Sungai Mahakam merupakan salah satu sungai permanen atau sungai yang selalu ada airnya sepanjang tahun, terutama di bagian tengah hingga hilir. Hal itu dimungkinkan karena sungai Mahakam mempunyai cadangan air yang tersimpan di rawa-rawa dan danau-danau yang ada di kawasan Mahakam bagian tengah.

Namun tidak demikian dengan sungai Karang Mumus, anak sungai Mahakam yang alirannya melewati sebagian wilayah Kota Samarinda. Sungai Karang Mumus merupakan sungai periodik yang airnya bersumber pada air hujan sehingga jika tidak turun hujan airnya akan sangat berkurang, terutama di bagian hulu dan tengah. Sementara di bagian hilir airnya akan berlimpah karena terpengaruh oleh air sungai Mahakam dan pasang surut laut.

Buat yang terbiasa menyusuri sungai Karang Mumus dengan perahu di bagian tengah atau hulu akan tahu bahwa pada saat tertentu, perahu akan sering kandas. Karena air sungainya amat dangkal. Perahu tidak mungkin dimuati lebih dari 3 orang, terkecuali di titik-titik tertentu ada yang bersedia turun dan mendorong perahu diatas lumpur.

Jika air surut, permukaan sungai yang nampaknya bersih itu ternyata menyimpan ranjau. Mesin perahu (ketinting) kerap terganggu karena kipasnya terlilit oleh sampah, utamanya sampah plastik, pampers, kain dan sebagainya.

Sementara di bagian hilir jika air sungai surut akan terlihat sampah berserak di atas lumpur sungai hingga di kolong-kolong rumah pinggiran sungai. Sampah yang kemudian akan terjebak di dasar sungai jika air pasang masuk kembali. Lama kelamaan sampah itu akan terkubur oleh lumpur.

Pada saat tertentu mungkin akan terlihat permukaan air sungai Karang Mumus seperti bersih dari sampah yang mengapung. Tapi itu bukan berarti tak ada sampah. Di bawah alirannya sampah telah bersemayam dan tenggelam.

Sepintas aliran Sungai Karang Mumus bisa jadi terlihat cantik tapi bukan berarti tak menyimpan masalah.

Sampah yang terkurung dalam lumpur di dasar sungai Karang Mumus perlahan akan tergerus menjadi mikro plastik yang menyumbang pencemaran di sepanjang alirannya, hingga masuk sungai Mahakam dan kemudian laut selepas delta Mahakam. Belum ada penelitian yang komprehensif untuk mengukur tingkat pencemarannya. Namun secara partial sudah ada beberapa penelitian tentang kandungan mikroplastik pada ikan di sungai Karangmumus.

Seberapa besar kandungan mikroplastik pada ikan di Karangmumus lagi-lagi sulit dipastikan karena biasa yang meneliti adalah mahasiswa dan penelitiannya untuk tugas kuliah sehingga jarang dipublikasikan serta didiskusikan secara terbuka.

Namun secara kasat mata pada saat tertentu di sepanjang aliran Sungai Karang Mumus akan bisa dilihat deretan sampah apung yang membuat Sungai Karang Mumus layak disebut sebagai tempat sampah terpanjang di Kota Samarinda.

Siapa yang membuat sampah atau memasok sampah ke dalam aliran sungai Karang Mumus dengan mudah bisa diketahui tetapi amatlah sulit untuk diatasi. Sarana untuk membersihkan sampah di sungai sudah diadakan, mulai dari perahu hingga kapal. Tetapi lagi-lagi kita hanya rajin membeli atau belanja bukan rajin bekerja.

Saking niatnya belanja atau melakukan pengadaan hingga kurang perhitungan apakah yang dibeli atau diadakan itu akan efektif jika digunakan di Sungai Karang Mumus. Seperti kapal pembersih sampah yang ukurannya cukup besar namun akan sulit bermanuver di sepanjang aliran Sungai Karang Mumus.

Sudah sejak beberapa tahun lalu hasil penelitian kualitas air sungai Karang Mumus menyimpulkan bahwa airnya tidak layak untuk digunakan secara langsung seperti mandi atau mencuci. Tapi warga tak peduli dan limbah domestik tetap saja dicurahkan ke sungai Karang Mumus bukan hanya oleh warga yang tinggal di pinggiran sungai melainkan juga oleh mereka yang jauh dari sungai namun membuang limbah ke parit yang bermuara di sungai Karang Mumus.

Kenapa warga membuang sampah ke sungai?. Apakah tidak ada pilihan selain membuang sampah ke sungai?. Tentu saja ada, tetapi membuang sampah ke sungai adalah pilihan paling gampang. Tidak perlu jauh-jauh melangkah mencari tempat pembuangan sampah sementara yang tidak selalu tersedia di setiap RT (Rukun Tetangga).

Armada pengangkut sampahpun belum menjangkau seluruh wilayah Kota Samarinda. Sehingga membuat warga yang dekat dengan sungai membuang sampah ke sungai atau membakar sampahnya. Tempat lain yang menjadi favorit untuk membuang sampah adalah tanah-tanah kosong di pinggir jalan.

Upaya untuk mengurangi sampah plastik terus dilakukan. Namun biasanya gaungnya tidak lama setelah launching kebijakan. Berlaku sesaat dan kemudian kembali lagi pada kebiasaan lama karena kurang pengawasan dan penegakan aturan. Belum lagi trend makanan pesan bungkus dan pesan antar yang membuat kemasan sekali pakai semakin meruah. Masyarakat rebahan atas salah satu cara adalah masyarakat yang dekat dengan kemasan sekali pakai.

Sejatinya mengandalkan masyarakat pemakai sebagai garda depan untuk mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai adalah sia-sia. Meski didirikan banyak bank sampah, namun sampah plastik sekali pakai umumnya bukan sampah yang punya nilai untuk didaur ulang. Bank sampahpun tidak akan menerima semua sampah plastik. Bank sampah belum bisa menjadi tulang punggung tata kelola sampah plastik sekali pakai di tingkat masyarakat.

Dan sudah puluhan tahun masalah ini terus terjadi namun minimnya upaya atau kebijakan yang agresif dari pemerintah membuat sampah plastik terus menumpuk dan bersemayam di sungai. Air sungai boleh mengalir sampai jauh tapi sampah plastiknya tidak karena sebagaian akan terjebak di dalam lumpur sungai. Dan akan tergerus menjadi mikro plastik. Pencemar perairan hingga kemudian sampah yang kita buang akan kembali ke tubuh kita lewat ikan yang kita makan.