Dalam situasi sekarang semua orang pantas untuk mengeluh dan wajar bila khawatir. Bahwa kemudian ada yang merasa ‘paling’ itu juga biasa tak perlu bikin diri kita jadi baper sehingga kemudian saling mencela.

Seperti masyarakat medis yang mengeluh karena melihat masyarakat lain cuek. Dan kecuekan masyarakat lain itu akan terus membuat masyarakat medis jungkir balik merawat mereka yang terinfeksi covid 19.

Dengarkan saja keluhan itu, kalau tak bisa atau tak mau mengikuti himbauan janganlah kemudian membully mereka yang mengeluh atau khawatir. Mengatakan bahwa itu memang tugas mereka, mengatakan bahwa mereka sudah dibayar dan seterusnya.

Ramai percakapan yang kemudian memunculkan tagar #terserah atau bahkan #indonesiamenyerah adalah cermin dari watak masyarakat kita yang merupakan masyarakat bicara, talk community.

Dalam masyarakat seperti ini sebuah isu cenderung hanya ramai dibicarakan bukan dicarikan jalan keluar. Semua orang sibuk omong-omong ketimbang mencari cara bagaimana bisa melindungi diri dan keluarga serta orang dilingkungannya.

Untuk masyarakat seperti ini berada #dirumahsaja adalah siksaan. Karena dengan berada di rumah maka mereka tak bisa omong-omong dengan orang lainnya, selain orang-orang rumah.

Berada di rumah, gelisah karena tak bisa omong-omong dengan teman-temannya maka tak ada jalan lain selain menumpahkan lewat media sosial. Dan yang tergampang adalah menanggapi omongan orang. Sebagian besar memang kerap hanya mengatakan mantap, keren, up dan seterusnya. Tanggapan yang bukan sebuah tanggapan. Tapi tak sedikit yang kemudian menyerang dan menganggap orang lain yang merasa ‘paling’ sebagai tak semestinya bertindak begitu.

Masyarakat omong-omong memang biasanya tak mempunyai pendirian yang teguh. Gampang goyah jika melihat banyak orang lain melakukan hal-hal yang berlawanan dengan apa yang dilakukan oleh dirinya. Orang yang teguh #dirumahsaja kemudian mengeluh ketika orang lain sibuk dan cuek berjalan-jalan. Orang yang rajin ibadah terganggu kalau melihat orang lain tak beribadah. Padahal mestinya ya sudah biarkan saja toh mereka yang jalan-jalan akan menanggung resikonya sendiri, atau yang tak beribadah toh dosanya juga akan ditanggung sendiri.

Bukankah kita wajib mengingatkan orang lain?. Betul, dalam konteks bermasyarakat memang kita wajib mengingatkan. Tapi kan tidak harus dengan marah-marah, atau sirik jika peringatan kita diabaikan.

Hal lain yang membuat masyarakat kita tidak tahan #dirumahsaja adalah selain kita merupakan masyarakat omong-omong, masyarakat isu, kita juga masyarakat berkerumun.

Dalam masyarakat yang merasa bahwa nilai gotong royong adalah salah satu nilai utamanya, berkerumun adalah salah satu perwujudan dari keutamaan itu. Gotong royong artinya berada bersama, saling dukung dan bekerja bersama-sama.

Maka jika ada kejadian apapun, semua itu akan memancing kerumunan. Namun kerumunan kemudian terlihat seperti gerombolan penonton karena tidak semua yang berkerumun tahu apa yang bisa dilakukannya.

Karena kebiaaan berkerumun ini maka dengan cepat kecelakaan, kebakaran, bunuh diri, pencurian dan sebagainya dengan cepat tersebar beritanya. Semua ikut mengabarkan karena begitu kejadian akan ada banyak orang yang ikut dalam kerumunan dan tidak melakukan apa-apa selain merekam dengan kamera smartphonenya.

Dan begtu rekaman itu diunggah di media sosial maka keriuhan akan bertambah, selain di tempat kejadian juga di media sosial dimana pesan atau rekaman itu diunggah.

Media sosial memang merupakan tempat yang pas untuk menunjukkan eksistensi masyarakat omong-omong dan masyarakat kerumunan. Sebuah kolaborasi yang kemudian membuat banyak orang frustasi dan habis akal sehingga memutuskan untuk berkata #terserah namun semoga ini bukan merupakan tanda bahwa kita telah menyerah.

kredit foto : camatmandau.kabupatenbengkalis.go.id