KESAH.ID – Komunitas Jurnalis Warga untuk Transisi Energi Berkeadilan Kalimantan Timur kembali mengadakan kegiatan mentoring yang diisi dengan perjalanan jurnalistik {journalist trip}. Salah satu yang dikunjungi dalam kegiatan perjalanan jurnalistik ini adalah SolarCell, Samarinda, sebuah perusahaan penyedia jasa untuk inovasi dan solusi listrik tenaga surya. Kunjungan ini dimaksudkan untuk melihat dinamika pengembangan dan pemanfaatan energi surya di Kalimantan Timur dari kacamata pengusaha yang telah mengeluti usaha energi terbarukan selama sepuluh tahun lebih.
Kalimantan Timur selama ini secara ekonomi masih sangat bergantung kepada sektor pertambangan batubara. Meski mampu menopang pendapatan daerah, namun Kalimantan Timur telah merasakan dampak ekologis yang nyata.
“Banjir,” ujar Emanuel Setiawan, Direktur PT Istana Surya Utama dan CV Istana Utama yang salah satu anak usahanya adalah layanan inovasi dan solusi listrik tenaga surya.
Menurut Emanuel, dampak lingkungan dari pertambangan batubara ini terjadi karena banyaknya aktivitas tambang yang kemudian tidak melakukan pemulihan lahan dan rehabilitasi lingkungan.
Pada sisi lain meski dikenal sebagai lumbung energi, ternyata banyak desa atau daerah di Kalimantan Timur yang belum menikmati energi listrik yang dihasilkan oleh batubara.
“Banyak desa atau kampung yang mengantungkan energi listriknya dari genset. Biaya bahan bakarnya tinggi sekali. Listrik tak tersedia 24 jam,” lanjut Emanuel.
Sebagai pengusaha Emanuel Setiawan jeli melihat peluang ini. Selain merupakan lumbung energi karena migas dan batubara, posisi geografis Kalimantan Timur yang dekat dengan garis khatulistiwa menyimpan sumber energi abadi yakni kelimpahan sinar dan terang dari matahari.
“Energi surya menjadi pilihan paling masuk akal untuk Kalimantan Timur guna menghasilkan energi yang bersih, ramah lingkungan dan membuat bumi tetap terjaga,” tegas Emanuel.
Menjadi salah satu pioner jasa pengembangan dan pemanfaatan energi surya, Emanuel Setiawan adalah salah satu saksi paling meyakinkan dari perkembangan dan pengembangan energi surya di Kalimantan Timur.
“Sekitar 12-an tahun saya jatuh bangun mengeluti usaha ini,” ujar Emanuel.
Dan selama itu pula Emanuel Setiawan melihat kecenderungan pembiayaan untuk pengembangan energi surya semakin murah.
“Biaya untuk pengembangan energi surya kini semakin murah dan teknologinya juga semakin berkembang,” lanjutnya.
Mengusung brand SolarCell, Emanuel Setiawan banyak bekerjasama dengan pemerintah, baik pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota.
Ada catatan menarik dalam kerjasama ini, dimana pemerintah pada saat ini cenderung tidak lagi melaksanakan program pengembangan listrik tenaga surya dengan model bantuan ke masing-masing rumah {housing}.
“Dulu di daerah-daerah terpencil dan tidak teraliri listrik PLN, pemerintah memberikan bantuan instalasi listrik surya, berupa panel dan baterei kepada masing-masing warga. Tapi sekarang telah dievaluasi dan tidak dilakukan lagi,” terang Emanuel.
Pasalnya beberapa saat setelah pemberian bantuan tersebut, panel, baterei dan lainnya bisa berpindah.
“Bantuan peralatan pembangkit listrik surya rumahan itu sering dipindah, dipasang di rumah walet, empang dan lain-lain. Bahkan ada yang dijual,” beber Emanuel.

BACA JUGA : Rokok Mogok
Emanuel Setiawan sendiri tak terlalu mendalami isu kebijakan transisi energi. Meski begitu kejeliannya sebagai pengusaha yang lebih mendorongnya untuk menekuni usaha yang berhubungan dengan listrik tenaga surya. Fakta bahwa sumber energi fosil adalah energi yang tak terbaharukan dan akan habis pada suatu saat, menjadi alasan utamanya untuk melihat prospek dan potensi pengembangan energi surya ke depannya.
Kebijakan soal transisi energi jelas menguntungkan untuknya. Terlebih di Kalimantan Timur dimana banyak wilayah belum teraliri oleh jaringan listrik PLN.
Wilayah-wilayah ini yang kini menjadi perhatian pemerintah dan institusi lainnya untuk memenuhi kebutuhan energi listrik bagi masyarakatnya, baik dalam konteks program trasisi energi maupun pemerataan akses kepada energi listrik.
“Saat ini salah satu fokus dari proyek-proyek pemerintah adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Komunal,” terang Emanuel.
PLTS Komunal merupakan model pembangkit listrik off grid atau tidak terhubung dengan jaringan listrik PLN. PLTS ini dikelola oleh masyarakat sendiri.
“Agar terjamin keberlanjutannya, Pemerintah kemudian lebih memilih membangun PLTS Komunal, yang kemudian dikelola oleh Bumdes atau kelompok masyarakat lainnya,” lanjut Emanuel.
Dia tak menampik berbagai informasi yang menyebutkan PLTS mangkrak, atau operasinya tak berkelanjutan.
Menurutnya salah satu penyebab PLTS mangkrak karena proyek itu dibangun oleh kontraktor dari luar daerah. Sehingga jika ada permasalahan, jarak kemudian akan menjadi masalah. Terutama jika kerusakan itu membutuhkan teknisi dari perusahaan.
“Ongkos pemeliharaan atau perbaikan jika membutuhkan teknisi dari luar daerah jelas mahal. Dan mungkin masyarakat tak mampu menanggung,” ujarnya.
Melihat faktor geografis dari wilayah pengembangan PLTS Komunal, usaha lokal mempunyai keuntungan tersendiri, terutama untuk masyarakat karena menjadi lebih mudah berkomunikasi dan mengatasai permasalahan teknis.
“Kami mempunyai sistem komunikasi tersendiri dengan pengelola PLTS. Dengan teknologi, untuk perbaikan atau pemeliharaan yang tidak berat bisa dilakukan dari jarak jauh, lewat video call,” terang Emanuel.
Terkait panel surya, Emanuel Setiawan memberi jaminan jangka panjang.
“Kami menggaransi panel surya selama 25 tahun, sedangkan untuk baterei dan inverter, jaminannya satu tahun,” lanjut Emanuel.
Panel surya merupakan kunci dalam mengkonversi sinar matahari menjadi energi. Jika kualitasnya tidak baik maka efektifitasnya akan menurun.
“Banyak panel surya banci beredar di masyarakat,” kata Emanuel mengingatkan.

BACA JUGA : Marc Rehat
Layanan SolarCell bukan hanya untuk proyek-proyek perdesaan. Emanuel Setiawan menceritakan juga proyek-proyeknya untuk perkantoran, termasuk kantor pemerintahan. Salah satu yang dijadikan contoh adalah PLTS di Gedung Inspektorat Provinsi Kalimantan Timur.
“Gedung ini mempunyai PLTS dengan kekuatan 100 KW/KVA. Dan menjadi gedung ke 6 yang dipasang PLTS oleh SolarCell,” ujar Emanuel.
PLTS di Gedung Inspektorat Provinsi Kaltim memakai sistem ongrid atau terhubung dengan PLN sehingga tidak memakai baterei. Hasil dari PLTS jika lebih akan dikonversi dengan selisih pemakaian dari listrik PLN.
Hanya saja menurut Emanuel Setiawan untuk sistem ongrid ini harus minta ijin ke PLN.
“Sekarang kurang berkembang karena PLN kelebihan daya listrik, ijin dari PLN sulit” lanjut Emanuel.
Selain melayani masyarakat, perkantoran, SolarCell juga melayani kebutuhan korporasi.
“Kami juga membuat PLTS untuk MHU, perusahaan tambang batubara,” ujar Emanuel.
Proyek pembangunan PLTS untuk MHU terbilang besar, karena lahan yang di land clearing seluas 2 hektar. Tenaga listrik yang dihasilkan oleh PLTS ini dipakai untuk kebutuhan kantor, operasi conveyor, penerangan umum dan lainnya.
“Menurut MHU, kebutuhan BBM untuk listrik semula sekitar 2,4 milyard. Biaya itu kemudian menyusut jauh menjadi sekitar 600 juta perbulan setelah memakai PLTS,” terang Emanuel.
“Sebagian listriknya juga disumbangkan untuk masyarakat sekitar sehingga bisa menurunkan biaya CSR,” tambah Emanuel.
Kiprah SolarCell semakin meluas. Usaha yang digawangi oleh Emanuel Setiawan ini tidak hanya memasang atau membangun PLTS guna memenuhi kebutuhan listrik secara mandiri.
Di Kutai Kartanegara, SolarCell juga turut membantu pemanfaatan energi surya untuk pertanian lewat proyek pompa air dengan tenaga surya.
“Pompa air dengan tenaga surya ini sangat membantu petani karena beban biaya BBM menjadi berkurang. Dengan sumber energi yang gratis untuk mengerakkan pompa air, petani bisa menanam 3 kali setahun,” terang Emanuel.
Selain untuk pertanian, energi surya juga bisa dimanfaatkan untuk pengelolaan sampah.
“Kami juga memasang mesin pencacah sampah bertenaga surya di Bank Sampah yang ada di Marangkayu,” lanjut Emanuel Setiawan.
“Dengan memakai tenaga surya, operasional bank sampah untuk membeli BBM menjadi berkurang serta tak terpengaruh oleh kelangkaan BBM atau kesulitan membeli BBM,” pungkasnya.
Potensi energi surya di Kalimantan Timur sangat besar. Dan tidak seperti migas dan batubara yang diibaratkan sering membuat ‘tikus mati di lumbung padi’ pengembangan listrik dari energi surya lebih memungkinkan untuk terwujudnya keadilan energi bagi semua.
Penulis : Herliyana
Editor : Yustinus Sapto Hardjanto
Gambar : KJW dan Solar Cell









