KESAH.ID – Dari mitos kolong kasur hingga algoritma digital, tuyul adalah cermin kecemburuan sosial sekaligus penjaga harmoni keluarga yang kini tengah dipaksa beradaptasi. Di tengah gempuran transaksi nirsentuh, narasi bocah gundul ini berada di ambang kepunahan atau justru bersiap bertransformasi menjadi aktor intelektual dalam kejahatan siber masa kini.
Dulu, di masa saya kanak-kanak, area bermain dan berpikir saya erat dengan yang masih pekat dengan aroma tanah dan mistisme. Kalau dipikir-pikir terkadang kami dididik untuk menjadi hakim-hakim kecil yang brutal. Lingkungan kami bukan sekadar tempat bermain, melainkan sebuah ruang pengadilan tak resmi di mana tuduhan-tuduhan serampangan bisa dilempar semudah melempar kelereng. Salah satu sasaran empuknya adalah mereka yang dianggap melakukan jalan pintas ekonomi: pesugihan. Di kampung saya, “pelihara tuyul” adalah jenis dakwaan yang paling laku, melampaui cerita-cerita tentang perjanjian darah di lokasi keramat atau laku tirakat di lereng Gunung Kawi.
Tuyul, dalam benak kami waktu itu, bukan sekadar hantu; ia adalah tetangga yang tak terlihat. Ia berkelindan dengan keseharian. Kami terbiasa lari tunggang langgang jika harus melewati rumah tertentu yang dipersepsikan sebagai “markas” si gundul itu. Rumusnya sederhana: jika ada rumah yang ukurannya agak mencolok, penghuninya cenderung tertutup, dan—ini yang paling krusial—memiliki satu jendela yang tak pernah dibuka meski matahari sedang terik-teriknya, maka di sanalah “kamar tuyul” berada. Ruang gelap itu menjadi panggung bagi imajinasi liar kami tentang bocah gaib yang sedang menghitung tumpukan rupiah.
Pada masa itu, hidup berkecukupan di tengah lingkungan yang rata-rata berjuang untuk bisa makan hari ini dan tak khawatir akan makan apa besok. Maka jika seseorang jarang terlihat bergaul di pos ronda, namun dapur tetap mengepul dan rumah semakin megah, orang ini bakal jadi kandidat utama dituduh sebagai pemilik tuyul. Prasangka ini sering kali absurd. Seseorang yang sering mondar-mandir di keramaian atau pusat pasar tanpa membawa satu pun kantong belanjaan akan langsung dicap sedang melakukan “survei lapangan”. Ia dianggap sedang menunjuk sasaran bagi tuyulnya untuk beraksi malam nanti.
Bahkan, ciri fisik tak luput dari pengamatan pseudosains mistis kami. Orang yang berjalan membungkuk dianggap sedang menanggung beban berat: menggendong tuyul di punggungnya. Tentu saja, tuyul itu tak kasat mata, namun bagi mata kami yang sudah teracuni dongeng, bungkuknya tubuh seseorang adalah bukti otentik adanya “penumpang gelap”. Demikian pula mereka yang berwajah pucat dan bertubuh kurus. Bukan kekurangan gizi atau anemia yang kami pikirkan, melainkan konsekuensi dari tugas malam menjaga sang tuyul, atau bahkan tubuhnya yang sengaja “dihisap” oleh makhluk peliharaannya sendiri.
BACA JUGA : Tagih Janji
Meski semua orang mengaku percaya, tak banyak yang benar-benar berani bersaksi pernah melihat sosoknya. Jika pun ditanya, deskripsi setiap anak akan berbeda-beda, tergantung tingkat imajinasi masing-masing. Namun, keberagaman imajinasi ini akhirnya menemui titik seragam ketika televisi mengambil alih narasi. Pada 1 April 1997, Multivision Plus meluncurkan sinetron Tuyul dan Mbak Yul.
Karakter Ucil yang diperankan Oni Syahrial mendadak menjadi standar emas rupa tuyul se-Indonesia. Ucil adalah tuyul yang “insaf”, yang dikejar-kejar algojo raja tuyul karena enggan mencuri. Bersama Mbak Yul dan jin Kentung yang jenaka, narasi tuyul bergeser: dari yang semula mengerikan menjadi entitas pop yang lucu dan sedikit nakal. Dampaknya luar biasa. Televisi sukses melakukan globalisasi makhluk gaib. Tuyul yang semula merupakan “produk lokal” Jawa, tiba-tiba melintasi batas geografis.
Anak-anak di Papua mulai takut pada tuyul, padahal dalam khazanah hantu lokal mereka, makhluk ini tak pernah ada. Di Sulawesi Utara, tuyul bahkan masuk ke dalam dialek harian melalui seloroh “Tuyul kepala itang.”
Film dan media digital memang telah menyeragamkan ketakutan kita. Kita tidak lagi takut pada apa yang ada di bawah pohon beringin desa kita, melainkan pada apa yang kita lihat di layar ponsel.
BACA JUGA : Jalan Tikus
Jauh sebelum sinetron itu meledak, antropolog Amerika Clifford Geertz sudah mencium bau sosiologis di balik fenomena ini. Saat meneliti di Mojokuto pada era 1950-an, Geertz tidak peduli apakah tuyul itu benar-benar ada secara biologis. Yang ia pelajari adalah fungsinya dalam masyarakat. Geertz mencatat bahwa tuyul berbeda dari Memedi atau Lelembut yang murni menakutkan. Tuyul dianggap “menyenangkan” bagi pemiliknya karena mendatangkan kekayaan, namun sekaligus menjadi simbol ketegangan sosial bagi warga sekitarnya.
Di kalangan masyarakat abangan yang masih kental dengan napas animisme, tuyul adalah penjelasan paling rasional atas sebuah ketimpangan ekonomi yang irasional. Namun, ada sisi lain yang lebih menyentuh: fungsi penjaga harmoni. Dalam tradisi Jawa yang menghindari konflik langsung, menuduh tuyul adalah cara menyelamatkan muka keluarga (ngemong rasa).
Dahulu, uang sering disimpan secara sembarangan di bawah bantal atau tumpukan baju. Ketika uang itu hilang, dan si pemilik curiga bahwa pelakunya mungkin adalah anak, suami, atau kerabatnya sendiri, menunjuk “tuyul” sebagai pencuri adalah pilihan yang jauh lebih bijak daripada menuduh darah daging sendiri. Tuyul menjadi kambing hitam yang berjasa menjaga perdamaian rumah tangga; sebuah pilihan yang lebih baik daripada membuat wirang (malu) anggota keluarga hanya karena satu dua lembar uang yang raib.
Kini, kita berada di zaman di mana DNA animisme kita harus berbenturan dengan algoritma. Di media sosial, konten “tuyul tertangkap CCTV” masih mampu memanen ribuan engagement. Kita mungkin masih punya sisa-sisa kepercayaan lama itu, namun kadar “iman” kita terhadap tuyul sebenarnya tidak pernah benar-benar tebal.
Kepercayaan pada tuyul memiliki batas harga. Kita mungkin bisa menerima alasan “diambil tuyul” jika kehilangan uang sepuluh ribu rupiah. Namun, coba bayangkan jika seorang nasabah bank kehilangan saldo satu miliar rupiah, dan Customer Service menjawab, “Maaf Pak, saldo Bapak diambil tuyul.” Kepercayaan itu akan langsung runtuh. Manajer minimarket mana pun tidak akan memaklumi kekurangan kas di meja kasir dengan alasan supranatural.
Tuyul kini sedang menghadapi krisis relevansi. Ketika uang bertransformasi menjadi angka-angka digital, kemampuan fisik tuyul untuk mengutil lembaran kertas menjadi tidak berguna. Menguras dompet digital atau akun bank butuh keterampilan koding, phishing, hingga social engineering—hal-hal yang tidak diajarkan di bawah pohon randu atau di lokasi keramat.
Maka, jika tuyul ingin tetap eksis di abad ini, ceritanya harus dikarang ulang. Barangkali kita butuh narasi baru tentang sebuah “Sekolah Tinggi Tuyul Digital”, di mana kurikulum utamanya adalah peretasan dan hacking. Dan bagi Anda yang gemar bercerita, silakan klaim diri Anda sebagai kepala sekolahnya. Itu jauh lebih masuk akal bagi generasi sekarang daripada sekadar berjalan membungkuk di tengah pasar.
note : sumber gambar – GEMINI








