KESAH.IDKereta api romansa tentang naik kereta pasti melegenda dalam ingatan kolektif bangsa, namun dibalik itu ada realitas pahit karena kecelakaan yang masih membayangi jalur baja kita. Di antara nostalgia dan teknologi, terselip harapan agar moda angkutan yang paling dicintai ini benar-benar mampu menjadi ruang perjalanan yang aman bagi semua.

Sejak kecil saya dekat dengan kereta api karena saya lahir di Kecamatan Kutoarjo. Walau kemudian tinggal di Kecamatan Purworejo, saya sering ke Kutoarjo karena kakek dan nenek tinggal di sana, di Sanepo, Kidul Sepur.

Karena kakek saya bekerja di PJKA, saya sering diajak ikut naik kereta api, dari Kutoarjo sampai Yogya, atau dari Kutoarjo ke Purwokerto. Om saya juga sering mengajak ke stasiun kereta api Kutoarjo, ke dekat depo loko karena di sana ada meja pingpong.

Di Purworejo sendiri ada stasiun kereta, tapi hampir tak pernah kelihatan rangkaian kereta apinya. Stasiunnya buntu. Stasiunnya memang cukup ramai karena ada penjual soto yang terkenal di sana.

Setelah tamat SMA dan kemudian naik KM Kambuna meninggalkan Tanjung Priok, kereta kemudian jauh dari kehidupan saya hingga hari ini. Dua pulau yang saya tinggali setelah meninggalkan Pulau Jawa tidak punya rangkaian kereta api.

Kelak di Sulawesi memang ada rangkaian kereta, tapi bukan di Sulawesi Utara. Sementara di Kalimantan memang sudah lama ada rencana untuk membangun rangkaian kereta api, tapi sampai sekarang belum terwujud. Padahal sudah ada anak-anak muda dari Kalimantan Timur yang dikirim ke Rusia untuk belajar kereta api.

Dengan daya angkut yang besar, kereta api menjadi salah satu moda transportasi umum yang paling populer. Meski tak ada di semua wilayah, kereta api ada dalam memori hampir semua warga Indonesia, terutama yang pernah sekolah Taman Kanak-Kanak.

Ibu Sud punya jasa besar mempopulerkan kereta api karena lagu yang diciptakannya menjadi “lagu kebangsaan” anak-anak Indonesia. Anak-anak Indonesia suka menyanyikan, “Naik kereta api tut tut tut, siapa hendak turut, ke Bandung, Surabaya, bolehlah naik dengan percuma…”

Naik kereta api jadi obsesi ketimbang naik pesawat terbang yang waktu itu terasa sangat mahal. Terbukti ketika Whoosh, kereta cepat, dioperasikan, banyak orang berbondong-bondong pergi dari Jakarta ke Bandung hanya untuk menaiki kereta itu.

Saya pun jika mudik sebisa mungkin mengajak anak saya untuk naik kereta. Mulanya dari Yogya ke Kutoarjo atau sebaliknya. Lalu dari Yogya ke Surabaya. Dan suatu hari anak saya sudah menaiki kereta api dari Surabaya hingga Bandung.

Ketika layanan kereta api makin membaik setelah ditata oleh Ignasius Jonan, sebenarnya saya mulai enggan menaiki kereta api jarak jauh. Keretanya sudah ber-AC semua sehingga tak bebas lagi untuk merokok.

Dulu ketika KAI belum direformasi, kereta sering kali berhenti lama di stasiun, cukup untuk menghabiskan satu atau dua batang rokok sebelum kembali berangkat. Kini kalaupun ada kesempatan berhenti di stasiun dan cukup lama, di peron stasiun tak diperkenankan lagi untuk merokok.

Dengan semua kenangan tentang kereta api, mendengar ada kecelakaan yang menimpa kereta api selalu menimbulkan rasa perih tersendiri.

BACA JUGA : Sirkus Pendidikan

Kereta api mestinya merupakan angkutan umum yang paling aman karena punya jalan sendiri. Masalahnya, jalan kereta api berada di daratan dan sering berlintasan dengan jalan umum, jalan yang dilintasi kendaraan darat.

Di perlintasan ini sering terjadi insiden, karena tidak semua lintasan adalah lintasan resmi yang mempunyai penjaga. Pun kalau ada penjaga, pintu lintasannya kadang tak sempurna sehingga tetap bisa diterobos.

Kini hampir semua lintasan kereta yang resmi sudah dilengkapi dengan pintu otomatis dan penjaga yang lebih waspada. Tapi tidak semua lintasan adalah lintasan resmi, sebab masih banyak juga yang seadanya, tanpa pintu atau palang yang benar-benar menutup. Menerobos lintasan masih jadi kebiasaan.

Di pintu lintasan ini sering terdengar insiden motor atau mobil yang tertabrak kereta. Insiden lain yang sering terjadi adalah kereta anjlok, roda kereta keluar dari rel. Tapi kejadian ini mulai berkurang sekarang ini; konstruksi rel kereta api sudah mulai disempurnakan. Bantalan rel sudah diganti dengan beton, bukan lagi besi atau kayu yang sering dicuri.

Yang jarang terjadi adalah tabrakan kereta adu banteng, atau berhadap-hadapan. Logikanya memang tak boleh terjadi kecuali ada kesalahan manusia atau human error. Tapi beberapa kali tabrakan seperti ini terjadi. Peristiwa Bintaro menjadi yang paling menyedihkan, hingga dikenang sebagai Tragedi Bintaro.

KA Ekonomi Patas jurusan Tanah Abang–Merak dan KA Lokal Rangkasbitung–Jakarta Kota bertabrakan di tikungan lintasan. Lebih dari 100 orang meninggal dunia. Kejadian ini diawetkan dalam sebuah film berjudul Tragedi Bintaro yang disutradarai oleh Buce Malawau dan lagu berjudul 1910 yang ditulis oleh Iwan Fals.

Tabrakan frontal sebelumnya juga pernah terjadi di tahun 1968, tepatnya di Ratujaya, Depok antara KA 406 dan KA 309. Dan kemudian terjadi lagi di Ratujaya pada 2 November 1993 di mana dua rangkaian KRL ekonomi saling bertabrakan di jalur tunggal antara Depok Lama dan Citayam.

Namun insiden yang lebih sering terjadi adalah sebuah rangkaian kereta menyeruduk dari belakang rangkaian kereta lain yang tengah berhenti. Kecelakaan sering terjadi di lingkungan stasiun, entah menimpa kereta yang sedang menunggu berangkat, atau kereta yang sedang menunggu untuk diperbolehkan masuk stasiun.

Kecelakaan kereta api terakhir pada tanggal 27 April 2026 antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Bekasi Timur terjadi di stasiun. KRL Bekasi Timur sedang berhenti di stasiun karena jalur sedang ditutup akibat insiden kereta lain yang menabrak taksi.

Kecelakaan ini menimbulkan pertanyaan soal model peringatan dini dalam sistem kereta api. Dengan lalu lintas kereta yang makin tinggi, terlambat memperingatkan atau menghentikan rangkaian kereta lain dalam satu-dua menit saja bakal membuat celaka.

KA Argo Bromo Anggrek adalah kereta cepat, kecepatannya bisa di atas 100 km per jam. Dengan kecepatan seperti itu butuh waktu untuk menghentikan kereta, bahkan dengan sistem pengereman darurat sekalipun.

Mestinya tak sulit untuk membuat sistem yang memungkinkan masinis melihat kereta-kereta lain yang ada di sekitarnya dengan jarak yang aman, termasuk membedakan mana kereta yang berjalan dan mana yang berhenti agar kejadian menyeruduk dari belakang tak terjadi lagi. Sementara untuk tabrakan frontal, hal ini lebih mudah dihindari seandainya rel kereta dibuat menjadi double track.

BACA JUGA : Mas Bambang

Belum usai perbincangan tentang kecelakaan di Bekasi, Argo Bromo Anggrek sudah menabrak lagi. Kali ini yang ditabrak adalah mobil di perlintasan swadaya Desa Tuko, Kabupaten Grobogan.

Mobil yang ditumpangi sembilan orang itu mati mesinnya ketika melintas di atas rel dan tak lama kemudian muncul KA Argo Bromo Anggrek dari arah barat ke timur. Tak mungkin lagi direm sehingga lokomotif kereta menabrak badan mobil yang melintang dan mobil terlempar masuk ke sawah. Kecelakaan ini menewaskan empat orang penumpang kendaraan.

Kecelakaan seperti inilah yang sering terjadi; kereta menabrak mobil atau motor. Kalau menabrak orang, biasanya orangnya sengaja mau bunuh diri. Perlintasan kereta memang menjadi masalah, terlebih lagi yang bukan merupakan perlintasan resmi. Hampir tak ada rambu-rambu atau notifikasi kalau akan ada kereta yang akan lewat.

Hanya mengandalkan pandangan kereta di kejauhan jelas sangat berbahaya. Terlebih karena masyarakat kita kurang disiplin dan suka menerobos meski ada penjaga yang mengingatkan atau menyetop kendaraan. Kondisi perlintasan memang sering membuat kendaraan mati, terlebih pada pengemudi yang kurang terampil memainkan gas dan kopling.

Biasanya perlintasan kereta api dari jalan umum cenderung menanjak. Jika pengemudi tak cepat menurunkan persneling dan memainkan gas, bisa jadi mesin mobil akan mati. Tapi ada juga teori lain yang sering dikemukakan baik oleh masyarakat umum maupun mereka yang mengaku ahli. Jaringan rel konon mempunyai induksi magnet yang sering membuat mobil mati mesinnya dan sulit dihidupkan hingga kemudian mobil tertabrak kereta yang sudah dekat jaraknya.

Soal induksi magnet ini jadi perdebatan, karena menurut para ahli lainnya kadar atau tingginya tak akan cukup untuk mematikan mesin mobil. Maka bisa jadi persoalan yang sesungguhnya adalah keterampilan pengemudi saat melewati perlintasan kereta api hingga kemudian mesin mati, lalu panik sehingga gagal menghidupkan mesin lalu tertabrak kereta api.

Apapun itu, persoalan seperti ini masih akan terus terjadi karena ada ribuan pintu perlintasan kereta api yang jaminan keamanannya rendah. Pintu mudah diterobos oleh mereka yang tidak disiplin atau kurang sabar menunggu kereta lewat.

Banyaknya kejadian juga tak membuat mereka yang tak disiplin menjadi jera; mungkin mereka malah merasa bangga bisa melewati lintasan kereta saat rangkaian kereta api sudah mendekat. Padahal kecerobohan seperti itu sungguh berbahaya, bukan hanya bagi dirinya sendiri melainkan juga untuk banyak orang lainnya seperti yang terjadi di Bekasi, ketika sebuah rangkaian kereta menabrak mobil lalu lintasan ditutup sementara. Namun karena kurang koordinasi, akhirnya ada kereta yang tengah berhenti diseruduk dari belakang.

Yang bisa disampaikan hanya harapan; siapapun yang melewati lintasan kereta api mesti sadar kalau kereta api tak bisa direm mendadak.

note : sumber gambar – MSN