KESAH.ID – Filsafat tentang “Ada” dimulai radikal dengan Parmenides yang menyatakan bahwa perubahan dan ketiadaan adalah ilusi logis. Di sisi lain, Descartes menetapkan eksistensi diri melalui ungkapan “Cogito ergo sum” (Saya berpikir, maka saya ada). Secara kontemporer, kesadaran diri dan kegelisahan eksistensial dianggap sebagai fenomena langka, terbatas pada Sapiens dan beberapa spesies lain yang mampu menarasikan keberadaannya, yang menurut Harari, diaktivasi setelah manusia menguasai api dan mengembangkan bahasa.
Parmenides dari Elea (Yunani Kuno) adalah filsuf yang pertama kali secara radikal dan sistematis menjadikan Hakikat Ada (Being) sebagai topik utama filsafat. Inti pemikirannya yang mendasar terbilang lugas: Ada adalah, dan Tidak Ada tidaklah Ada. Parmenides berpendapat bahwa hanya “Ada” yang bisa dipikirkan dan hanya “Ada” yang nyata, sebab memikirkan yang ‘Tidak Ada’ adalah sebuah kontradiksi dan kemustahilan logis.
Dari premis ini, Parmenides menarik konsekuensi yang mengguncang akal sehat. Kemustahilan Perubahan: Perubahan, yang berarti sesuatu bergerak dari Ada menjadi Tidak Ada (atau sebaliknya), adalah mustahil karena ‘Tidak Ada’ itu mutlak kosong. Oleh sebab itu, perubahan (seperti kelahiran, kematian, atau gerak) hanyalah ilusi indrawi belaka.
Kemustahilan Pluralitas (Banyak Hal): Jika ada dua hal, A dan B, maka harus ada kekosongan (Tidak Ada) yang memisahkan keduanya. Karena Tidak Ada itu mustahil, maka ‘Ada’ haruslah Tunggal, Tak Terbagi, Abadi, dan Padat—sebuah entitas homogen yang mengisi seluruh realitas.
Inilah mengapa Parmenides sering disebut sebagai Bapak Metafisika, karena ia memaksa pemikiran untuk melepaskan diri dari pengalaman indrawi dan berpegangan teguh pada logika murni demi memahami realitas. Meskipun kritik bahwa filsuf “membuat puyeng” itu benar, kerangka logis Parmenides inilah yang menyediakan fondasi bagi perdebatan tentang hakikat keberadaan yang terus berlanjut.
Pembahasan tentang hakikat keberadaan atau Being ini kemudian diteruskan dan dirombak oleh para filsuf besar lainnya. Plato dan Aristotelesm melanjutkan diskusi tentang Ada dengan pendekatan yang berbeda; Plato menggunakan konsep Forma atau Ide, sementara Aristoteles memakai kerangka Substansi dan Aksi-Potensi untuk menjelaskan perubahan tanpa melanggar premis Parmenides secara total.
Dalam filsafat modern, Rene Descartes menawarkan fondasi eksistensi yang sangat personal. Melalui metode keraguan radikal, ia meragukan segala sesuatu (indera, dunia luar, bahkan kemungkinan ditipu oleh roh jahat). Ia kemudian menemukan satu titik yang tidak dapat diragukan: tindakan meragukan itu sendiri. Dari sinilah lahir ungkapan terkenal: Cogito ergo sum (Saya berpikir, maka saya ada). Ini adalah titik awal yang kokoh untuk membangun kembali pengetahuan: eksistensi diri yang berpikir adalah bukti tak terbantahkan.
Dalam filsafat kontemporer, perdebatan “Ada” mencapai puncak di abad ke-20. Martin Heidegger, dalam Being and Time, secara eksplisit menjadikan pertanyaan tentang “Ada” (Sein) sebagai fokus utama, membedakannya dari “yang Ada” (Seiende, entitas). Sementara itu, kaum eksistensialis seperti Jean-Paul Sartre sangat fokus pada cara manusia mengada di dunia. Slogan Sartre yang terkenal, Existence precedes essence (Eksistensi mendahului esensi), menegaskan bahwa manusia pertama-tama ada, dan barulah kemudian mendefinisikan dirinya melalui pilihan dan tindakan.
BACA JUGA : Grebek Satpol
Transisi dari Ada yang filosofis ke “merasa ada” yang biologis menjadi menarik dalam diskursus kontemporer. Dalam sebuah dialog, Gita Wirjawan pernah mempertanyakan kepada Ryu Hasan tentang eksistensi, menanyakan apakah seekor kambing yang tiba-tiba memiliki teknologi canggih akan mengalami kegelisahan eksistensial ala filsuf.
Pertanyaan ini menyentuh isu kunci, S=siapa di dunia ini yang benar-benar merasa Ada? Merasa ada atau memiliki kesadaran diri (self-awareness) adalah prasyarat untuk dapat merasakan penderitaan eksistensial (seperti gelisah, sedih, atau merasa tak berarti).
Menurut Ryu Hasan, kesadaran diri yang mayoritas dimiliki individu hanya ditemukan pada sekitar lima spesies: Simpanse, Lumba-Lumba, Bonobo, Orang Utan, dan Sapiens. Sebuah indikator paling sederhana untuk kesadaran diri adalah tes cermin (kemampuan untuk mengenali bayangan sebagai diri sendiri, bukan entitas lain).
Implikasi Bagi Hewan Lain, berdasarkan kriteria ini, Ryu Hasan menyimpulkan bahwa mayoritas spesies (termasuk tumbuhan) tidak merasa ada. Oleh karena itu, tumbuhan tidak dapat merasakan kesedihan atau putus asa. Hewan yang tidak memiliki kesadaran diri (seperti sebagian besar babi) mungkin bisa merasakan sakit fisik (berteriak kesakitan), tetapi tidak dapat merasakan kesedihan atau ketidakbahagiaan eksistensial, karena keduanya didasari oleh kesadaran diri.
Mengacu pada pemikiran Yuval Noah Harari, ledakan kemampuan berbahasa dan peningkatan kognisi pada Homo Sapiens terjadi setelah spesies ini berhasil menguasai api. Api tidak hanya membuat makanan lebih mudah dicerna (menghemat energi), tetapi juga menciptakan waktu luang dan ruang komunal (api unggun), yang menjadi katalisator utama bagi perkembangan bahasa. Kemampuan menarasikan keberadaan melalui bahasa inilah yang membuat manusia menjadi spesies yang paling mampu merasa “ada” secara kompleks, jauh melampaui primata cerdas lainnya.
BACA JUGA : Bobibos Ndobos
Pemahaman ilmiah dan filosofis ini seharusnya memoderasi anggapan kita tentang kesadaran hewan. Cerita-cerita tentang babi yang resah menjelang Desember atau film yang mengidealkan kesadaran diri hewan seringkali adalah proyeksi emosi manusia (anthropomorphism).
Meskipun rasa cinta dan penghormatan kepada hewan adalah hal yang baik, meyakini bahwa kita dapat berkomunikasi secara verbal atau bahwa hewan peliharaan selalu berbagi kesedihan eksistensial yang sama seperti dengan sesama manusia adalah pertanda adanya misinterpretasi atas batas-batas kesadaran. Penghormatan sejati pada hewan sebaiknya didasarkan pada pemahaman ilmiah tentang hakikat eksistensi mereka, bukan sekadar imajinasi emosional.
note : sumber gambar – ALINEA








