KESAH.ID – Kekerasan tidak selalu datang dari ruang gelap yang tak terjamah; sering kali ia hadir dalam wujud larutan asam yang sanggup melarutkan daging sekaligus membungkam nalar. Dari skandal donasi yang riuh di media sosial hingga operasi intelijen yang menyasar aktivis kritis, penggunaan air keras telah bergeser dari sekadar instrumen kriminal menjadi alat teror politik yang sistematis.
Air keras merupakan sebutan umum untuk larutan asam kuat pekat yang bersifat sangat korosif. Ia mampu merusak jaringan tubuh, menyebabkan luka bakar serius, kebutaan, hingga kematian. Bahan ini umumnya digunakan untuk keperluan industri, seperti aki, pemrosesan logam, hingga pembersih toilet.
Karena sifatnya yang menghancurkan jaringan tubuh hingga ke dalam, cairan ini sering kali disalahgunakan sebagai instrumen kekerasan. Salah satu kasus yang paling menguras perhatian publik adalah penyiraman terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan, yang mengakibatkan cacat permanen. Pelakunya adalah dua anggota polisi aktif yang kemudian divonis hukuman ringan. Motif yang terungkap adalah kebencian personal karena Novel dianggap tidak menghargai “jiwa korsa”. Kasus ini membekas di ingatan nasional karena proses pengungkapannya yang sangat lama.
Air keras juga kerap muncul dalam kekerasan domestik. Seorang perempuan muda di Cianjur tewas setelah disiram air keras oleh suaminya yang merupakan warga negara asing. Belakangan, publik kembali riuh oleh kasus Agus, seorang kepala pelayan yang disiram air keras oleh bawahannya karena sakit hati. Kasus Agus menjadi drama berkepanjangan bukan karena kekerasannya, melainkan karena carut-marut donasi yang melibatkan influencer dan podcaster ternama. Drama ini berakhir lebih menyakitkan daripada air keras itu sendiri: Agus dikabarkan hidup sebatang kara dan ditinggalkan istrinya di tengah keterbatasan fisik.
Belum usai hiruk-pikuk kasus Agus, modus serupa kembali mengguncang. Kali ini sasarannya adalah Andrie Yunus, aktivis yang juga Wakil Koordinator KontraS. Insiden tersebut terjadi di kawasan Jalan Salemba I, Jakarta, pada Kamis (12/3/2026). Andrie diserang sesaat setelah merekam siniar mengenai isu militerisme dan hukum di kantor YLBHI.
Berdasarkan rekaman CCTV, pelakunya lebih dari satu orang dan menggunakan sepeda motor. Tangkapan layar yang beredar menunjukkan raut wajah pelaku dengan sangat jelas. Publik mendesak kepolisian bergerak cepat, apalagi perawakan terduga pelaku menunjukkan latar belakang yang identik dengan aparat keamanan atau pertahanan.
BACA JUGA : Sisi Gelap
Pada 18 Maret 2026, Komandan Pusat Polisi Militer menggelar konferensi pers dan mengumumkan penyelidikan terhadap empat anggota militer yang kini ditahan. Keempatnya merupakan anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Polda Metro Jaya juga tengah mendalami peran dua tersangka lainnya melalui uji TKP.
Apa alasan mereka menyerang Andrie Yunus? Jika alasan “sakit hati” kembali dipakai, tentu tidak masuk akal karena mereka tidak saling kenal. Maka jelas, ini bukan tindakan pribadi. Aksi keempat anggota BAIS tersebut adalah operasi intelijen, meski tujuan pastinya akan selalu sulit ditembus.
Namun, aksi ini terbilang ceroboh. Sebagai anggota badan intelijen strategis, tindakan jalanan mereka justru terlihat seperti kelompok preman dengan skenario “salah sasaran”. Skenario ini cacat karena mereka melupakan satu hal: CCTV yang kini bertebaran di mana-mana. Begitu potongan video tersebut tersebar, publik langsung mengenali profil pelakunya.
Pertanyaannya, apakah mereka bergerak atas inisiatif sendiri atau menerjemahkan perintah dari pucuk pimpinan? Karena pelaku adalah militer aktif, persidangan akan digelar di mahkamah militer, yang sering kali sulit untuk membongkar motif besar di balik niat mencelakai aktivis kritis.
Menteri HAM Natalius Pigai mengecam keras penyerangan ini, namun ia lebih mendorong pengusutan dalam koridor pidana biasa atau premanisme. Pigai tampak enggan menyebut kasus ini sebagai pelanggaran HAM, apalagi mengusutnya sesuai tupoksi kementeriannya. Padahal, profil korban dan momentum kejadian sangat erat kaitannya dengan upaya pembungkaman kebebasan berbicara, terutama kritik terhadap mengentalnya militerisme usai pelantikan Prabowo sebagai presiden.
Presiden Prabowo sendiri mengutuk serangan tersebut, namun di saat yang sama ia menyatakan niat untuk menertibkan para pengkritik. Sementara itu, Wakil Presiden melalui staf ahlinya justru hanya mendesak pembatasan peredaran air keras di masyarakat.
BACA JUGA : Serba Besar
Presiden Prabowo Subianto dalam sebuah kesempatan memperingatkan jajarannya agar tidak memberikan laporan manipulatif yang hanya bertujuan menyenangkan atasan—atau yang di era Soeharto dikenal sebagai ABS (Asal Bapak Senang). Peringatan ini seolah menjadi sinyal adanya “pembusukan” dari dalam, di mana jajaran pemerintahan lebih sibuk memoles data agar terlihat sukses di mata Presiden daripada menyelesaikan masalah rakyat.
Hal ini terlihat dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), di mana Presiden seringkali harus turun tangan sendiri memberikan penjelasan karena Badan Gizi Nasional kerap mengeluarkan pernyataan aneh dengan data yang sulit dipercaya.
Maka, patut ditengarai bahwa teror terhadap Andrie Yunus adalah bagian dari inisiatif bawah demi mendapatkan apresiasi karena dianggap sukses membungkam suara kritis. Narasi ini dibangun sejalan dengan beredarnya tuduhan di jagat maya mengenai dana asing pada kelompok sipil yang dituding membiayai aksi “tidak patriotik”.
Analisis tersebut jelas bertujuan membangun persepsi negatif terhadap masyarakat sipil yang kritis. Kekritisan mereka dianggap membawa agenda asing, seolah-olah dana asing adalah barang haram, padahal pemerintah dan sektor swasta pun rutin menerimanya. Inti masalahnya bukanlah pada sumber dana, melainkan paranoia terhadap opini publik yang berbeda. Berpikir beda dan mengkritisi kebijakan strategis dianggap tidak patriotik.
Dan kita tahu, dalam narasi ini, mereka yang merasa “paling patriotik” merasa berhak menjadi hakim. Karena mereka lahir dari rahim kekerasan, maka kekerasan pulalah yang dipilih—meski akhirnya terlihat kerdil karena dilakukan dengan cara preman jalanan.
Air keras mungkin bisa membakar kulit dan merusak penglihatan, namun ia tak pernah cukup kuat untuk melarutkan kebenaran. Ketika aparat yang seharusnya memegang teguh intelijen strategis justru menggunakan metode premanisme, kita sedang menyaksikan sebuah ironi: sebuah kekuasaan yang merasa begitu besar, namun sebenarnya sedang ketakutan pada sebuah suara di dalam siniar.
Pada akhirnya, luka di tubuh seorang aktivis hanyalah pengingat, bahwa saat argumen telah mati, hanya cairan asam dan teror yang tersisa di tangan mereka yang merasa paling mencintai negeri ini.
note : sumber gambar – ANTARA








