KESAH.ID – Budaya ngopi di Samarinda bukan lagi sekadar soal secangkir kopi, melainkan fenomena sosial yang membentuk identitas kota. Sejak 2010 hingga hari ini, ratusan kedai kopi tumbuh dan berebut pelanggan, menghadirkan beragam konsep dari manual brew hingga coffee shop besar dengan menu lengkap. Nongkrong di kedai kopi kini menjadi ritual sosial, ruang kreatif, sekaligus penggerak ekonomi lokal. Perjalanan panjang kopi di Samarinda telah berlangsung dalam tiga babak: dari awal ledakan, transformasi, hingga tantangan masa depan.
“Ngopi di mana?” Pertanyaan sederhana ini kini bisa jadi masalah di Samarinda. Jumlah kedai kopi sudah mencapai ratusan, sehingga menentukan pilihan tempat ngopi sering berujung pada perdebatan kecil. Seseorang menyebut satu kedai, yang lain langsung menyahut dengan usulan kedai lain.
Sejak 2010, Samarinda dilanda gelombang kedai kopi. Awalnya muncul jaringan waralaba internasional dan nasional, lalu disusul tren manual brew. Saat itu terjadi loncatan budaya ngopi: obrolan tentang manual brew mendominasi, dan kopi menjadi lebih demokratis. Kedai manual brew bisa dirancang sederhana, fokus pada cita rasa, dan menyasar anak muda serta pekerja yang terbuka dengan konvensi baru.
Menjelang pandemi Covid-19, tren bergeser ke kopi kekinian atau fast coffee. Berbeda dengan manual brew, kedai ini menawarkan menu lebih beragam dan penyajian cepat, sesuai kebutuhan zaman yang serba praktis. Pandemi dengan pembatasan sosial justru membuat kopi kekinian semakin populer. Di Samarinda, kedai kopi kekinian bahkan berjasa menghidupkan kembali kawasan Citra Niaga sebagai ruang publik yang manusiawi.
Pasca Covid-19, perilaku konsumen berubah. Nongkrong di kedai kopi menjadi ritual sosial yang makin kental. Ngopi tak lagi identik dengan pagi atau sore; siang pun kini jadi waktu yang lumrah. Istilah “Ngopi Siang” atau “Ngiang” sempat dipopulerkan Kedai Kopi Koe di Juanda, dengan konsep Happy Hour harga murah hingga jam 3 sore. Ada juga Kopi Noctis di KS Tubun Dalam yang menawarkan Happy Hour sebelum jam 7 malam dengan harga rata 13 ribu rupiah.
Pertumbuhan kedai kopi yang tak terbendung membuat ratusan gerai berebut pelanggan. Masing-masing menawarkan cara berbeda: ruang nyaman untuk bekerja, sajian makanan modern, atau konsep premium. Wi-Fi gratis yang dulu jadi daya tarik kini dianggap standar. Tak bisa dipungkiri, budaya ngopi di Samarinda telah menjadi penggerak ekonomi lokal sekaligus pembuka lapangan kerja baru.
BACA JUGA : Republik Neofederal
Kini, kedai kopi di Samarinda bertransformasi. Tidak lagi sekadar manual brew atau kopi kekinian, tetapi berkembang menjadi coffee shop besar dengan menu lengkap: kopi, minuman non-kopi, roti, hingga makanan berat. Konsepnya pun beragam: industrial modern, semi outdoor, hingga ruang komunitas.
Ada kedai yang mampu menampung ratusan bahkan ribuan orang, dengan modal miliaran rupiah. Coffee shop menjadi ruang kreatif anak muda, tempat komunitas berkumpul, mahasiswa mengerjakan tugas, hingga pelaku usaha berdiskusi. Fungsinya meluas sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif kota.
Namun, persaingan semakin brutal. Farchan Noor Rachman (Efenerr) dalam podcast Mojok menyingkap realita bisnis kopi di Yogyakarta: dua kedai buka, dua lainnya tutup setiap hari. Fenomena serupa mengintai Samarinda. Konsep estetik memang menarik, tetapi pelanggan kini kembali mencari rasa kopi dan makanan yang benar-benar memuaskan. Kedai estetik biasanya ramai di awal pembukaan, lalu sepi jika tak mampu menjaga kualitas.
Beberapa kedai besar tetap ramai karena terkoneksi dengan layanan lain, misalnya fasilitas olahraga atau food court. Namun, keramaian pengunjung tidak selalu berarti bisnis kopi itu untung. Tak jarang kedai yang terlihat ramai akhirnya tutup karena tak mampu bertahan.
BACA JUGA : Kejutan Naratif
Di tengah melemahnya ekonomi nasional dan sektor andalan Kalimantan Timur, bisnis kopi di Samarinda justru masih menguat. Kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) diproyeksi akan membuat Samarinda semakin ramai, meski ekosistem kreatif kota belum benar-benar meledak. Pertanyaan pun muncul: apa yang mendorong investor tetap menggelontorkan dana untuk bisnis kopi di Samarinda?
Jawabannya mungkin karena kedai kopi kini sudah berkembang menjadi ruang alternatif: tempat pertemuan strategis, coworking space, bahkan pusat kegiatan budaya dan literasi. Namun, alarm juga mulai berbunyi. Perjalanan kopi di Samarinda sudah cukup panjang, dan pelaku usaha harus waspada agar fenomena ini tidak sekadar jadi keramaian sesaat.
Langkah yang perlu dipertimbangkan:
- Menjaga kualitas rasa dan pelayanan agar pelanggan loyal.
- Berinovasi dalam menu dan konsep: drive-thru, premium specialty coffee, atau ruang komunitas kreatif.
- Membangun personal branding dan SOP yang kuat, sebagaimana ditekankan Efenerr.
- Kolaborasi antar pelaku usaha untuk menciptakan ekosistem kopi yang sehat dan berkelanjutan.
Kopi di Samarinda kini bukan lagi sekadar minuman. Ia telah menjelma simbol gaya hidup, ruang kreatif, dan penggerak ekonomi. Di balik euforia ratusan kedai, ada tantangan besar: persaingan ketat, biaya operasional, dan tuntutan inovasi. Jika pelaku usaha mampu menjembatani antara narasi estetik dan substansi kualitas, Samarinda bisa menjadi salah satu pusat budaya ngopi di Kalimantan Timur.
Dan inilah yang membuat fenomena kopi di Samarinda begitu istimewa: kota ini mungkin belum punya kopi lokal yang mendunia, tetapi ia punya budaya ngopi yang hidup, berdenyut, dan terus tumbuh. Budaya yang menjadikan “Ngopi di mana?” bukan sekadar pertanyaan, melainkan simbol identitas kota yang sedang menulis sejarahnya sendiri di atas meja kopi.
note : sumber gambar – NONPROFIT JOURNALISM








