akan terjadi banjir. Maka kalau sekarang ada yang menyebut Samarinda adalah kota banjir itu wajarnya saja karena sejak semula Samarinda memang merupakan kota air di musim hujan.

Kenapa kota air bisa menjadi kota banjir?. Disebut dengan kota air karena Samarinda waktu itu mempunyai cukup wilayah resapan dan tangkapan air. Air permukaan akan tertampung sementara di rawa-rawa, tidak langsung masuk ke badan air (sungai). Badan air untuk menampung limpasan air permukaan juga banyak dan belum mengalami penyempitan serta pendangkalan.

Andai sungai tidak mampu dan meluap, sungai-sungai juga masih mempunyai dataran banjir, tempat meluapkan airnya.

Perkembangan permukiman dan kawasan lainnya memuat konversi lahan menjadi tidak terkendali. Lahan rawa diuruk dan kemudian menjadi daratan untuk permukiman. Lahan yang tertutup vegetasi kemudian menjadi lahan terbuka untuk pertanian dan perladangan. Bukit digunduli dan dibongkar untuk pertambangan dan juga perumahan. Berbagai fasilitas publik juga menkonversi dan mempersempit kawasan rawa-rawa.

Dengan semua kondisi itu dan ditambah fenomena perubahan iklim dimana intensitas hujan semakin meninggi, kerap terjadi cuaca ekstrim maka ibarat baru sedetik hujan banjir di Samarinda sudah seleher.

Banjir pasti akan terjadi karena ar yang jatuh di perbukita akan segera turun ke daerah perlembahan tanpa halangan. Kurangnya area resapan dan tampungan air permukaan membuat air akan segera masuk ke badan air. Sementara sungai di Samarinda jumlahnya berkurang, selain hilang, berubah jadi parit, sungai yang tersisa semuanya bermasalah. Sungainya makin menyempit karena permukiman yang mendesak masuk ke badan sungai dan mendangkal karena tingginya erosi. Sungaipun kehilangan dataran banjir, maka luapan air sungai otomatis dianggap sebagai bencana.

Berharap bahwa sungai-sungai menjadi outlet untuk mengirim air dengan segera ke sungai Mahakam sungguh sia-sia. Dengan mengandalkan kekuatan gravitasi tak mungkin sungai-sungai diperlembahan Kota Samarinda bisa dengan cepat mengalirkan airnya ke sungai Mahakam untuk dikirim ke laut. Rata-rata ketinggian air di sungai-sungai yang ada sama tingginya dengan sungai Mahakam.

Berahun-tahun pemerintah dan badan yang bertanggungjawab atas banjir selalu punya prioritas dan rencana untuk mengatasi banjir. Yang sudah dilakukan umumnya adalah meninggikan daerah-daerah yang digenangi banjir dengan material yang merupakan musuh air yaitu semen.

Terma mengatasi banjir sejatinya juga hanya merupakan permainan kata. Sebab yang disebut kumpulan air permukaan di wilayah tertentu dalam jangka waktu tertentu tak pernah akan bisa diatasi. Air itu harus diberi ruang.

Jadi jangan percaya kepada para calon pemimpin yang dalam kampanyenya berbuih-buih akan mengatasi banjir di Kota Samarinda. Pemimpin yang cerdas dan rasional pasti tidak akan mengatasi banjir melainkan meminimalisir banjir di tempat yang tidak semestinya dengan cara memberikan ruang air, menempatkan air permukaan pada tempatnya.

Banjir yang semakin hari semakin meluas dan dalam di Kota Samarinda adalah bukti para pemimpinnya tidak berpikir komprehensif tentang air. Tidak ada upaya yang keras untuk mempertahankan dan menambah ruang resapan serta tangkapan air di hulu. Membuat embung-embung di bagian tengah dan hilir. Memperbaiki dan mengkoneksi sistem drainase di daerah hilir. Air permukaan di Kota Samarinda mestinya ditahan di bagian hulu dan pelan-pelan dialirkan ke bagian tengah dan hilir. Tata air hujan adalah tentang menangkap, menampung dan menahan air hujan bukan membuang secepat mungkin ke laut.

Hampir tak permah terdengar rencana dan rancangan pemerintah tentang memanen air hujan. Rakyat bisa diajak berpartisipasi untuk mengurangi air permukaan dengan cara menampung dan membantu peresapan air hujan. Kawasan permukiman mesti ditata menjadi kawasan yang ramah air hujan dan penduduknya menjadi masyarakat yang mencintai air hujan.

Banjir bisa diminimalisir dengan pendekatan tata air yang berbasis pada pemulihan kawasan/restorasi ekosistem, pembangunan sarana dan prasarana penampung air dan menumbuh kembangkan kembali budaya air, budaya cinta dan hormat pada air hujan.

Warga Samarinda menunggu pemimpin yang tegas dan cerdas soal air bukan soal semen.

kreadit foto : mongabay.co.id