KESAH.IDUsaha arang halaban premium Grade A di Loa Ipuh Darat yang dikomandoi Reza Karta Pachlevi sukses menembus pasar Arab Saudi berkat penerapan teknologi tungku kubah ala Jepang, namun keberhasilan ekspor biomassa ramah lingkungan ini memicu ironi besar di tengah narasi transisi energi karena produk bernilai tinggi berbasis sumber daya dan pengetahuan lokal tersebut justru diabaikan di negeri sendiri demi energi fosil bersubsidi, padahal pelibatan warga dalam rantai pasok pohon pionir ini merupakan cetak biru nyata dari Transisi Energi Berkeadilan yang mampu menggerakkan ekonomi komunitas sekaligus memulihkan lahan pascatambang secara berkelanjutan.

Sebelas atau dua belas tahun lalu, sudut-sudut kota di hampir seluruh penjuru Indonesia mendadak riuh oleh deru mesin gerinda yang berpacu mengasah batuan. Demam batu akik melanda bak pandemi kultural yang menyatukan semua kelas sosial. Semua orang berkumpul, membincangkan, dan sama-sama mengagumi keindahan sebongkah batu yang diasah hingga mengilap.

Peta geologi Indonesia seketika menjelma bak peta harta kurun. Di tiap daerah, ditemukan primadona batuan baru yang sebelumnya tak pernah dibahas, apalagi diperdagangkan. Dari Bumi Kie Raha atau Maluku Utara muncul Batu Bacan. Batu ini menjadi primadona tak tergoyahkan dan diburu karena konon mempunyai sifat seperti batu hidup; mampu berubah warna dari hitam pekat menjadi hijau giok yang jernih jika sering dipakai.

Dan dari Kalimantan—yang sebelumnya lebih dikenal karena batu baranya yang hitam—hadir fenomena warna merah muda pekat dengan semburat hitam nan eksotis, yakni Red Borneo. Batuan ini sangat pas mewakili karakter tanah Kalimantan yang kaya akan mineral.

Namun, di tengah riuhnya batuan yang tampak mengkristal dengan warna mencolok tersebut, di Kalimantan Timur muncul jenis batu akik yang tak kalah populer: Batu Akik Fosil Kayu Laban, Leban, atau Halaban.

Batu akik kayu halaban ini adalah sebuah “Kapsul Waktu”. Ia tercipta dari pohon yang tumbang ribuan atau bahkan jutaan tahun lalu, yang urung membusuk karena terkubur jauh di dalam lapisan sedimen tanah Kalimantan Timur.

Proses jutaan tahun itu mengubah kayu menjadi batuan yang unik. Saat dipotong dan kemudian diasah, batu akik dari fosil kayu halaban ini tetap mempertahankan pola dan corak serat kayunya yang khas. Secara visual, fosil kayu laban ini menampilkan gradasi warna bumi yang hangat: cokelat tua, hitam legam, hingga abu-abu monokrom yang elegan.

Jika daerah lain menonjolkan kecerahan warna mineral murni, para pencinta batu di Kaltim justru mengagumi keindahan yang lahir dari kematian organik yang megah. Kayu laban (Vitex pubescens) dikenal sebagai pohon lokal yang tumbuh subur di hutan sekunder Kalimantan. Kayu ini terkenal sangat keras, tahan banting, dan kerap digunakan warga sebagai bahan pasak bangunan hingga bahan baku utama pembuatan arang premium karena kerapatan seratnya.

Layaknya demam-demam yang lain, demam batu akik pun akhirnya berlalu.

Tapi kayu halaban tidak ikut surut. Bahkan kini, nama halaban justru kian harum sampai ke mancanegara karena produk arangnya.

Di Loa Ipuh Darat, tak jauh dari jalan poros Kutai Kartanegara – Kutai Barat, di bawah bedeng sederhana beratapkan daun kajang, Reza Karta Pachlevi memimpin operasi produksi arang halaban lewat enam tungku yang dijaga oleh empat orang pekerja.

Arang kayu halaban premium atau Grade A ini diproduksi khusus untuk tujuan ekspor ke Arab Saudi.

Buyer di sana tidak cerewet, tidak terlalu banyak syarat. Yang penting sesuai dengan spesifikasi yang mereka inginkan, arang kita pasti dibeli,” ujar Reza, yang setiap bulannya rutin mengirim satu kontainer arang kayu halaban ke Arab Saudi.

Di workshop yang dikepung sunyi karena berada di kawasan yang jauh dari permukiman tersebut, di bawah komando Reza Karta Pahlevi, batang-batang kayu halaban disulap menjadi komoditas emas hitam berkualitas dunia yang siap menggantikan batu bara.

Bahan pembuatan arang kayu halaban di pasok oleh warga sekitar dari pohon yang tumbuh di kebun atau pekarangannya.

BACA JUGA : Ducati Spanyol

Batang kayu halaban disusun dengan posisi berdiri dan diatasnya disusun potongan kayu dan serbuk gergajian untuk membentuk kubah.

Memulai usaha sebagai pedagang dengan mengambil kayu halaban dari Kalimantan Selatan, Reza akhirnya banting setir untuk memproduksi sendiri arang kayunya.

“Bahan baku untuk arang kayu halaban sangat banyak di sini. Dengan membuat sendiri, ada banyak keuntungan baik untuk saya maupun lingkungan masyarakat di sini,” ujar Reza.

Pohon halaban memang jenis pohon pionir yang tumbuh dengan sendirinya di bekas lahan atau hutan yang dibuka. Keberadaan pohon ini dengan mudah ditemui di lahan-lahan yang tak dimanfaatkan menjadi perkebunan atau permukiman.

Secara tradisional, masyarakat Kalimantan Timur maupun Kalimantan pada umumnya mengenal kayu ini sebagai bahan pembuat arang. Namun, kebutuhan arang lokal kian lama kian mengecil. Profesi sebagai pembuat arang untuk memenuhi kebutuhan domestik pun menjadi kurang menjanjikan.

Reza, dibantu oleh para pekerjanya yang punya keahlian masing-masing, berhasil mengubah wajah industri arang tradisional. Mereka meninggalkan metode lama untuk mengadopsi model pembuatan arang dengan teknologi kubah (dome) yang diperkenalkan oleh masyarakat Jepang. Tungku pembuatan arang model Jepang ini mampu mengontrol pasokan oksigen dengan presisi dan mempertahankan suhu tinggi secara stabil dalam waktu yang lama.

“Model tradisional atau lama itu kurang bagus karena baranya harus disiram air, sehingga arangnya rapuh dan mengandung banyak abu,” terang Reza.

Paduan antara bahan baku lokal Kalimantan Timur dengan teknologi tungku kubah ala Jepang inilah yang menghasilkan arang premium, atau arang Grade A.

“Proses karbonisasinya sempurna, kandungan airnya hilang total dan tidak berabu. Hasilnya adalah arang kayu halaban yang tidak berasap, tidak memercik, serta menghasilkan panas yang tinggi. Kalorinya lebih tinggi dari kalori batu bara terbaik sekalipun,” lanjut Reza.

Reza tidak sedang membual. Arang kayu halaban yang dihasilkan dari workshop-nya tidak meninggalkan jejak hitam di tangan saat dipegang. Jika diketuk-ketukkan satu sama lain, arang tersebut akan menghasilkan bunyi denting nyaring seperti keramik. Ini menandakan bahwa struktur karbon dalam arang kayu halaban telah terbentuk dengan sempurna.

“Untuk kebutuhan ekspor, kualitas memang tak bisa dikompromikan. Jika kita bisa memenuhi syarat yang diminta, arang kayu halaban ini bakal melanglang buana ke semua penjuru benua,” ujar Reza, yang juga menambahkan bahwa permintaan arang halaban ini sebenarnya sangat besar dari negara-negara Eropa.

Lebih lanjut, Reza menceritakan kalau arang kayu halaban yang diproduksi dari Loa Ipuh Darat ini mayoritas dipakai untuk kebutuhan kuliner di hotel-hotel Arab Saudi.

“Mereka suka makan enak, sedangkan kita suka makan kenyang,” ujar Reza berkelakar, seperti melempar teka-teki.

Ternyata, di Arab Saudi ada kebijakan ketat yang melarang kuliner bakaran dimasak menggunakan gas. Hidangan bakaran mesti dimasak dengan arang yang punya panas stabil sehingga tidak merusak aroma alami makanan.

“Jadi untuk menyajikan makanan terbaik dengan rasa yang otentik, arang premium sangat dibutuhkan untuk memasaknya,” lanjut Reza menerangkan apa yang dimaksud dengan ungkapan ‘mereka suka makan enak’.

Untuk menghasilkan makanan yang lezat, selain butuh bahan baku terbaik, ternyata juga butuh sumber energi yang prima. Dan hotel-hotel di Arab Saudi rela membayar mahal demi mendatangkan arang kayu halaban langsung dari Kutai Kartanegara.

Pekerja terampil mulai membentuk kubah dengan tanah berkerikil yang akan dipadatkan sehingga panas dan asap tidak bocor keluar.

BACA JUGA : Masih Messi

Dalam tungku berbentuk kubah ini kayu halaban akan dibiarkan terbakar selama 15 hingga 20 hari.

Lagi-lagi, ada ironi di balik keberhasilan Reza Karta Pachlevi memproduksi arang kayu halaban untuk kebutuhan ekspor ini. Sumber energi biomassa yang berbasis pengetahuan dan sumber daya lokal yang berlimpah ini ternyata justru diantre oleh masyarakat internasional. Sementara di negeri sendiri, arang halaban premium hampir tak punya ruang pemanfaatan.

Masyarakat dan industri lokal masih sangat bergantung pada energi fosil yang disubsidi, atau memilih arang kualitas rendah yang diproduksi secara instan namun merusak lingkungan. Energi yang diolah dengan prinsip ramah lingkungan dan rendah emisi ini justru dianggap terlalu mahal dan tidak laku di tanah airnya sendiri.

Apa yang terjadi di Loa Ipuh Darat sebenarnya adalah cetak biru kecil dari narasi besar yang sering didengungkan sebagai transisi energi berkeadilan (just energy transition). Usaha yang digerakkan oleh Reza tidak hanya menghidupkan ekonomi warga lokal, tetapi juga memanfaatkan jenis kayu sekunder yang cepat tumbuh dan menerapkan teknologi pembakaran bersih untuk menekan polusi udara. Ini adalah contoh konkret bagaimana komunitas lokal bisa berkontribusi pada pengurangan emisi karbon, sekaligus menjaga sumber daya energi keberlanjutan.

“Kayu halaban ini dipasok oleh warga lokal. Ada puluhan orang yang menjual kayu halaban ke sini. Kayu ini kami hargai 700 ribu rupiah per pick-up,” terang Reza.

Memang ironis, karena di tingkat kebijakan makro, kita sering kali sibuk memperdebatkan teknologi transisi energi yang canggih, mahal, dan harus diimpor dari luar negeri. Sementara itu, inovasi nyata yang lahir dari rahim bumi sendiri dan digerakkan oleh tangan-tangan lokal justru dipaksa untuk selalu menoleh ke luar negeri agar bisa bertahan hidup.

Bara arang halaban dari Loa Ipuh Darat telah membuktikan diri mampu menerangi pasar dunia. Menjadi tamparan keras bagi kita semua: sampai kapan potensi energi bersih berbasis komunitas ini hanya akan menjadi komoditas ekspor, sementara transisi energi di negeri sendiri masih menyisakan ruang yang dingin bagi inovasi lokal?

Dr. Ir. Ibrahim MP, akademisi dari Universitas Mulawarman yang mengepalai Unit Penunjang Akademik Sumber Daya Hayati Hutan Tropis Lembab—yang kebetulan sedang bertandang ke workshop pembuatan arang kayu halaban di Loa Ipuh Darat—turut memberi catatan tambahan tentang transisi batu bara yang berkeadilan.

Ibrahim berkeberatan dengan upaya menjadikan lahan eks-tambang semata-mata sebagai kawasan pengembangan energi surya atau bayu (angin).

“Akan lebih mendatangkan kemanfaatan ekonomi bagi warga sekitar yang ditinggal oleh industri tambang jika eks-area tambang ditanami kayu penghasil energi seperti halaban ini,” ujar Ibrahim.

“Kalau untuk pembuatan PLTS, masyarakat hanya akan terlibat atau mendapat manfaat ekonomi sekilas saat masa pembangunan. Tetapi jika masyarakat menanam kayu halaban, nyamplung, dan lainnya, mereka akan bisa terus memanen secara berkelanjutan,” lanjutnya dengan ucapan penuh semangat.

Merawat pengetahuan lokal, memanfaatkan sumber daya lokal, dan mendatangkan kemanfaatan ekonomi bagi masyarakat lokal ternyata merupakan salah satu kunci utama transisi energi yang berkeadilan. Maka, melibatkan masyarakat lokal dalam kebijakan transisi energi sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi.

note : sumber gambar – JURNALIS WARGA