KESAH.IDIndonesia tak perlu meniru sepenuhnya negara lain soal pendidikan. Hal terpenting adalah: membenahi fondasi kualitas guru dan mengubah paradigma pendidikan menjadi latihan praktik berkelanjutan untuk mencapai tujuan nasional yang mulia. Sebelum mencari cara, kita harus sepakat terlebih dahulu, manusia seperti apa yang ingin kita cetak?

Di grup WhatsApp, status media sosial, bahkan obrolan santai di warung kopi, satu tema sering muncul: kekecawaan terhadap pendidikan di negeri kita. Rasanya kompleks sekali. Mulai dari kurikulum yang memberatkan, model belajar yang kaku, fasilitas yang jauh dari memadai, perilaku pendidik, hingga janji-janji politik soal mutu pendidikan yang selalu terasa jauh panggang dari api.

Setelah meluapkan semua keluh kesah itu, biasanya yang muncul berikutnya adalah perbandingan.

Finlandia selalu jadi bintang. Kabarnya, mereka punya model pendidikan yang santai, jam sekolah pendek, tapi hasilnya cemerlang. Siapa yang tak tergiur?

Ironisnya, banyak yang mengeluh mungkin tidak sadar bahwa beberapa elemen ala Finlandia justru sudah coba kita tiru. Pemerintah sudah berusaha keras meratakan mutu sekolah, mengurangi label “elit,” dan mencoba melepaskan siswa dari tekanan ulangan, ujian, atau intimidasi sistem ranking.

Namun, hasilnya? Skor PISA kita masih jalan di tempat. Tingkat literasi kita juga ketinggalan, padahal hampir semua pelajar sudah memegang smartphone—sumber informasi tak terbatas.

Bagi sebagian orang, Finlandia terasa terlalu “Barat.” Kenangan akan masa kolonial sering membuat kita memilih membandingkan dengan sesama Asia: Jepang.

Jepang dianggap ideal karena mereka identik dengan kedisiplinan yang legendaris. Tak ada “jam karet.” Mereka tertib membuang sampah. Bahkan, konon, dompet yang tercecer di jalan akan dibiarkan, karena mereka percaya pemiliknya pasti kembali. Obsesi kita terhadap disiplin menemukan role model-nya di sini.

Di luar kedua negara itu, ada satu lagi yang tak lekang oleh waktu: Tiongkok. Pepatah kuno kita sendiri sudah berbunyi, “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.”

Tiongkok memang luar biasa. Kemajuan pendidikannya tercermin dalam berbagai bidang: ilmuwan, teknolog canggih, politisi andal, hingga atlet berprestasi. Untuk Tiongkok, mungkin kita memang lebih cocok mengirim pelajar ke sana. Sebab, sistem mereka yang solid satu komando jelas sangat sulit diterapkan di negara kita yang begitu beragam.

BACA JUGA : Sungai Banjar Kaya Paparan Sinar Mentari Tapi PLTS-nya Ambyar

Kita senang sekali membanding-bandingkan. Kenapa? Karena membandingkan itu gratis dan informasinya mudah didapat.

Masalahnya, kebiasaan ini selalu diikuti oleh simplifikasi logika yang salah. Kita cenderung meniru yang kelihatan mudah di permukaan, bukan etos intinya.

Tidak benar jika Finlandia maju hanya karena jam pelajaran pendek atau sekolah gratis. Pondasi kesuksesan Finlandia adalah guru.

Mereka menyiapkan guru bermutu tinggi—lulusan terbaik dari pendidikan tinggi—yang digaji dengan sangat baik. Guru di sana tak perlu pusing memikirkan kenaikan pangkat, bisnis sampingan (les privat, kantin, seragam), atau jabatan. Mereka dihargai begitu rupa sehingga bisa fokus total pada mengajar. Finlandia tidak menyebut guru sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa,” mereka menunjukkan penghargaan itu lewat kesejahteraan nyata.

Lalu, bagaimana Jepang berhasil menanamkan ketertiban? Kuncinya: Latihan.

Pendidikan di Jepang adalah pelatihan yang berulang. Murid dilatih antri, membuang sampah, dan menghormati privasi (tidak mengambil barang orang lain). Mereka bahkan dilatih menghadapi bencana.

Ini, sebetulnya, yang paling mudah ditiru di Indonesia. Anak tak perlu dijejali terlalu banyak nasihat, PR, atau hafalan. Mereka cukup diberi contoh dan diajak melakukan.

Contoh yang berhasil: tradisi salim atau mencium tangan. Kebiasaan ini melekat karena di sekolah selalu dilatih. Tapi, coba lihat kebiasaan membuang sampah? Umumnya anak-anak kita masih jorok, karena tidak dilatih membuang sampah dengan benar dan bertanggung jawab.

Intinya, kita tak perlu meniru seratus persen negara manapun. Yang paling krusial adalah menyiapkan guru bermutu dan memandang pendidikan sebagai sebuah latihan berkelanjutan. Sama seperti atlet profesional yang berlatih delapan jam sehari untuk terampil, murid juga perlu berlatih mempraktikkan pengetahuan dan etika secara terus-menerus.

BACA JUGA : Setelah Limapuluh

Sejarah pendidikan kita menempatkan penghormatan besar pada guru. Guru diartikan sebagai “digugu lan ditiru”—dipercaya dan diteladani. Ini berarti ada tuntutan integritas: kesesuaian antara perkataan dan perbuatan.

Makna ini dihayati betul oleh Ki Hajar Dewantara. Ia menolak pendidikan yang mendewakan guru, membeda-bedakan kecerdasan, dan menilai hanya dari hasil ujian. Tujuannya sederhana, namun mendalam: membuat peserta didik memiliki kemauan dan keinginan besar untuk terus belajar; menjadi manusia pembelajar seumur hidup.

Semboyan terkenalnya: Ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Di depan memberi contoh, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan. Sayangnya, semboyan ini sering “disunat” dan hanya dikenal sebagai “Tut Wuri Handayani”, seolah guru hanya seorang pendorong dari belakang.

Semangat ini kemudian digali kembali oleh Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau Romo Mangun. Keterlibatan Romo Mangun bermula dari keprihatinan pada anak-anak yang kehilangan akses pendidikan, seperti Kaum Girli di Sungai Code. Ia mengeluhkan bahwa kita sudah kehilangan guru sejati.

Di Sekolah Eksperimental Mangunan yang ia dirikan, anak-anak didorong menjadi guru bagi diri sendiri dan teman-temannya. Pengajar hanya berfungsi mengarahkan, memotivasi, dan memberi masukan. Fungsi guru dikembalikan pada esensi Ki Hajar Dewantara: di depan memberi contoh, di tengah meneguhkan, di belakang memberdayakan.

Pendidikan ala Mangunan adalah Humaniora. Sekolah tidak berpretensi mencetak insinyur atau bankir, melainkan mencetak manusia yang mau dan mampu terus-menerus belajar. Sebab, proses belajar tak pernah boleh berhenti selama kita masih menyebut diri sebagai manusia.

Pada akhirnya, sebelum kita sibuk meniru model pendidikan negara lain, yang paling penting adalah bertanya: Pendidikan Nasional ingin mencetak manusia seperti apa?

Tujuan pendidikan kita saat ini, sebagaimana tertuang dalam UU, sangat panjang: beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab. Bandingkan dengan tujuan Finlandia yang fokus pada sistem pendidikan adil, inklusif, dan berkualitas tinggi yang gratis dan setara.

Mungkin, keruwetan sistem kita berawal dari tujuan yang terlalu panjang dan ambisius. Fokus kita seharusnya adalah membenahi fondasi (guru dan latihan praktik) agar tujuan mulia itu bisa dicapai dengan langkah yang lebih pasti.

note : sumber gambar – KATOLIKANA