KESAH.ID – Popularitas Tesla sebagai pelopor mobil listrik mulai goyah, produsen mobil dari Tiongkok mulai mengejar dengan ekosistem dan rantai pasok yang lebih mumpuni. Produk dari negeri komunis memang lebih mendemokratisasi pasar, produsen dari Tiongkok membidik pasar yang lebih luas, ketimbang Tesla yang ingin produknya menjadi produk premium, yang ditujukan untuk first mover yang kelebihan uang.
Elon Musk sering kali dibandingkan dengan karakter fiksi yang jenius, eksentrik, kaya raya, dan inovatif, seperti Tony Stark (Iron Man). Perbandingan ini muncul karena kekayaan, kejeniusan di bidang teknik, dan ambisi untuk menciptakan teknologi yang mengubah dunia.
Disamping itu Elon Musk dipandang mempunyai visibilitas layaknya tokoh fiksi karena proyek-proyek teknologi yang digagas oleh Musk, seperti kolonisasi Mars (SpaceX), mobil listrik mandiri (Tesla), antarmuka otak-komputer (Neuralink), dan sistem terowongan kecepatan tinggi (The Boring Company), seringkali terasa seperti ide yang diambil langsung dari fiksi ilmiah (science fiction).
Elon Musk sendiri mengakui secara terbuka bahwa dia terinspirasi oleh buku dan film fiksi ilmiah (seperti Foundation karya Isaac Asimov, Star Wars, dan Star Trek). Sehingga visi-visinya seringkali melampaui apa yang dianggap realistis saat ini, mirip dengan karakter visioner dalam cerita fcerita fiksi.
Dianggap sebagai wujud tokoh fiksi teknologi di dunia nyata, Musk memang telah mendorong inovasi dan disrupsi di berbagai industri teknologi yang dipimpinnya sehingga terasa sebagai sebuah lompatan masa depan.
Sisi lain yang membuat Elon Musk kemudian lebih terkenal dari tokoh-tokoh teknologi lainnya seperti Steve Jobs dan Bill Gates adalah gaya komunikasinya yang blak-blakkan, penuh kontroversi, dan terkadang dramatis. Personanya kemudian kerap melebihi kenyataan hingga membuat Elon Musk semakin mirip tokoh-tokoh fiksi.
Tesla, mobil listrik cerdas dan mandiri yang paling melambungkan nama Elon Musk. Kendaraan listrik ini dipasarkan dengan model pemasaran yang belum ada sebelumnya. Tesla bisa dibeli secara online, tidak ada distributor, tak ada bengkel dan lain-lain.
Sukses terbesar dari Tesla adalah menembus Tiongkok, giga factory Tesla ada di China.
Tesla mirip Iphone di China, menjadi dambaan.
Masalahnya lama kelamaan pemerintah Tiongkok agak was-was dengan Tesla, hingga kemudian geraknya dibatasi dengan alasan keamanan negara.
Dan perilaku Elon Musk juga makin random, Elon secara terbuka mendukung Donald Trump bahkan mungkin menjadi penasehatnya, sehingga setelah Donald Trump dilantik, Elon Musk sempat direkrut menjadi pejabat setingkat menteri dalam pemerintahan Trump.
Oleh Donald Trump, Musk diminta memimpin departemen baru di pemerintahan Presiden Donald Trump yang bernama Departemen Efisiensi Pemerintah (sering disebut sebagai DOGE).
Oleh Trump, Musk diberi mandat membongkar birokrasi pemerintah, memangkas kelebihan peraturan, dan memotong pengeluaran yang boros di berbagai Badan Federal. Ini sejalan dengan visi Musk untuk membuat proses pemerintah lebih efisien, mirip dengan cara ia mengelola perusahaannya.
Salah satu prestasi besarnya adalah membubarkan USAID, lembaga bantuan pembangunan dunia Amerika Serikat yang sangat terkenal itu.
Sekitar empat bulan menjabat, Elon Musk mengundurkan diri. Elon Musk berseteru dengan Donald Trump perihal rancangan UU Anggaran yang didorong Trump. Oleh Musk beberapa kebijakan Trump juga dinilai merugikan dunia usaha di Amerika Serikat. Dari teman yang mesra, di media sosial kemudian muncul saling serang antara Donald Trump dan Elon Musk.
Nama Tesla kemudian mulai tenggelam, Elon Musk bahkan secara terbuka menyatakan tidak lagi tertarik mengembangkan mobil listrik lebih lanjut. Para seleb di Indonesia juga tak lagi memamerkan Teslanya.
Setelah kurang diperbincangkan, di Indonesia nama Elon Musk kembali naik setelah Star Link, perusahaan provider internet satelitnya mulai memasarkan produknya. Star link naik daun karena Indonesia perangkatnya ringkas dan mobile sehingga cocok untuk Indonesia yang mempunyai banyak area blank spot.
BACA JUGA : Siapa Pahlawan?
Di Tiongkok muncul sosok Wang Chuanfu yang oleh media dijuluki China’s Musk. Padahal latar belakang dan persona berbalikan dengan Elon Musk.
Seperti kebanyakan tokoh teknologi dari China, Wang Chuanfu jarang muncul di publik, dan lebih tenggelam dalam pekerjaannya.
Wang adalah ahli kimia dan fokus pada pengembangan baterai isi ulang serta efisiensi industri.
Perbandingan dengan Elon Musk muncul karena Wang Chuanfu kemudian mengembangkan mobil listrik yang diberi merek BYD. BYD bukan singkatan dari kata-kata dalam bahasa China. BYD adalah singkatan dari Build Your Dreams.
Mobil listrik yang dilahirkan di tahun 2003 ini kemudian ditangan Wang Chuanfu kemudian berkembang pesat dan merajai dunia, mengalahkan Tesla.
Dengan strategi ala Henry Ford, Wang Chuanfu mendekatkan atau mendemokratisasikan mobil listrik lewat efisiensi dan harga yang lebih terjangkau. Berbeda dengan Tesla yang merupakan mobil premium, dan sebagian diproduksi dengan cara pre-order. Harga mobil Tesla menjadi subyektif.
Pertumbuhan BYD kemudian memancing Warren Buffet, pemimpin utama Berkshire Hathaway, lembaga investasi besar Amerika Serikat untuk memborong saham BYD.
Suntikan dananya membuat BYD berkembang luas dan melakukan ekspansi besar-besaran. DI Indonesia mobil listrik BYD mulai kelihatan di jalanan. Mulai dari kelas entry level sampai high end yang mahal.
Tiongkok memang menjadi surga produsen mobil listrik, ekosistem dan rantai pasok untuk mobil listrik di China memang yang terbaik.
Dalam hal teknologi, Tiongkok memang sudah menyaingi Amerika Serikat. Smarphone Tiongkok dikenal tangguh tapi murah. Ekosistem ini mendukung berkembangnya mobil listrik, karena menurut sebagian besar orang mobil listrik itu adalah smartphone yang diberi roda.
Kekuatan Tiongkok dalam industri mobil listrik bisa dilihat pada berbagai expo atau pameran mobil listrik, hampir semua booth diisi oleh produsen dari sana. Konon kabarnya di Tiongkok ada 150 produsen mobil listrik, jumlah yang sangat besar.
Fakta ini yang kemudian membuat Warren Buffet was-was, meski laporan BYD menunjukkan perkembangan penjualan, jaringan distribusi dan pusat layanan sehingga BYD menjadi yang terdepan, namun dari sisi investor yang dipandang perlu adalah keuntungan.
Dari sisi pemegang saham besar, masa depan BYD tidak cerah. Dengan menelisik laporan lebih dalam dan mengukur dengan KPI tertentu, Warren menemukan BYD sering memberi discount harga, menjual mobil lebih murah agar tetap laku. Warren menggangap BYD masih membakar uang dan untuk investor model bisnis ini jelas tak sehat.
Warren melepas semua sahamnya dan kemudian memindahkan investasinya ke Jepang, negeri yang konon para industrialisnya pelit dalam membagi laba.
Dan Warren memakai ilmu Tiongkok, tidak apa-apa diberi sedikit untung asal pasti dan masa depannya panjang.
BACA JUGA : SEO GEO
Ada gurauan yang menyebutkan bahwa Tuhan menciptakan langit dan bumi, dan sisa segalanya diciptakan oleh orang China.
Mungkin ada benarnya, tak ada yang tak dibuat oleh China.
Dulu Tiongkok lebih dikenal sebagai penghasil mainan yang kalaupun dilengkapi dengan teknologi adalah teknologi yang usur atau biasa-biasa saja.
Sebutan mocin, motor atau mobil China lebih bernuansa hinaan, pun juga dengan sebutan HP China.
Asal tahu saja, bulan Oktober ini penjualan BYD Atto 1 sudah mengalahkan Avanza. Mobil listrik menjadi produk terbanyak dijual bulan ini, dan itu produk BYD.
Tapi sepuluh terakhir Tiongkok melakukan lompatan, dari peniru dan penjiplak menjadi pencipta teknologi atau platform. Secara teknologi, Tiongkok sudah lepas dari bayang-bayang Amerika Serikat.
Tiongkok kini dikenal sebagai produsen terkemuka mobil listrik, smartphone dan laptop.
Mobil listriknya merajai dimana-mana, smartphonenya berani melawan Samsung dan Iphone, dan laptop atau notebooknya tak ada lagi saingan. Berderet merek laptop di pasar adalah buatan Tiongkok, saingannya hanya Macbook, buatan Amerika Serikat yang masih kuat karena identitasnya brand-nya.
Tiongkok bahkan bukan hanya melawan Amerika Serikat dengan teknologi, industri gaya hidup Tiongkok juga berkembang. Soal nongkrong-nongkrong, kedai kopi dari China sudah mengganggu Starbuck. Perkembangan Luckin Coffee tak terbendung, jumlah gerainya di tahun 2023 sudah mengalahkan Starbuck.
Industri alas kaki Tiongkok juga sudah memukul produsen ternama dari Amerika Serikat, jenama Tiongkok seperti Anta, Li-ning, PEAK, Senda, Belle dan RDF mulai sejajar dengan NB, Nike dan lain-lain.
Indonesia dimana?. Kita masih memuja produksi Amerika Serikat namun dibanjiri dengan produk-produk China. Sebagian besar konsumen Indonesia adalah kaum mendang-mending sehingga meski ingin punya produk Amerika namun umumnya akan membeli produk yang lebih murah harganya. Dan Tiongkok kini sudah mampu menyediakan produk yang tak kalah baik namun dengan harga yang lebih terjangkau.
Bisakah kita mengejar Amerika Serikat atau bahkan Tiongkok. Bisa saja, namun yang dikejar juga terus berlari.
note : sumber gambar – NETRALNEWS








