KESAH.IDSebuah perempatan jalan tidak hanya berubah secara fisik, tapi juga menyimpan lapisan memori tentang bagaimana cara kita berinteraksi. Dari kenangan tentang paraban di masa kecil hingga hiruk-pikuk politik di panggung komedi hari ini, terlihat jelas ada batas tipis antara keakraban, tawa, dan luka yang sering kali tak kita sadari.

Malam-malam, perempatan itu tak lagi sesunyi dulu. Lampu lalu lintas berkedip bergantian dengan pendar lampu jalan yang terang. Pohon asam tinggi yang dulu gagah di pojokan—tempat warung wedangan dan tukang cukur mangkal—kini telah sirna. Ruang memori saya dipaksa berdamai dengan kenyataan baru: kompleks perumahan modern dengan deretan ruko yang rapi.

Benar-benar berbeda. Dahulu, di sisi jalan ini, riuh rendah jual-beli terjadi di pagi hari. Ada bau minyak kelapa yang khas, tumpukan butir kelapa, hingga ayam-ayam yang berkotek di dalam keranjang. Kini, keramaian itu berpindah ke malam hari. Dan di tengah hiruk-pikuk itulah, saya melihat sesosok pria yang wajahnya seolah ditarik paksa dari masa lalu saya.

Ciri fisiknya masih sama. Sebuah ciri yang dulu saya dan teman-teman jadikan paraban—julukan akrab.

“Mas Kenuk, ya?” sapa saya ragu.

Ia tersentak, menatap saya dengan dahi berkerut. “Sinten nggih? (Siapa, ya?)” tanyanya.

Kami pun larut dalam percakapan, mengaduk-aduk kembali ingatan masa kecil yang sebagian besar warnanya sudah memudar.

Pria yang saya sapa Mas Kenuk itu, dulu kami panggil Kenuk Kiyer. Ia teman sekelas sekaligus teman bermain saya sejak SD. Nama aslinya Nur Lukito. Saya tidak pernah tahu dari mana asal-usul “Kenuk”, namun tambahan “Kiyer” melekat erat karena matanya yang selalu kriyip-kriyip (berkedip halus), persis seperti orang yang silau terpapar cahaya. Karena kondisi itu, ia selalu memiringkan kepala setiap kali ingin fokus membaca sesuatu.

Bagi kami yang tumbuh dalam budaya Jawa, paraban adalah hal lumrah. Ia adalah atribut tambahan di belakang nama asli, lahir dari pengamatan tajam terhadap sifat, perilaku, hingga ciri fisik. Fungsinya beragam: penanda keakraban, pembeda identitas, hingga bumbu humor dalam pergaulan. Biasanya, julukan ini akan luruh dengan sendirinya seiring kedewasaan.

Kenuk tidak sendirian dalam daftar memori saya. Ada Heri “Ceko”, yang dipanggil demikian karena tangannya agak bengkok—mungkin akibat patah tulang yang tak tertangani sempurna. Ada pula Tri “Tengklang”, yang jalannya pincang karena satu kakinya lebih kecil.

Ciri fisik memang menjadi ladang subur bagi lahirnya julukan yang bernuansa poyokan atau ejekan. Maka, munculah nama-nama seperti Adi Sumbing, Agus Condet, hingga Slamet Bungkuk. Jika tidak fisik, maka volume tubuh: yang gemuk dipanggil Gendut, yang kurus kering dipanggil Biting.

Pemberian label ini terkadang menjadi kebutuhan praktis. Di Jawa, nama “Slamet” ada di setiap sudut desa. Jika Anda bertanya, “Di mana rumah Slamet?”, jawabannya pasti berupa pertanyaan balik: “Slamet yang mana?”.

Untuk orang dewasa, pekerjaan menjadi pembeda: Slamet Tempe, Slamet Dokar, hingga Slamet Nomer. Namun, julukan bisa berubah menjadi kejam jika dikaitkan dengan noda masa lalu. Seorang Slamet yang pernah ketahuan mencuri ayam, selamanya akan menyandang gelar “Slamet Pithik”.

Saya sendiri beruntung tidak mendapat julukan yang “ajaib” itu. Sejak kecil saya cukup dipanggil Yus. Banyak yang mengira itu kependekan dari Yusuf atau Yunus. Mereka biasanya terkejut saat tahu bahwa Yus adalah kependekan dari Yustinus, nama baptis saya. Kata mereka, wajah saya sama sekali tidak menampakkan ciri khas seorang Kristiani.

Melihat ke belakang, saya menyadari adanya pergeseran nilai yang tajam. Apa yang dahulu dianggap lazim sebagai bumbu keakraban, kini jika ditarik ke masa sekarang, akan dengan mudah dikategorikan sebagai perilaku tak pantas.

Julukan-julukan yang kami lontarkan dengan tawa di masa kecil, kini dalam kamus modern disebut sebagai bullying atau perundungan. Apa yang dulu kami kira sebagai tanda persahabatan, kini telah berganti label menjadi body shaming.

Dunia memang telah berubah. Dan mungkin, cara kita mengingat masa lalu adalah satu-satunya jembatan untuk memahami betapa tipisnya batas antara keakraban dan luka yang tak pernah kita sadari kehadirannya.

BACA JUGA : Tahun Konkre{a}t

Kini, kita hidup di era di mana istilah bullying, stigma, hingga body shaming telah menjadi kosa kata harian. Apa yang dulu kita anggap sebagai bentuk keakraban, dalam standar moral hari ini, bisa dengan mudah memicu tuduhan perundungan. Memanggil seseorang dengan poyokan bukan lagi sekadar bumbu pergaulan, melainkan tindakan yang dianggap menyakitkan, bahkan memiliki konsekuensi hukum.

Namun, meski kita sudah “disekolahkan” oleh nilai-nilai baru ini, praktik menertawakan orang lain tetap subur. Dalam ekosistem tertentu, ia masih dianggap wajar sebagai perekat tongkrongan. Tapi tetap saja, selalu ada garis tipis yang sering terlampaui: ada yang merasa tak nyaman, tersinggung, hingga memendam amarah.

Tak bisa dipungkiri, cara kita merespons keberadaan orang lain sering kali masih didikte oleh prasangka ketimbang empati. Walau kita sudah melahap teori humanisme dan Hak Asasi Manusia, naluri kita terkadang tidak jauh berbeda dengan nenek moyang primitif: kita menilai orang berdasarkan apa yang terlihat, terdengar, dan apa yang kita rasakan secara instan.

Fenomena ini nyata di depan mata. Dalam lingkaran ngopi saya, yang isinya adalah orang-orang terpelajar dan paham isu HAM, perilaku “membully” tetap saja terjadi. Korbannya adalah kawan kami, sebut saja R.

R adalah sosok yang kehadirannya seolah menjadi objek penderita yang sah. Jika di grup WhatsApp dia bertanya, “Info-info ngopi?”, sunyi akan segera menyergap. Jika pun ada yang menjawab, mereka akan menunjuk lokasi yang paling jauh dengan harapan R tak akan muncul. Lebih ironis lagi jika R memposting foto dirinya sedang ngopi di suatu tempat; alih-alih menjawab “Merapat” atau “Meluncur”, kawan-kawan lain hanya akan membalas datar: “Selamat menikmati.”

Bahkan di tempat tongkrongan, menyebut nama R saja sudah cukup untuk memicu tawa, meskipun R ada di sana, duduk bersama kami.

Puncaknya adalah saat muncul pertanyaan iseng: “Bagaimana kalau R terpilih jadi Wakil Walikota?”

Seketika, tawa pecah. Dalam benak masing-masing mungkin bergumam, “Amit-amit, nggak mungkin!”

Tapi benarkah itu mustahil? Dalam politik, segalanya mungkin. Andaikan AH, calon Walikota tunggal yang tak punya lawan itu, menggandeng R sebagai wakilnya, mereka dipastikan tetap akan menang. Jangankan menggandeng R, dipasangkan dengan sandal jepit pun AH akan tetap melenggang, sebab tak ada alasan bagi pemilih untuk memenangkan kotak kosong—terlebih jika mereka yang mengampanyekan kotak kosong itu pun “kosong” dalam segala hal.

Saya membayangkan, jika R benar-benar menjadi Wakil Walikota, tawa itu tetap tidak akan hilang. Setiap kali namanya disebut di berita, orang-orang akan tertawa bukan karena senang, melainkan karena menganggapnya sebagai sesuatu yang janggal. Itulah cara kerja otak kita saat menemui fakta yang berada di luar nalar.

R sendiri hanya bisa senyam-senyum. Mungkin ia dongkol, tapi dia sudah terlalu terbiasa menjadi bahan tertawaan. Sakitnya mungkin sudah mengerak, hingga tak lagi cukup dalam untuk menjadi dendam. Dalam hati ia mungkin menghibur diri: “Kelak kalau aku tak lagi di sini, kalian pasti rindu.” Sebuah keyakinan yang optimis, meski belum tentu benar.

BACA JUGA : ABS Lagi

Kisah R di meja kopi tadi membawa ingatan saya pada keriuhan yang dipicu oleh komika Panji Pragiwaksono. Dalam salah satu pertunjukan tunggalnya, Panji menyebut nama Wakil Presiden kita, dan seketika—seperti halnya tawa kawan-kawan saat nama R disebut—seluruh gedung meledak dalam tawa.

Namun, tawa itu berbuntut panjang. Bagi sebagian orang, gurauan itu dianggap melintasi batas kepantasan; sebuah penghinaan terhadap persona dan fisik. Panji, yang selama ini dicitrakan sebagai komika cerdas dengan humor “tepi jurang”, tiba-tiba dituding kasar, vulgar, dan dangkal. Dalam kacamata politik, ia bahkan dituduh sedang melancarkan kampanye negatif.

Menariknya, di tengah cercaan itu, ada perspektif yang berseberangan. Seorang pengajar ilmu politik justru memujinya. Baginya, apa yang dilontarkan Panji adalah sublimasi dari berlembar-lembar teori dalam buku demokrasi yang sedang sakit. Teori rumit tentang kemunduran demokrasi dirangkum secara telanjang oleh Panji dalam satu kalimat satir tentang sosok sang Wapres.

Ironisnya, mereka yang membela kehormatan sang Wapres dengan menghujat Panji, tanpa sadar terjebak dalam lubang yang sama. Panji kemudian di-bully, dicaci, dan dihina dengan cara yang tak kalah kasar. Mereka yang keberatan Panji mengejek fisik, justru melakukan serangan serupa kepada Panji.

Ada yang menyebut pertunjukan Panji tidak lucu, meski ditonton lebih dari 10.000 orang. Padahal, ia adalah salah satu pendiri komunitas komika di Indonesia dan juri langganan kompetisi stand-up comedy. Penampilannya kini dianggap bukan lagi komedi, melainkan sekadar monolog keresahan yang punchline-nya tidak “pecah”. Penonton mungkin hanya tersenyum kecut, tidak terpingkal-pingkal. Lucunya dianggap tidak “kebangetan”.

Namun, itulah spektrum humor. Ia sangat lebar; mulai dari yang cerdas, kritis, mendidik, absurd, hingga yang paling purba: konyol. Garis pembatas antara guyon, ejekan, dan hinaan menjadi sangat tipis, bergantung pada selera masing-masing.

Di sinilah kita bertemu kembali dengan konsep slapstick. Sebuah gaya komedi yang membangun kelucuan melalui aksi fisik berlebihan, bukan kecerdasan logika. Dalam tradisi slapstick, menertawakan kesialan, kebodohan, atau kekurangan fisik orang lain adalah “menu utama”.

Gaya ini bersifat universal dan purba. Tak peduli seberapa maju kebudayaan sebuah bangsa, rata-rata masyarakatnya masih akan tertawa saat mendengar suara yang sengau, cadel, atau bicara yang tergagap. Ciri-ciri fisik yang dianggap “tidak normal” masih saja menjadi pemantik tawa yang paling instan.

Dalam konteks Mas Kenuk dengan mata kiymer-nya atau R dengan segala kesialannya, kita sebenarnya sedang mempraktikkan “slapstick sosial” dalam kehidupan nyata.

Sulit untuk menghakimi apakah materi stand-up Panji benar atau salah secara absolut. Namun yang pasti, dalam algoritma media sosial saat ini, apa yang dilakukan Panji menjadi bahan bakar yang sempurna bagi tumbuh kembangnya “industri kebencian”.

Berbagai pihak dengan kepentingan tertentu segera menunggangi gelombang ini untuk meraup keuntungan politik maupun ekonomi. Tak sedikit pula para pemain di balik layar yang sengaja dibayar agar isu ini terus menjadi perbincangan hangat. Tujuannya sederhana namun mengerikan: sebagai tabir asap untuk menutupi persoalan-persoalan bangsa yang jauh lebih esensial dan genting bagi masa depan kita.

Pada akhirnya, dari perempatan jalan masa kecil hingga panggung komedi Jakarta, kita tetaplah manusia yang sama. Kita masih gemar menertawakan hal-hal yang tampak janggal, tanpa sadar bahwa tawa kita sering kali menjadi bagian dari mesin besar yang menggerakkan kebencian atau sekadar pengalihan isu yang terencana.

note : sumber gambar – GEMINI