KESAH.IDDominasi absolut Marc Marquez di COTA yang selama ini dianggap sebagai “hukum alam” MotoGP kini harus berbenturan dengan realitas fisik dan kebangkitan armada Aprilia yang kian mengancam takhta Ducati. Di balik julukan King of COTA yang masih melekat, seri Amerika Serikat 2026 menjadi panggung drama yang memperlihatkan sisa-sisa keajaiban sang “Gatotkaca” lintasan balap dalam melawan rasa sakit, penalti, hingga kendala teknis yang tak terduga.

Setelah begitu mendominasi pada seri MotoGP 2025, Marc Marquez memperoleh hasil minor dalam dua seri pembuka MotoGP 2026. Di Thailand, Marc Marquez mendapat penalti pada sesi sprint race dan mengalami insiden pecah ban di balapan utama.

Sirkuit baru di Brasil memberi harapan. Marc Marquez berhasil memenangkan sesi sprint race, namun dalam balapan panjang, Marc kalah bersaing dengan Di Giannantonio di lap-lap akhir untuk merebut podium ketiga. Hasil di dua balapan pembuka menunjukkan Aprilia menjadi penantang paling serius untuk Ducati.

Untuk kebanyakan pembalap, apa yang dicapai oleh Marc Marquez tidak buruk-buruk amat. Tapi untuk pembalap sekelas Marc Marquez, tentu hasil ini mengecewakan. Memang ada banyak alasan, terutama berkaitan dengan kondisi fisiknya. Menurut beberapa pengamat yang merupakan bekas pembalap, mereka melihat Marc Marquez belum nyaman di atas motornya; gaya berkendaranya masih kaku.

Hanya saja menurut mereka, Marc tetaplah Marc. Meski kini tertinggal dalam klasemen sementara, Marc Marquez dipercaya bisa membalikkan keadaan. Sebelum Marc sendiri menyerah, selalu masih terbuka kemungkinan untuk merebut takhta juara. Seri ketiga di Amerika Serikat akan menjadi salah satu bukti, apakah Marc masih perkasa atau tidak.

Sepanjang sejarah kalender MotoGP, sirkuit COTA di Austin, Texas bukan sekadar lintasan favorit Marc Marquez. Sirkuit ini adalah singgasana untuk Marc Marquez. Marc dijuluki “King of COTA” karena langganan menang di sana. Karakter sirkuit ini berlawanan dengan arah jarum jam atau counter-clockwise dengan dominasi tikungan ke kiri. Membelok ke kiri adalah gaya bermain Marc Marquez, di mana Marc bisa membelok dengan sangat cepat, presisi, dan agresif.

Namun kedatangan sang raja ke singgasana kali ini nampaknya dengan mahkota yang sedikit retak. Marc datang dengan anomali karena belum berhasil podium di balapan utama pada dua seri sebelumnya. Dalam balapan utama Marc Marquez seperti mengalami kendala fisik; dugaannya fisik Marc belum pulih 100 persen pasca-operasi di akhir 2025. Marc terlihat berani menekan habis-habisan dalam balapan sprint race, namun di balapan utama sering terlihat menahan diri; bukan mencari menang melainkan hanya mengamankan poin.

Dengan semua catatannya, Marc tetap masih difavoritkan di sirkuit COTA; peluang menangnya tetap besar walau tak lagi absolut. Di masa lalu, kekalahan Marc di sirkuit COTA lebih disebabkan oleh kesalahan sendiri. Banyak yang masih yakin karena kelemahan Marc di lengan kanan akibat cedera akan ditutupi di sirkuit ini karena mempunyai banyak belokan ke kiri. Marc akan lebih mampu mengendalikan motor Ducati di sirkuit ini.

Kalaupun ada tantangan untuk Marc Marquez adalah tuntutan fisik pada stamina. Hal ini terlihat nyata pada dua seri sebelumnya di mana Marc tampil beringas di sesi sprint race dan paruh pertama balapan utama, namun kemudian merosot di paruh akhir. Jika kondisi Marc Marquez fit 100 persen di COTA, Marc jelas akan sulit untuk dikalahkan.

Dari dua seri pembuka juga sudah kelihatan siapa penantang Marc Marquez. Ada Enea Bastianini dan Pedro Acosta, lalu ada juga Jorge Martin serta Fabio Di Giannantonio. Dan tak boleh dilupakan ada pembalap yang lebih ringan beban mentalnya yakni Ai Ogura. Mereka respek pada Marc Marquez namun sudah mulai percaya diri bahwa Marc bisa dilawan.

COTA 2026 akan menjadi pembuktian: apakah Marc Marquez masih seorang “Raja” yang mampu menaklukkan rasa sakit dengan bakat alaminya, ataukah ia kini harus bertransformasi menjadi pembalap yang lebih taktis. Menang di sprint race mungkin membuktikan kecepatannya masih ada, tetapi kemenangan di balapan utama hari Minggu di COTA akan menjadi pernyataan kepada dunia bahwa sang legenda belum habis. Jika ia gagal meraih podium di sirkuit favoritnya ini, maka musim 2026 bisa menjadi musim yang sangat panjang dan melelahkan bagi kubu Ducati dan Marc Marquez sendiri.

BACA JUGA : Sungkem Ortu

Datang ke Austin, Texas, Marc Marquez cukup percaya diri. Berbekal kepercayaan diri dan pengenalan pada sirkuit, di sesi latihan pertama Marc justru mengalami crash. Marc Marquez terjatuh di tikungan 10 yang merupakan tikungan kesukaannya. Marc terjatuh ketika kecepatan motor sekitar 190 km per jam, sehingga tubuhnya terseret sampai menghantam pagar pembatas. Kecelakaan ini membuat bendera merah dikibarkan.

Marc mengalami benturan di bahu kiri dan kanan serta luka terbuka di tangan. Mungkin benar, Marc Marquez bisa disebut sebagai “Gatotkaca”, tokoh pewayangan yang digambarkan berotot kawat dan bertulang besi. Begitu juga dengan Marc Marquez yang entah badannya terbuat dari apa, karena terjatuh dan terseret dengan kecepatan 190 km per jam hanya menyisakan lecet.

Empat menit menjelang sesi berakhir, Marc turun lagi ke lintasan dan berhasil memungkasi sesi latihan dengan menempatkan diri sebagai pembalap tercepat keempat. Kecelakaan keras yang dialami tak membuat niat dan keberanian Marc Marquez surut. Ditanya soal rasa sakit setelah kecelakaan, Marc mengatakan hampir seluruh badannya sakit, bukan hanya di bahunya.

Namun bukan Marc Marquez kalau tak mampu menahan rasa sakit. Sehingga dalam sesi latihan untuk menentukan siapa yang langsung masuk ke babak kualifikasi 2, Marc Marquez mampu menjadi pembalap yang tercepat. Dengan pengalaman jatuhnya, Marc Marquez kemudian mengubah racing line sebelumnya. Marc mengubah jalur balapnya untuk menghindari bumpy atau trek yang bergelombang.

Melihat kondisi dan rasa sakit yang dirasakan, Marc Marquez menetapkan target tak muluk-muluk di sirkuit Austin, Texas ini. Marc Marquez tidak akan memaksakan untuk menang; baginya yang terpenting adalah mengamankan poin, menyelesaikan balapan dengan usaha semaksimal mungkin agar tak terjatuh.

Para penantangnya seperti Marco Bezzecchi dan Fabio Di Giannantonio juga tampil sangat baik. Mereka merasa mendapat feeling berkendara yang lebih baik daripada di Brasil. Meski begitu mereka sadar di sirkuit COTA, Marc Marquez tetaplah “Super Marc”. Dan terbukti pada babak penentuan untuk kualifikasi ke-2, Marc yang berjuang dari menit awal akhirnya bisa memungkasi latihan sebagai pembalap yang tercepat, mengalahkan catatan waktu dari Fabio Di Giannantonio dan pembalap Aprilia yang menunjukkan konsistensi kecepatannya.

Taji Marc Marquez ditunggu di sesi kualifikasi; akankah Marc tetap menjadi King of COTA atau harus segera menyerahkan takhtanya pada pembalap-pembalap yang lebih muda.

BACA JUGA : Bijak Energi

Insiden di sesi kualifikasi membuat Marc Marquez tidak bisa memperoleh hasil maksimal. Marc hanya menduduki posisi start ke-6, posisi terburuk dari 3 seri balapan. Karena insiden ini, Marco Bezzecchi dan Luca Marini diganjar penalti turun dua posisi start. Dalam balapan sprint race, Marc berusaha tampil bagus dan seperti biasa langsung agresif. Tapi nahas di lap pertama, Marc yang berusaha melewati Fabio Di Giannantonio terlalu memaksakan diri sehingga jatuh di tikungan dan membuat Fabio Di Giannantonio ikut terseret jatuh. Karena insiden ini, Marc Marquez diganjar long lap penalty pada balapan utama.

Francesco Bagnaia tampil baik dalam sesi sprint race, terus memimpin sejak awal walau sedikit berbau keberuntungan karena selain Marc dan Diggia, Marco Bezzecchi juga terjatuh. Marc Marquez lagi-lagi kehilangan poin di sirkuit COTA karena kesalahannya sendiri. Dalam sesi sprint race, bintang terang menyinari Jorge Martin. Jorge berhasil menunjukkan keunggulannya di lap terakhir dengan mengalahkan Francesco Bagnaia; kemenangan yang semakin menambah kepercayaan dirinya.

Pada sesi balapan utama, Marc Marquez nampak lebih berhati-hati. Di lap-lap awal Marc Marquez nampak mudah dilewati oleh pembalap-pembalap lainnya. Baru setelah menjalani hukuman long lap penalty yang membuat posisinya merosot hingga ke posisi sebelas, Marc mulai menunjukkan tajinya.

Sementara Marco Bezzecchi menjalani balapan yang sempurna; memimpin sejak di lap-lap awal, posisinya tak terkejar lagi. Pedro Acosta berusaha terus menyerang namun sebuah kesalahan membuatnya disalip oleh Jorge Martin. Menjelang lap-lap terakhir Jorge Martin seperti mempunyai peluang mengejar Marco Bezzecchi, namun nampaknya Jorge tidak memaksa diri karena berisiko mengalami crash.

Hanya saja terlihat Aprilia memang kencang seperti yang ditunjukkan oleh Ai Ogura. Andai saja motornya tak mengalami masalah, mungkin podium akan diborong oleh motor Aprilia. Walau mencatatkan hasil buruk, Marc Marquez tetap belum kehilangan gelar King Of COTA. Tertinggal di posisi 11, Marc tak kehilangan asa. Perlahan-lahan pembalap di depannya dilewati hingga Marc Marquez menyajikan tontonan menarik ketika memperebutkan posisi kelima dengan Enea Bastianini dan Francesco Bagnaia.

Balapan di Amerika Serikat meninggalkan tanda tanya bukan hanya untuk Marc Marquez melainkan juga untuk Ducati. Motor Ducati nampaknya semakin membingungkan, sementara Aprilia semakin menunjukkan titik terang karena makin kelihatan punya potensi besar untuk mengudeta Ducati secara meyakinkan.

note : sumber gambar – JAWAPOS