Setiap jaman memiliki generasinya sendiri dan setiap generasi menggerakkan jamannya sendiri. Dahulu cara menikmati keindahan alam dilakukan dengan mata telanjang, segala macam sensasi, keindahan lanskap dan pesona flora serta fauna disimpan dalam ingatan di hati dan kepala. Teknologi perekaman gambar saat itu masih langka, mahal dan merepotkan atau sulit dioperasikan.

Teknologi semakin menemukan jati dirinya sebagai alat atau sarana yang membuat hidup manusia bukan hanya lebih mudah melainkan juga lebih indah. Termasuk salah satunya dalam hal perekaman citra visual. Hal ini kemudian juga berpengaruh pada cara berwisata generasi saat ini, termasuk kita-kita yang tidak lagi termasuk generasi millennial ini. Kini apa yang kita lihat dengan serta merta bisa kita salin secara utuh dalam jepretan foto dan rekaman video lewat genggaman tangan. HP yang sekarang lebih kita kenal sebagai Smartphone atau Telepon Cerdas membuat semua orang bisa menjadi ‘wartawan’.

Kini setiap orang menikmati wisata dengan cara berswafoto dan mengunggahnya sesegera mungkin di jejaring media sosialnya. Semua dimungkinkan lewat sebuah benda kecil, ringan dan tidak merepotkan bernama Handphone.

Salah satu yang kemudian viral berangkat dari kondisi ini adalah Kali Biru. Sebagai komoditas wisata, Kalibiru diproduksi dari bahan baku berupa ekosistem hutan oleh para pencetus yang berlatar belakang petani hutan. Kali Biru menimbulkan keguncangan baru (distrupsi) karena menjadi produk wisata millennial namun digawangi oleh orang-orang yang sama sekali jauh dari watak dan gaya generasi jaman sekarang.

Wisata Alam Kalibiru dikembangkan dengan memanfaatkan potensi alam berupa lanskap pemandangan alam dari bukit di ketinggian kurang lebih 500 meter. Kawasan seluas 29 hektar ini awalnya adalah Hutan Kemasyarakatan (HKM) yang dikelola oleh Kelompok Tani Hutan(KTH) Mandiri. Namun rencana perhutanan sosial itu tidak berjalan dengan baik karena HKM berubah status menjadi Hutan Lindung.

Perubahan status dari Hutan Produksi menjadi Hutan Lindung memupus harapan para petani hutan untuk memperoleh keuntungan dari hasil panen kayu. Tentu saja perubahan status ini menimbulkan gejolak, mimpi indah mereka untuk mengambil manfaat dari hutan terkoyak. Harapan baru kemudian muncul ketika beberapa pengurus KTH Mandiri mulai membangun mimpi baru dengan melakukan pemetaan titik-titik potensi wisata dan melakukan eksplorasi ide kreatif yang awalnya adalah permainan berbasis alam.

Dikembangkan sejak tahun 2010, pada tahun 2014 Kali Biru mulai menapak puncak kejayaan. Kali Biru berjaya lewat Foto Deck yang berlatar panorama pemandangan Bukit Menoreh dan Waduk Kali Sermo. Andai warga sebagai pengelola mau berpangku tangan tanpa sibuk-sibuk namun tetap banyak uang, saat itu ada yang menawar untuk menyewa selama 5 tahun sebesar Rp. 2 milyard.

Pengelolaan Kali Biru yang didasari oleh prinsip berbagai (sharing) dan kolaborasi ini terlah memberi manfaat pendapatan tetap dan tidak tetap bagi kurang lebih 71 orang warga. Masyarakat yang lebih luas memperoleh manfaat lewat sebagian pendapatan yang disisihkan untuk program pengentasan kemiskinan dan tanggungjawab sosial.

Kegiatan berbagi yang dijalankan meliputi bedah rumah, santunan jompo, santunan yatim piatu, rehabilitasi rumah ibadah dan bantuan lain untuk kegiatan kesenian, kemasyarakatan dan keagamaan. Kali Biru membuktikan bahwa wisata alam bisa menjadi bisnis yang mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat bukan dengan cara mencari untuk lewat ‘kepemilikan’ melainkan justru karena menekankan pada prinsip ‘berbagi’. Prinsip berbagai ditetapkan pada sumberdaya, peran dan keuntungan.

Saya pernah ke Pela

Pernahkah melihat orang memakai kaos bertulis : Saya Pernah Ke Pela. Yang memakai kaos ini mau menegaskan atau memberi jaminan (testimoni) bahwa di Pela ada apa-apa yang patut untuk dinikmati dan meninggalkan kenangan dalam diri. Jadi bukan sekedar mengajak melainkan mau mengatakan kalau belum pernah ke Pela itu artinya rugi, ketinggalan alias tidak up to date.

Apa sih bagus atau indahnya Pela sehingga dengan bangga orang memakai kaos itu?. Tempat yang indah atau bagus pasti banyak, baik keindahan yang bersifat alami maupun buatan. Bicara Pela adalah bicara tentang keunikan. Kalau dalam bahasa biologi sepadan dengan kata endemik, yaitu flora atau fauna yang hanya ada di tempat itu (setempat).

Pela menjadi unik karena tidak banyak kampung yang berada dalam irisan ekosistem Sungai, Danau dan Rawa atau bisa disingkat menjadi Kampung Sadar. Pertemuan ketiga ekosistem ini dengan komunitas yang tinggal didalamnya akan melahirkan sistem sosial dan budaya yang berbeda dengan tempat lainnya.

Letak secara geografis dan ditunjang oleh keberadaan Pesut semakin menempatkan keunikan Pela menjadi istimewa. Paduan antara unik dan langka tentu saja semakin meningkatkan daya tarik bagi pasar wisata.

Oleh karenanya dalam konteks pengembangan tujuan wisata, pilihan yang terbaik untuk Pela adalah mengembangkan diri menjadi daerah tujuan Ekowisata. Yang disebut sebagai Ekowisata sendiri meliputi 3 hal yaitu :

  • Ekowisata sebagai produk.
  • Ekowisata sebagai pasar.
  • Ekowisata sebagai pendekatan pengembangan.

Sebagai sebuah produk ekowisata bukan semata menitikberatkan pada keindahan alam, keragaman hayati melainkan juga pada aspek sosial, budaya, pendidikan/pengetahuan dan aspek lingkungan. Sebuah produk ekowisata akan mempunyai reputasi jika :

  • Berwatak pelestarian/konservasi/mengurangi dampak negatif.
  • Menbangun kesadaran dan penghargaan pada lingkungan/keanekaragaman hayati.
  • Menawarkan pengetahuan dan pengalaman berinteraksi dengan lingkungan.
  • Meningkatkan kepekaan pada situasi sosial dan lingkungan.
  • Mendatangkan keuntungan finansial.
  • Mendorong penghormatan pada HAM dan hak mahkluk lainnya.

Maka menjadi jelas bahwa produk ekowisata menaruh perhatian dan tanggungjawab yang besar terhadap kelestarian sumberdaya wisata. Karenanya ekowisata tidaklah bersifat mass tourism atau wisata massal. Yang menjadi karakteristik kegiatan ekowisata adalah :

  • Aktivitas wisata yang menjaga keberlanjutan dan kelestarian sumberdaya alam.
  • Daya tariknya berbasis pada alam.
  • Sebagian pendapatan dialokasikan untuk menjaga atau memulihkan alam.
  • Menjadi cara atau bagian dari mengumpulkan dana untuk pelestarian alam.
  • Transportasi dan akomodasi menggunakan sumberdaya lokal, sederhana, hemat energi dan melibatkan partisipasi masyarakat setempat.

Sementara ekowisata sebagai pasar saat ini sangat terbuka karena ada kecenderungan di masyarakat untuk kembali ke alam. Dengan berwisata di alam orang bukan hanya melepaskan diri dari kesibukan rutin harian melainkan juga mereguk energi dari alam sehingga dirinya akan kembali segar karena menghirup udara segar, menyentuh air yang bersih dan sehat, berinteraksi secara hangat dengan warga setempat dan lain sebagainya. Pasar dari ekowisata adalah :

  • Masyarakat berumur antara 15 – 54 tahun.
  • Pendidikan menengah ke atas.
  • Kelompok kecil dan individu.
  • Durasi atau rentang perjalanan cukup panjang.
  • Membelanjakan uang lebih banyak.
  • Suka berpetualangan dan mencari pengalaman baru

Ekowisata merupakan jenis wisata alternatif atau wisata dengan minat khusus, oleh karenanya dalam pengembangannya perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

  • Pengembangan produk bernilai ekologi tinggi/nilai konservasinya tinggi.
  • Seleksi titik-titik atau spot yang mempunyai keanekaragaan hayati yang tinggi.
  • Mengurangi atau bahkan menghilangkan produk dan jasa yang mengkonsumsi banyak energi dan menimbulkan limbah.
  • Pendidikan dan penyadaran kesadaran lingkungan diantara warga.
  • Melibatkan penduduk setempat dalam penyediaan dan pengelolaan jasa wisata.
  • Kerjasama lintas sektor.

Ekowisata selain memberi kesempatan dan peluang untuk meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat berupa kesempatan berusaha dan bekerja juga merupakan bentuk kontrol penggunaan sumber daya alam secara bersama oleh masyarakat.

Desa Pela mempunyai potensi yang besar untuk mengembangkan diri menjadi Desa Ekowisata yang tentu saja akan berdampak positif untuk pemberdayaan masyarakat di masa mendatang. Apa yang diperlukan adalah keyakinan dan komitmen bersama untuk mengembangkannya bukan semata sebagai kegiatan ekonomi belaka. Ekowisata adalah kegiatan yang multidimensional dimana rasa kesatuan dan integritas masyarakat menjadi lebih kuat.

Menatap Ke Depan

Membangun destinasi wisata kerap kali harus dilakukan dengan serangkaian aktivitas yang akan berdampak negatif pada lingkungan hidup., salah satunya terkait dengan pembangunan atau kontruksi sarana dan prasarana. Dampak lainnya adalah kehadiran banyak orang di sebuah tempat secara terus menerus dan bersama-sama juga akan memberikan beban kepada lingkungan terkait sampah dan limbah jika tak dikelola dengan baik.

Pengembangan pariwisata terutama ekowisata harus sesuai dengan kondisi ekosistem setempat, tidak mereplikasi apa yang dikembangkan di tempat lain. Namun kita bersama juga tahu bahwa apa yang menjadi potensi ekowisata di Pela tidak semuanya berada dalam kondisi yang bagus. Saat ini misalnya terjadi penurunan kualitas air, berkurangnya keanekaragaman hayati dan berubahnya bentang alam untuk penggunaan yang tidak berkesesuaian dengan ekosistem.

Kualitas air dari sungai, rawa dan danau di Pela tidak semata bergantung pada perilaku masyarakat Pela melainkan juga perilaku masyarakat lain di daerah sekitarnya. Dan tentu saja ini menjadi tantangan besar terutama untuk memulihkan kualitas air, agar airnya tetap bersih dan sehat. Perilaku destruktif dalam pemanfaatan sumberdaya juga masih terjadi seperti penangkapan ikan yang tak ramah lingkungan, merusak dan berlebihan.

Mempertahankan rawa-rawa (termasuk hutan rawa) tetap dalam kondisi semula juga tidaklah mudah. Rawa cenderung dianggap tidak bernilai ekonomis dalam kondisi aslinya sehingga cenderung dikonversi menjadi perkebunan sawit misalnya atau menjadi tempat untuk pembangunan rumah walet secara berlebihan.

Berkaca dari pengalaman pembangunan ekonomi Kalimantan Timur yang bersifat ekstraktif dimana hutan menjadi bernilai ekonomi karena ditebang kayunya, rawa bernilai ekonomi karena dirubah menjadi daratan atau lahan kering, meski secara segera bisa mendatangkan pendapatan atau uang yang besar namun dalam jangka panjang justru menimbulkan kerugian yang ditanggung dalam waktu yang lama.

Pengembangan ekonomi berbasis pada pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan lewat ekowisata tidak akan berhasil jika yang disebut nilai ekonomi adalah kekayaan berupa uang. Nilai ekonomi dari usaha ekowisata menyangkut kelestarian lingkungan sehingga tetap mampu menghasilkan yang disebut jasa lingkungan, keseimbangan lingkungan yang bukan hanya bermanfaat untuk generasi sekarang melainkan juga menjadi warisan yang berharga untuk generasi mendatang.

Prinsip pemanfaatan potensi sumberdaya alam dalam bidang ekowisata bersifat non ekstratif. Sumberdaya alam harus dimanfaatkan secara multi guna. Dengan demikian ekonomi yang hendak dibangun dalam usaha ekowisata adalah ekonomi sirkular bukan ekonomi linear yang biasa kita praktekkan saat ini.

Secara sederhana sebenarnya bisa digambarkan sebagai membiarkan sungai tetap menjadi sungai, membiarkan danau tetap menjadi danau dan membiarkan rawa tetap menjadi rawa. Dan manfaat ekonomi yang kita peroleh adalah berupa panen hasil yang dihasilkan oleh siklus atau lingkaran produksi alamiah.

Kita bisa meng ‘uangkan’ udara yang segar, pemandangan yang indah, kicau burung di lebatnya hutan, kepak sayap burung di angkasa, kecipak dan lompatan ikan di air. Kita bisa memperoleh pendapatan tanpa harus banyak menganggu kehidupan mahkluk lain di dalam lingkungan hidup kita. Kalaupun kita harus mengambil maka kita akan mengambil secara terbatas, tetap memastikan keberadaannya dalam lingkungan kita bahkan kalau perlu semakin memperbanyak jumlahnya.

Jadi kreatifitas bukan hanya diperlukan dalam usaha atau industri wisata buatan melainkan juga dalam usaha ekowisata. Kreatifitas bermakna sebagai sebuah usaha untuk memanfaatkan segala sumberdaya yang sebenarnya terbatas secara maksimal tanpa menghasilkan dampak yang merusak termasuk limbah dan sampah.

Akhirnya jalan dari Pela untuk membangun usaha ekowisata sudahlah benar, jejaring pengembangannya juga sudah mulai terbentuk. Namun tetap masih diperlukan upaya yang lebih keras lagi untuk membuat Peta Jalan usaha ekowisata di Pela tidak hanya menguntungkan masyarakat di Pela saja melainkan juga untuk lingkungan yang lebih luas, termasuk penyadaran untuk semua pihak yang selama ini begitu rakus ‘memakan’ kekayaan sumberdaya alam tanah Kalimantan Timur untuk perutnya sendiri.

Yakinlah bumi dan kekayaan alam Kalimantan Timur cukup bahkan berlebih untuk membuat semua rakyatnya sejahtera. Asalkan semua sumberdaya itu dimanfaatkan secara multiguna (multiple use resources).