KESAH.IDMitos bahwa manusia hanya menggunakan sepuluh persen kapasitas otaknya telah menjadi salah satu kebohongan paling seksi sekaligus menguntungkan dalam sejarah modern. Narasi ini terus dipelihara bukan karena landasan ilmiahnya, melainkan karena ia menawarkan pelarian instan bagi ketidakinginan kita untuk berproses, sekaligus menjadi ladang emas bagi industri penjual mimpi.

Keliru tapi populer, itu fenomena biasa dalam kehidupan bersama. Hal seperti itu umumnya disebut sebagai mitos. Dalam berbagai hal selalu ada mitos. Misalnya dalam hal kesehatan reproduksi, di mana dipercaya hubungan seks pada jam tertentu lebih bisa menyebabkan kehamilan. Atau berhubungan seks dengan pasangan yang jauh lebih muda atau “daun muda” akan meningkatkan vitalitas.

Namun, salah satu yang paling banyak memiliki mitos adalah kerja otak. Mitos ini tumbuh karena penelitian tentang cara kerja otak masih terbatas; ilmu yang disebut dengan neurosains terbilang masih muda. Salah satu ilmu populer yang kemudian juga dilingkupi oleh banyak mitos tentang kerja otak adalah psikologi. Maka begitu neurosains menguat atau makin maju, psikologi kemudian berkembang menjadi biopsikologi.

Dahulu, sebelum neurosains berkembang, mimpi sering dianggap sebagai gejala psikologi. Namun kini, cara kerja mimpi sudah ditemukan, juga fungsinya secara biologis, sehingga mimpi tidak lagi ditafsirkan secara psikologis karena mimpi memang tidak bermakna apa-apa. Meski begitu, kalau mau memaknai mimpi ya tidak apa-apa. Toh, cara kerja otak memang begitu; otak mampu mempercayai hal yang tak bermakna, tapi bisa dimaknai apa saja.

Mitos bukan hanya soal mimpi, tetapi juga soal golongan darah, tanggal dan bulan lahir yang dikenal sebagai bintang atau astrologi, weton, pasaran, dan banyak lainnya. Di dalam tradisi Tionghoa ada shio, sementara di Jawa ada buku primbon. Karena dipercaya, mitos pun sulit hilang walau secara sains sudah dibuktikan cara kerja atau algoritma dari fenomena tertentu. Mitos memang berorientasi pada kebenaran, sementara sains tidak. Sebuah mitos lalu dipercaya kebenarannya secara komunal, maka menjadi kuat karena dipercayai.

Di dunia mana pun mitos selalu ada; hal ini tidak berhubungan dengan tingkat kecerdasan atau tingkat pendidikan masyarakatnya. Yang cerdas maupun terdidik tetap saja bisa percaya mitos, karena cara kerja otak memang demikian; otak kita bisa mempercayai dua hal yang bertentangan. Maka tak perlu heran jika ada dokter yang percaya pada konsep otak kanan dan otak kiri yang menghasilkan perilaku berbeda, atau percaya bagaimana memaksimalkan kerja otak dengan melakukan senam otak.

Orang-orang cerdas dan terdidik banyak yang percaya kalau otak manusia baru digunakan 10 persen, sehingga bisa dimaksimalkan agar menghasilkan kekuatan-kekuatan yang lebih besar, sukses, dan lainnya. Padahal, argumen bahwa otak manusia hanya digunakan 10 persen bukanlah argumen ilmiah. Tesis ini kemungkinan besar dicomot dari film fiksi ilmiah dan kemudian berkembang menjadi pseudosains yang mengambil teori ini-itu lalu digabungkan secara gothak gathik gathuk.

Keyakinan seperti ini pernah menghasilkan banyak cuan. Ada banyak trainer, fasilitator, atau public speaker yang kemudian membuat seminar-seminar dan laku. Ada seminar mengefektifkan penggunaan otak kanan dan otak kiri, ada sesi senam otak, hingga seminar parenting bagaimana meningkatkan kerja otak anak agar digunakan 100 persen. Seminar-seminar yang umumnya dibawakan oleh para motivator yang sering disapa dengan sebutan coach atau sensei ini amat marak beberapa tahun lalu. Dan apa yang dijanjikan pada waktu itu tak terbukti hingga sekarang.

BACA JUGA : Urus Politik

Soal premis otak manusia baru digunakan 10 persen jelas hasil karangan yang kelewat imajinatif. Sejak semula, otak manusia selalu digunakan 100 persen. Seseorang yang otaknya tidak bekerja seratus persen jelas akan mengalami masalah, kekurangan, atau bahkan cacat. Secara biologis, otak manusia yang selalu aktif sepenuhnya bisa dipindai dengan teknologi fMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging). Lewat pemindaian, bahkan saat seseorang tertidur, otak tetap bekerja sibuk mengatur pernapasan, mimpi, dan konsolidasi memori.

Memang tidak semua sel saraf atau neuron bekerja bersamaan atau serempak, tetapi setiap bagian otak yang masing-masing punya fungsi spesifik akan digunakan secara bergantian sepanjang hari. Fakta bahwa otak bekerja 100 persen bisa dilihat dari konsumsi energi. Organ otak yang beratnya hanya 2 persen dari bobot tubuh ternyata mengonsumsi 20 persen energi tubuh. Maka dari sudut biologi, tidak mungkin tubuh akan menghabiskan 20 persen energi untuk organ yang 90 persen menganggur.

Kenapa otak selalu bekerja 100 persen? Karena jika otak hanya bekerja 10 persen dari kapasitasnya, maka yang akan terjadi adalah malfungsi. Sembilan puluh persen potensi yang tidak bekerja bukanlah potensi tersembunyi, melainkan kondisi medis atau biologis yang serius. Jika otak hanya bekerja 10 persen, bisa dipastikan ada kerusakan berat di otak. Jangankan 90 persen, kehilangan fungsi di salah satu area kecil di otak saja sudah bisa mengakibatkan stroke, atau trauma kecil di otak saja bisa menyebabkan kelumpuhan, kehilangan kemampuan bicara, bahkan sampai terjadi perubahan kepribadian total.

Sel otak yang tidak digunakan atau tidak berfungsi lama-kelamaan akan mengalami penyusutan atau atrofi dan kemudian mati. Seseorang yang otaknya hanya bekerja 10 persen bisa dipastikan berada dalam kondisi mati otak atau dalam keadaan vegetatif permanen. Film-film science fiction memang kerap menunjukkan imajinasi tentang manusia super. Film seperti ini sering memberi gambaran tentang adanya kekuatan super dalam diri manusia yang masih terkunci di kepala.

Kekuatan ini harus di-hack, harus dibuka dengan berbagai cara. Ada yang dilatih, ada yang diberi formula tertentu, ada yang melalui meditasi, dan lain-lain. Imajinasi ini kemudian melahirkan pandangan bahwa otak manusia baru sebagian kecil yang digunakan—anggap saja 10 persen. Dengan demikian, masih ada potensi 90 persen yang bisa didayagunakan. Untuk itu, ditawarkan berbagai program, sesi, atau seminar untuk meningkatkan kerja otak.

Padahal, meski otak bekerja atau dimanfaatkan 100 persen, tetap terbuka peluang untuk meningkatkan kinerjanya. Ada yang disebut plastisitas atau neuroplastisitas. Dengan demikian, kualitas kerja otak masih terbuka untuk ditingkatkan; peningkatan bukan pada kapasitas, melainkan kualitas. Neuroplastisitas bisa dilakukan dengan belajar atau berlatih, serta istirahat yang cukup sehingga otak akan membersihkan diri dari racun sisa metabolisme. Memberi tantangan pada otak untuk memecahkan masalah juga akan membuat transmisi sinyal antarbagian otak makin efisien. Maka meningkatkan kerja otak bukan berarti meningkatkan luas area atau banyaknya organ yang digunakan, melainkan meningkatkan efisiensi dan ketajaman jaringannya.

BACA JUGA : Masak Air

“Manusia hanya menggunakan sepuluh persen kapasitas otaknya.” Selama puluhan tahun, satu kalimat fiktif telah berhasil menyihir jutaan orang. Narasi ini begitu seksi karena ia menawarkan sebuah lubang pelarian atau pengharapan. Mitos ini memberikan harapan bahwa dalam diri kita semua ada kekuatan super. Manusia digambarkan sebagai pahlawan super yang sedang tertidur; kejeniusan, kesuksesan, atau hal-hal hebat lainnya hanyalah masalah “aktivasi”. Kita gagal karena ada sebuah saklar dalam kepala kita yang tidak di-klik atau tidak dinyalakan.

Tapi sebuah mitos, meskipun bisa dibuktikan sebaliknya, tetap saja akan dipercaya atau tetap bertahan. Bukan berarti orang bebal, melainkan mitos itu dipandang menguntungkan, utamanya secara bisnis atau ekonomi. Di balik mitos 10 persen, sering kali ada industri raksasa yang menggali keuntungan dari fondasi kebohongan itu. Yang diuntungkan adalah industri suplemen dan “obat pintar” (nootropics) yang menjanjikan peningkatan kognitif instan. Mereka menjual botol-botol harapan agar Anda merasa bisa menjadi seperti karakter dalam film Limitless.

Berikutnya adalah motivator dan pelatih pengembangan diri gadungan yang menjual seminar “Aktivasi Otak Tengah” atau metode belajar kilat yang mengklaim mampu membuka kunci area otak yang tersembunyi. Mereka tidak menjual ilmu pengetahuan; mereka menjual jalan pintas imajiner bagi orang-orang yang putus asa ingin menjadi cerdas tanpa harus berproses. Industri lain yang diuntungkan adalah industri hiburan seperti Hollywood yang terus memproduksi film bertema kekuatan otak tersembunyi karena narasi tersebut selalu berhasil memicu fantasi penonton. Selama kita masih percaya bahwa ada “cadangan kekuatan” di dalam kepala, kita akan terus menjadi konsumen setia bagi produk-produk yang menjanjikan kunci untuk membukanya.

Namun, memercayai bahwa otak kita baru berfungsi sepuluh persen adalah cara paling halus untuk menipu diri sendiri. Kita lebih suka mengejar suplemen mahal atau seminar aktivasi ajaib daripada harus berkeringat membaca buku berat atau melatih disiplin berpikir setiap hari. Mitos ini terus dipelihara bukan karena ia benar, melainkan karena ia menghasilkan uang bagi para penjual mimpi dan memberikan alasan bagi mereka yang enggan berupaya.

Faktanya, seluruh mesin di kepala Anda sudah menyala seratus persen. Jika Anda merasa hidup Anda masih tertinggal, berhentilah mencari saklar tambahan yang tidak pernah ada. Masalahnya bukan pada kapasitas mesin yang terbatas, melainkan pada keengganan Anda untuk mulai menginjak gas dan berhenti menjadi penonton di balik kemudi hidup sendiri.

note : sumber gambar – IDNTIMES