KESAH.ID – Perang hari ini bukan lagi soal memperebutkan sejengkal tanah atau mengadu nyawa di parit perlindungan, melainkan sebuah etalase industri persenjataan yang dingin dan penuh kalkulasi. Di balik deru rudal yang menghujam Iran, ada strategi pemasaran “Combat-Proven” yang dijalankan Amerika Serikat dan Israel untuk memikat pasar militer global sekaligus mengukuhkan dominasi petrodollar. Agresi militer telah berubah menjadi iklan komersial yang mahal, di mana setiap ledakan di Timur Tengah memiliki efek domino yang mampu mengguncang keamanan energi hingga ke meja makan kita.
Begitu Amerika Serikat bersama Israel menyerang Iran, banyak yang bersorak. “Nah, benar kan, perang dunia ke-III akan terjadi,” begitu teriakan mereka yang sebelumnya telah memaparkan berbagai asumsi yang berakhir dengan kesimpulan bahwa akan segera terjadi perang dunia ke-III.
Dalam kampanye pemilu presiden, sebagai calon presiden, Prabowo juga mengemukakan asumsi yang sama. Dengan asumsi itu, Prabowo yang valid bicara soal keamanan dunia karena latar belakang militer dan kedudukannya sebagai menteri pertahanan, punya alasan untuk memaparkan program penguatan persenjataan dan penambahan personel pertahanan.
Serangan langsung oleh Amerika Serikat dan Israel ke Iran mengubah pola perang setelah era Perang Dingin. Amerika Serikat dan Israel tidak lagi menyerang proxy Iran, melainkan langsung menghujamkan peluru ke jantung pertahanan Iran—baik pertahanan politik maupun militer. Sebelum serangan terjadi, model serangan seperti ini diasumsikan akan memancing keterlibatan sekutu Iran secara langsung, yakni Tiongkok dan Rusia. Serangan seperti ini biasanya juga akan membuat sekutu Amerika Serikat lainnya di Eropa turut serta.
Tapi nyatanya tidak terjadi. Eropa enggan terlibat dalam aksi Amerika Serikat, baik aksi damai lewat Board of Peace (BOP) maupun aksi langsung serangan udara ke Iran. Pun demikian dengan Tiongkok dan Rusia; tak ada pernyataan langsung akan ikut cawe-cawe membantu Iran. Bisa jadi Tiongkok dan Rusia membantu namun tidak kelihatan, karena mereka tak ingin terjebak dalam lingkaran konflik.
Memori kita tentang perang berasal dari kisah Perang Dunia I dan II. Dalam bayangan kita, itulah yang disebut dengan perang. Untuk masyarakat Indonesia, memori perangnya sebagian berasal dari pelajaran sejarah perjuangan nasional. Dalam kepala warga Indonesia, perang paling populer adalah perang gerilya. Hanya saja, perang yang terjadi saat ini tidak seperti itu lagi. Perang bukan lagi mengirimkan bala tentara untuk menduduki atau merebut wilayah yang hendak ditaklukkan. Perang tak lagi berhadap-hadapan antara bala tentara yang berlawanan.
Dulu korban terbesar dari perang adalah tentara, pasukan perang terutama yang berada di garda depan. Kini korban utama perang justru masyarakat sipil, infrastruktur, dan ekonomi—baik lokal, regional, maupun global. Perang menjadi menakutkan bukan karena negeri yang berperang porak-poranda, melainkan efeknya. Di Indonesia, perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran menakutkan karena keamanan energi bisa terancam, meski tak satu pun serpihan peluru kendali jatuh di sini. Pasokan energi fosil akan terganggu dan harga kebutuhan pokok bisa naik tajam. Tak ikut cawe-cawe, entah pro Amerika Serikat, Israel, maupun Iran, Indonesia tetap mendapat getahnya.
Pada dasarnya, setelah Perang Dunia II, tak ada lagi negara yang mau berperang kecuali pemimpinnya orang gila. Perang tak pernah menguntungkan. Industri perang tetap berkembang dengan tujuan menjaga pertahanan dan keamanan dengan fasilitas terbaik sehingga negeri lain berpikir dua kali untuk menyerang. Maka negara-negara berlomba mengembangkan senjata pembunuh massal: nuklir.
Dan setelah penemuan senjata nuklir, sampai sekarang belum pernah dipakai lagi untuk berperang. Bagaimanapun juga, meluncurkan senjata pemusnah massal ke negara tetangga sama artinya dengan menghancurkan dunia. Nuklir hanya dipakai untuk menggertak atau sebagai alasan sebuah negara mencampuri urusan negara lainnya. Amerika Serikat adalah negara paling cerewet ikut campur urusan nuklir negeri lain, dan salah satu yang paling dicampuri adalah Iran.
BACA JUGA : Padi IKN
Marwah perang setelah Perang Dunia II memang dijaga oleh Amerika Serikat dan Israel. Duo ini dikenal sebagai produsen teknologi perang dan senjata. Bagi mereka, perang adalah iklan agar produk senjata dan sistem pertahanannya laku di pasaran. Itulah kenapa Amerika Serikat dan Israel menjadi negara paling agresif dalam menyerang negara lain. Anehnya, serangan tersebut bukan dimaksudkan untuk merebut wilayah. Maka banyak yang bingung kenapa Amerika Serikat menyerang Irak, Libya, dan lainnya, lalu bersama Israel mencari-cari kesalahan Iran agar bisa diserang.
Realitas ini ditandai oleh para pengamat sebagai “Combat-Proven” atau teruji di medan tempur. Dengan menyerang negara lain, Amerika Serikat dan Israel menunjukkan bahwa persenjataan mereka efektif. Konflik bersenjata sengaja diciptakan agar ada “etalase” bagi industri pertahanan mereka. Mengapa harus menyerang? Senjata dikembangkan dalam laboratorium, namun data laboratorium tidak pernah menggantikan data dari medan tempur yang dinamis.
Sistem pertahanan yang dikembangkan Israel, yakni Iron Dome dan Arrow 3, terbukti berhasil mencegat ribuan roket dan rudal balistik dalam konflik nyata. Keandalan ini membuat negara lain di Eropa maupun Timur Tengah berani mengeluarkan miliaran dolar untuk membelinya. Amerika Serikat juga mendominasi lewat Drone Predator atau Reaper yang menjadi standar global sistem nirawak. Agresi militer ini juga bertujuan melihat kelemahan sistem mereka saat menghadapi senjata lawan yang terus berkembang. Serangan terhadap Iran memungkinkan pengembang di AS dan Israel memperbarui perangkat lunak atau AI pada sistem pertahanan secara real-time.
Efek domino inilah yang ditunggu. Melihat gencar serangan AS-Israel serta kegigihan Iran menyerang balik, banyak negara menjadi khawatir. Negara tetangga yang merasa terancam akan segera meningkatkan anggaran militer dan memperkuat sistem pertahanan. Dan kepada siapa mereka akan membeli? Tentu kepada Amerika Serikat atau Israel yang produknya paling siap. Pada akhirnya, perang adalah senjata diplomasi; pembelian sistem persenjataan canggih akan membuat negara pembeli terikat klausul jangka panjang dengan AS dan Israel.
BACA JUGA : Gigih Berani
Silakan membincangkan perang ini, teruskan berdebat dengan keras, atau menunggangi gelombang untuk meningkatkan engagement dan personal branding. Tapi itu semua tak akan membuat perang berakhir. Rata-rata perdebatan di media sosial hanyalah soal kalah-menang atau pro-kontra. Amerika Serikat dan Israel tak peduli itu; mereka tak berpikir soal menang, melainkan soal untung secara geopolitik dan ekonomi.
Perang sekarang bukan soal menaklukkan wilayah. Makanya mereka tak mengirim pasukan darat ke Iran. Selain buang-buang duit, mengirim pasukan darat berisiko dipermalukan jika dipukul mundur, serta membuat pemimpin tidak populer jika banyak tentara pulang dalam peti jenazah. Cara menjajah lewat pendudukan sudah ketinggalan zaman. Cara termutakhir adalah “nir-kehadiran” tentara; penjajahan dilakukan dengan membuat negara lain tunduk pada perjanjian yang menguntungkan “penjajahnya”.
Itulah yang dilakukan Trump dan Netanyahu: berusaha membuat Iran tunduk. Meski Iran gigih melawan, bukan berarti AS-Israel gagal, karena ada efek domino geopolitik. Banyak negara lain yang tidak diserang justru “tunduk”. Eropa yang mulai enggan men-suport serangan ke Iran tetap tak bisa lepas dari ketergantungan gas Amerika Serikat. Perang Rusia-Ukraina membuat pasokan gas Rusia ke Eropa terhenti, sehingga mereka terpaksa membeli dari AS meski lebih mahal.
Pun ketika Selat Hormuz ditutup oleh Iran akibat serangan ini, negara-negara Asia terancam krisis migas. Ruang ini membuka peluang bagi Amerika Serikat untuk menjual energinya ke Asia. Lewat slogan Make America Great Again, Trump nampaknya berhasil mengembalikan kejayaan Amerika lewat Petrodollar-nya. Cara yang dipakai Trump mungkin primitif, yakni kekerasan pada negara lain. Barangkali resep Trump memang sederhana; kalau cara “bodo-bodo” saja berhasil, mengapa harus cari cara cerdas? Mungkin Trump belajar dari Gus Dur: “Gitu aja kok repot.”
note : sumber gambar – VIVA








