Banjir yang terjadi terus menerus saat ini meski kerap disebut sebagai bencana alam, namun sebenarnya kejadian banjir terjadi karena campur tangan manusia yang terlalu besar pada alam. Ekosistem alamiah sebagian besar sudah menjadi ekosistem buatan yang tidak tentu berkesesuaian dengan siklus hidrologi.
Model penyelesaian banjir secara konvensional seperti normalisasi sungai tidak lagi cukup untuk menangani persoalan banjir. Perlu paradigm dan pendekatan baru pada peristiwa banjir agar langkah untuk menanganinya tidak semata bersifat lokal, tempat kejadian dan dampaknya saja.
Selama ini pendekatan pada banjir memakai pendekatan hidraulik murni, melihat air sebagai daya rusak sehingga perlu penguatan di berbagai tempat dan terpaku pada bagaimana mengalirkan air secepat dan selancar mungkin ke laut.
Pendekatan hidraulik murni seperti menurap, menanggul, menyudet, meluruskan dan mengeruk sungai dalam jangka panjang justru akan membuat banjir semakin besar dan terjadi berulang. Secara keseluruhan cara-cara seperti ini justru akan merusak ekologi sungai secara keseluruhan, fungsi hidraulik dan ekologi sungai akan hancur.
Jika air dibuat lancar dari hulu menuju hilir maka bagian hilir akan mengalami kekeringan, menurunkan tingkat retensi di sepanjang aliran sungai dan konservasi air tidak bisa dilakukan. Kesempatan air untuk meresap menjadi kecil dan permukaan air tanah semakin lama akan semakin menurun.
Hanya saja kita kerap abai pada dampak dari penanggulan dan pengerukan sungai seperti hilangnya vegetasi asli di pinggir sungai, lenyapnya berbagai jenis ikan dan perubahan pola aliran air serta distribusi genangan.
Di banyak negara yang menyadari dan mengakui ketidaktepatan pendekatan untuk menangani banjir, model hidraulik murni mulai ditinggalkan. Pendekatan hidraulik murni tidak meningkatkan kualitas, kuantitas dan kontinuitas air.
Sejak tahun 1980-an mulai muncul pendekatan ecological hydraulic atau eko hidrolika. Pendekatan ini diimplementasikan lewat proyek-proyek naturalisasi atau restorasi sungai. Proyek-proyek ini berupaya mengembalikan sungai mendekati kondisi se alamiah mungkin dengan kembali membuat kelokan-kelokan sungai, membongkar tanggul beton, menyingkirkan dam, memperlebar sempadan, melakukan revegetasi pada tepian sungai dan menganti infrastruktur abu-abu dengan infrastruktur hijau.
Namun sayangnya di Indonesia kita justru terus bergiat dengan infrastruktur abu-abu, terus melakukan semenisasi pada sungai-sungai alam. Proyek pembetonan sungai secara besar-besaran adalah salah satu jenis proyek yang disukai.
Saat ini kita jarang menemukan konsep atau tawaran program misalnya dari calon walikota, gubernur atau presiden yang mengedepankan konsep eko hidrolika dimana Daerah Aliran Sungai, Wilayah Sungai, Sempadan Sungai dan Badan Sungai sebagai kesatuan sistem dan ekosistem eko hidrolik yang integral.
Mengelola atau menangani banjir adalah menahan air dan meretensi air di DAS baik bagian hulu, tengah maupun hilir. Air mestinya ditahan di sepanjang wilayah sungai, sempadan sungai dan badan sungai di hulu, tengah dan hilir.
Dengan cara ini bukan saja banjir yang ditangani melainkan juga untuk mencegah kekeringan dan memperbaiki kualitas lingkungan.
Pendekatan eko hidrolika secara konkret dapat dilakukan antara lain lewat :
- Revegetasi DAS mulai bagian hulu untuk meningkatkan kemampuan retensi. Dan diteruskan ke tengah hingga hilir.
- Membangun dan mengaktifkan embung atau tampungan air.
- Penataan lahan untuk memimalisir air limpasan dengan mempertinggi kemampuan retensi lahan dan konservasi air.
- Mempertahankan alur dan jalur sungai alamiah.
- Revegetasi sempadan sungai (riparian).
- Perkuatan tebing dengan infrastruktur hijau.
- Mempertahankan daerah genangan alamiah (dataran/bantaran banjir).
- Membangun kolam konservasi di sepanjang aliran sungai (riverside polder).
- Integrasi dengan eko drainase.
- Menumbuhkan budaya sadar dan mengerti air dalam masyarakat sehingga mereka berpartisipasi dalam mengelola atau menangani banjir (panen air hujan).
Mengelola dan menangani banjir secara eko hidraulik sebenarnya jauh akan lebih kecil biayanya dibanding dengan pendekatan hidraulik murni (teknik). Alam atau ekosistem yang dipulihkan semakin hari akan semakin kecil biaya pemeliharaannya dan semakin besar jasa ekosistemnya.
Sementara pendekatan teknik akan memunculkan biaya rutin yaitu biaya pemeliharaan dan operasional. Apa yang dibangun juga semakin lama akan semakin aus dan punya kemungkinan rusak seperti tanggul jebol dan lain sebagainya. Jika batas air melampaui kapasitas perlu ditambahkan pompa yang tentu saja akan butuh biaya.
Namun mungkin saja kita lebih menyukai proyek-proyek berbiaya tinggi dan butuh ongkos pemeliharan serta operasional rutin. Sebab anggaran yang besar sama artinya dengan pemasukan yang besar pula dan berkelanjutan.








