KESAH.IDIroni pahit terjadi di Lung Anai: setelah beralih dari kopi ke cokelat, kebun warga terendam banjir berbulan-bulan akibat rekayasa aliran Sungai Gitan oleh perusahaan tambang di hulu, yang pada saat yang sama gencar memberi bantuan CSR untuk pengolahan cokelat di hilir, menyoroti kontradiksi antara praktik industri dan program tanggung jawab sosial.

Nama Sungai Gitan, wilayah kelola masyarakat Lung Anai, sudah lama melekat di benak saya—sejak awal tahun 2000-an. Dulu, saat aliran Sungai Jembayan masih ramai dilintasi perahu ketinting atau gubang, Lung Anai mempunyai  pemandangan khas kesibukan pagi. Warga pergi ke ladang dan sore harinya pulang membawa hasil bumi: pisang, sayur paku, kayu bakar, hingga ikan segar. Dermaga di samping rumah Mamak Yurni adalah pusat aktivitas itu.

Namun, zaman telah bergeser. Seiring perubahan infrastruktur dan kemudahan akses, orientasi warga Lung Anai beralih. Perahu tergantikan oleh kendaraan roda dua. Hari ini, deretan perahu di dermaga sudah menyusut drastis, menyisakan dua atau tiga perahu tua yang tampak renta.

Sungai Gitan, anak Sungai Jembayan, tak lagi sepenuhnya ramah bagi perahu. Upaya napak tilas menyusuri sungai dari Lung Anai sulit terwujud, sebab anak sungai itu tak terawat: longsoran dan batang pohon menghalangi laju perahu.

Setelah bermalam di Lung Anai dan menyaksikan warga berlatih menyumpit, keesokan paginya perjalanan ke Sungai Gitan dilanjutkan, bukan dengan perahu, melainkan dengan mobil Terios yang dikemudikan Martinus. Hujan yang turun menambah kecemasan karena sebagian besar rute adalah jalan tanah yang melewati kawasan perkebunan sawit PT Niaga Mas dan area HTI (Hutan Tanaman Industri) milik ITCI Hutani Manunggal (IHM).

Usai perjalanan menantang selama sekitar 1,5 jam, kami tiba di “terminal”—halaman depan pondok Markus, tempat parkir para peladang. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh lebih dari 2 kilometer, melewati jalan setapak yang berlumpur.

Sepanjang jalur, aneka buah mulai bergelantungan. Yurni, yang menemani kami berjalan kaki, berujar, “Bulan Januari atau Februari nanti kami pesta buah. Datang ke sini kalau mau ikut panen durian.” Perhatian saya justru tertuju pada pohon ihau (mata kucing) yang mulai berbuah muda, dan yang lebih menarik: sisa-sisa pohon kopi yang terbengkalai di pinggiran ladang.

Biji coklat/kakao yang telah difermentasi selama 6-7 hari siap dijemur

BACA JUGA : Bobibos Ndobos

Masyarakat Lung Anai dulunya dikenal sebagai penghasil kopi. Saya ingat dermaga Mamak Yurni sering dipakai untuk menjemur kopi, dan Yurni pernah bersaksi, “Kami bisa sekolah karena kopi.” Namun, era kopi telah berakhir, ladang-ladang pun beralih ke komoditas baru: cokelat (kakao).

Sejak tahun 2023, Lung Anai mulai dikenal berkat cokelatnya, didukung program CSR (Corporate Social Responsibility) dari perusahaan tambang batu bara. Bantuan ini mencakup bimbingan teknis dan peralatan pascapanen, hingga akhirnya berdirilah Rumah Cokelat Lung Anai. Rumah produksi ini menghasilkan bubuk cokelat dan cokelat bar premium (varian dark dan milk), bahkan baru-baru ini meluncurkan varian yang lebih terjangkau.

Ironisnya, aktivitas yang lebih menarik perhatian saya bukanlah produk jadi yang premium itu, melainkan kondisi kebun cokelatnya—yang beberapa bulan lalu sempat terendam banjir tinggi selama berhari-hari.

Sungai Gitan memang dikenal sering meluap, tetapi biasanya cepat surut. Namun kini, banjir terjadi selama berhari-hari dengan ketinggian yang mengkhawatirkan. Saat tiba di pondok Tian dan Yurni, Tian menunjukkan batas air terakhir yang melanda kawasan itu—melewati lantai pondok panggungmereka. Banjir ini menyebabkan pekebun kakao di Sungai Gitan gagal panen berbulan-bulan, karena buah cokelat yang terendam air menjadi menghitam dan membusuk.

Ternyata, aliran Sungai Gitan telah direkayasa oleh perusahaan tambang. Kabarnya, di bawah aliran sungai alami terdapat kandungan batu bara. Alur sungai pun dipindah, kurang lebih 300 meter dari pondok Tian dan Yurni. Pemindahan alur alami ke saluran buatan yang lebih sempit dan dangkal ini membuat aliran Sungai Gitan seperti terbendung.

Perusahaan, dengan segala perhitungan teknisnya, sering kali terlalu percaya diri bahwa alam bisa diatur. Mereka memandang sungai hanya sebagai sistem pengaliran, bukan sistem keairan yang terbentuk melalui proses hidrologi ratusan tahun untuk mencapai keseimbangan. Di Sungai Gitan, para perencana rekayasa ini luput memperhitungkan bahwa pemindahan alur sungai akan menaikkan permukaan air secara drastis saat terjadi hujan.

Inilah puncak ironi: sebuah perusahaan tambang di hilir gencar memberikan bantuan, promosi, dan pelatihan pengolahan kakao—bahkan layak mendapat penghargaan CSR—sementara di hulu, aktivitas pertambangan yang sama justru menenggelamkan bahan baku cokelat yang akan mereka bantu olah dan promosikan.

Bulan November ini, setelah berbulan-bulan gagal panen, Tian dan Yurni kembali memanen. Saya turut serta. Terlihat jelas masih banyak buah yang rusak sisa rendaman banjir.

Menjemur biji coklat/kakao di para-para yang diberi sungkup agar kalau tiba tiba hujan biji yang dijemur tak terkena air

BACA JUGA : Ada Menderita

Walau tantangan datang bertubi-tubi, Tian dan Yurni tampak serius ingin bertahan dengan tanaman cokelat. Mereka melakukan fermentasi sederhana: biji kakao diperam secara tertutup dalam keranjang plastik beralas daun pisang selama 6–7 hari hingga biji berbau harum dan terasa panas. Setelahnya, biji dijemur di para-para (tempat penjemuran yang tidak bersentuhan dengan tanah) dan diberi sungkup agar terlindungi dari hujan.

Sayangnya, tak banyak peladang yang mengikuti proses ini. Mayoritas lebih memilih langsung menjemur agar biji cepat dijual. Urusan peningkatan mutu lewat SOP ketat selalu menjadi tantangan bagi petani:

Mereka yang berniat menghasilkan produk terbaik terkadang gigit jari, karena diolah dengan benar maupun tidak, toh tetap dihargai sama oleh para tengkulak atau pedagang pengepul. Sistem grading tidak berlaku saat membeli, melainkan saat pedagang menjualnya.

Nasib petani memang selalu di ujung tanduk. Kisah mereka hanya diangkat ke permukaan melalui produk akhir yang mendapat bantuan CSR, sementara lika-liku pahit di lahan garapan, yang berhadapan langsung dengan dampak industri besar, jarang disorot apalagi diselami oleh mereka yang gemar memberi penghargaan.

Maka, mari kita angkat piala tinggi-tinggi untuk perusahaan tambang yang telah berbaik hati menenggelamkan kebun cokelat di hulu hanya untuk bisa membantu mengolah sisa-sisa cokelat yang selamat di hilir. Ini adalah skema bisnis dan pelestarian lingkungan paling brilian: Menciptakan masalah lingkungan agar tercipta peluang program tanggung jawab sosial, sekaligus memastikan stok batu bara tetap aman.

Tentu saja, kita harus memuji cokelat bar premium Lung Anai. Rasanya pasti sangat kaya, kental dengan aroma kesadaran lingkungan, sedikit pahit seperti janji-janji pembangunan berkelanjutan, dan manis sekali seperti tepukan di bahu para eksekutif yang berhasil meraih penghargaan green washing terbaik tahun-tahun belakangan ini.

Selamat menikmati secangkir kopi (dari biji kakao yang menghitam karena banjir!) dan sebatang cokelat Lung Anai. Rasakan ironi di setiap gigitannya!

note : sumber gambar – NONPROFIT JOURNALISM