KESAH.ID – Hampir merata seluruh kota-kota di Indonesia mengalami masalah darurat sampah. Produksi sampah melimpah tapi pengelolaan dan pengolahannya dari tahun ke tahun tak berubah. Kebanyakan sampah masih dibuang begitu saja hingga banyak kota bermasalah dengan TPA karena umumnya sudah over kapasitas. Lain Indonesia, lain pula Swedia yang mengalami darurat sampah karena pengelolaan dan pengolahan sampah yang efektif. Negeri itu kini kekurangan sampah sebagai bahan untuk memproduksi energi. Banyaknya tempat pengolahan sampah membuat sampah dari negeri sendiri tak cukup sebagai bahan baku. Swedia mulai mengimport sampah dari negara-negara tetangga.
Hidup itu kalau bukan merupakan rangkaian masalah, ya rangkaian paradoks.
Kata guru psikospiritual saya, perjalanan hidup atau pendewasaan adalah hasil dari kemampuan menyelesaikan masalah dan kemudian kesiapan menghadapi masalah yang lebih besar. Menurutnya tugas atau tanggungjawab perkembangan kehidupan adalah ketrampilan untuk menyelesaikan masalah. Seorang pemimpin misalnya dihormati karena bukan hanya berfokus untuk menyelesaikan masalah diri sendiri atau keluarga, melainkan masalah masyarakat banyak.
Dari semua permasalahan yang paling berat adalah paradoks, buah simalakama begitu kata pepatah. Kita kerap berada dalam keadaan serba salah, begini salah dan begitu juga salah.
Ambil contoh soal nilai kejujuran. Jujur diajarkan sejak kecil karena salah satu bawaan manusia adalah tidak jujur, suka mengatakan yang tak sebenarnya, gemar berbasa-basi.
Tapi bayangkan jika semua orang jujur, dunia pasti akan kacau. Seperti yang diungkapkan oleh Jangka Jayabaya yang mengatakan jujur kojur atau kalau jujur bakal celaka, yang jujur akan hancur.
Coba kalau para pegawai jujur, pasti banyak yang dipecat. Misalnya pagi-pagi menyapa atasannya lalu mengatakan “Kok bisa bapak yang bodoh ini jadi kepala kantor, bapak punya banyak orang dalam ya?”
Paradoks bukan?.
Paradoks lain yang sering kita temukan dalam keseharian adalah banyaknya orang-orang yang merendah untuk meninggikan diri.
Seorang komika dengan sangat baik menjadikannya sebagai bahan, dia menyorot tentang kebiasaan orang yang menyapa orang lain dan kemudian mengajak singgah. “Ayo mampir ke gubuk saya,”. Padahal rumahnya gedong magrong-magrong lantainya marmer. Lalu ketika menyajikan suguhan tak lupa mengatakan “Maaf tak ada apa-apa, hanya ada ini,” padahal satu meja penuh dengan aneka makanan dan minuman.
Saya juga ingat kisah gurauan yang populer di Manado, Sulawesi Utara tentang busuk-busuk. Gurauan ini menyoroti soal merendah padahal ingin meninggikan diri.
Alkisah ada 3 anak yang bercerita tentang orang tuanya. Biasalah anak-anak memang kerap memvalidasi diri dengan pekerjaan orang tua. Mirip Sadewo anak Purbaya yang ketika bapaknya terpilih jadi menteri dia kemudian dengan percaya diri mengatakan kalau ayahnya berhasil melengserkan agen CIA dari kursi menteri. Padahal yang melengserkan kan Prabowo.
Dalam percakapan itu, anak pertama mengatakan “Busu-busu kita pe bapak polisi,” atau jelek-jelek bapakku polisi. Polisi, tentu lumayan kelasnya di masyarakat. Dari ujung hingga ujung orang di gang akan kenal.
Mendengar itu anak yang kedua kemudian berkata “Ta pe papa ley biar busu-busu juga anggota dewan,”. Ah, anggota dewan, masyarakat satu dapil pasti mengenalnya. Sama seperti polisi sering disapa Pak Polisi, anggota dewan juga kerap disapa Pak Dewan.
Anak yang ketiga tak bisa mengalahkan dua anak sebelumnya. Maka tanpa pikir panjang dia mengatakan “Kita pe papa tukang panjat kelapa, maar nyanda busu rupa ngopi dua pe papa,”
Dia membalikkan dengan paradok dengan mengatakan “Bapakku hanya pemanjat pohon kelapa tapi nggak busuk kayak bapak kalian,”.
BACA JUGA : Saras Mundur
Paradok bisa jadi ironi tapi terkadang memang mengelikan.
Seperti misalnya Swedia yang kekurangan sampah disaat negeri lain berjuang mati-matian untuk mengurangi sampah.
Lihat saja Indonesia yang sejak jaman kemerdekaan punya nasehat “Jangan buang sampah sembarangan,”.
Nasehat pendek dan jelas ini 80 tahun lebih tidak berhasil ditaati. Sampah ada dimana-mana, bahkan di tengah hutan bisa ditemukan sampah botol minuman kemasan dan wadah makanan instan. Dari Sabang sampai Merauke, Mianggas hingga Rote, sampahnya sama. Sama-sama produksi Indofood, Garuda Food, Wings Food dan lain-lain.
Berbagai cara dilakukan untuk memperlakukan sampah dengan benar. Mulai dari 3 R sampai membuat Bank Sampah, dan hingga Jepang sudah sampai 7 R, kita masih berkutat dengan sampah kemasan dan sampah apung di mana-mana.
Semua bergerak untuk sampah, sampai yang sangat minimal seperti Gerakan Memungut Sehelai Sampah di Sungai Karang Mumus, GMSS SKM. Ya sehelai saja, sebuah cita-cita yang sangat tidak ambisius. Maka Misman, sang founder kerap mengatakan perlu 350 tahun untuk membebaskan Karang Mumus dari sampah.
Padahal apa kurangnya Pemerintah Kota Samarinda, hingga lewat Probebaya menggalakan Kampung Salai, Kampung Sampah Bernilai.
Ya kalau sampah bernilai pasti tidak dibuang sembarang.
Urusan sampah kita memang gemar membuat slogan. Saya dulu juga pernah membuat tulisan dengan judul Merubah Sampah Menjadi Rupiah. Beberapa tahun kemudian saya menyesal telah menuliskannya.
Opini saya kelewatan, sebab jangankan membuat sampah menjadi cuan, membuang sampah dengan benar saja gagal.
Slogan-slogan tentang sampah menjadi paradoks.
Banyak yang pusing dengan masalah sampah, lalu melakukan kajian, penelitian dan analisis yang membuat kepala jadi botak. Padahal urusannya sederhana saja, kegagalan masyarakat kita untuk membuang sampah pada tempatnya karena hanya dinasehati, tapi tak pernah dilatih.
Andai saja sejak 80 tahun lalu cara membuang sampah yang baik dan benar menjadi bagian dari kurikulum, mungkin hari ini walau banyak sampah, sampah itu ada pada tempatnya.
Coba jujur saja, kita yang pernah sekolah, apakah di sekolah secara rutin dilatih atau diajarkan untuk membuang sampah dengan benar. Rasanya kita lebih diajarkan dan dilatih rutin untuk berdoa. Maka kita berhasil menjadi bangsa pendoa yang baik, tapi bukan pembuang sampah yang benar.
Saking frustasinya pada urusan membuang sampah dengan benar, di ujung gang sering ada spanduk atau baliho maupun coretan di dinding dengan nada sangat kasar seperti “Yang buang sampah disini anjing,”.
Atau yang religius kemudian mengancam “Yang buang sampah disini masuk neraka,”
Dan di Samarinda ada yang berpikir kalau urusan sampah ini kelar karena lewat program Probebaya bisa memasang CCTV. Menurutnya dengan CCTV pembuang sampah sembarang akan dikenali.
Padahal urusannya bukan cuma mengenali siapa yang membuang sampah sembarang, tapi siapa yang akan menegurnya. Coba jika yang membuang sampah sembarang adalah pria berbadan kekar dengan tatto di sekujur tubuh, Pak RT berani menegur kah?.
BACA JUGA : Geng Marquez
Padahal urusan sampah sejatinya tak rumit. Cukup bisa membuang pada tempatnya, lalu urusan berikut adalah teknologi. Singapura sudah membuktikan hal itu. Sampah di Singapura dikumpulkan lalu dibakar, hasilnya listrik dan sisa pembakarannya untuk mereklamasi laut. Jadilah pulau yang berasal dari hasil bakaran sampah.
Pemerintah Singapura mendidik warganya membuang sampah dengan sangat ketat. Jangan sampah, meludah sembarang saja bisa terkuras isi kantong karena didenda. Dan Singapura adalah salah satu negara yang melarang konsumsi permen karet. Karena di banyak negara hasil kunyah-kunyah yang tidak ditelan itu sering ditempel di tempat tersembunyi, atau dibuang begitu saja di trotoar atau jalan sehingga butuh banyak dana untuk membersihkannya.
Yang lebih berhasil soal sampah selain Singapura adalah Swedia. Swedia banyak membangun pusat-pusat pengolahan sampah, atau daur ulang. Pusat pengolahan dibangun tidak jauh dari permukiman dengan cara dibakar dengan suhu tinggi. Panasnya dipakai untuk menghasilkan listrik dan abu bakarannya dipakai untuk membuat bahan bangunan.
Gara-gara banyak membangun pusat pengolahan sampah, kini Swedia kekurangan sampah, hingga kemudian mulai mengimpor sampah dari negara tetangga.
Ada banyak teknologi untuk mengolah sampah, tak perlu selalu menjadi rupiah atau cuan. Yang paling penting adalah memusnahkan sampah dan kemudian merubah menjadi hal yang berguna, hal yang bisa dipakai ulang dan tak menghasilkan daur sampah.
Di Indonesia pemanfaatan teknologi untuk mengolah sampah masih bersifat parsial. Tidak ada kebijakan yang seragam dan teruji untuk mengurangi volume sampah secara signifikan. Selalu saja ada kendala untuk melakukan pemassalan. Hingga kemudian masalah sampah sudah menumpuk-numpuk selama kemerdekaan.
Akhirnya sampah jadi paradoks. Darurat sampah di Indonesia lebih bahaya dari darurat militer, karena sampah jadi masalah dimana-mana. Bukan hanya daratan yang tercemar sampah, melainkan juga badan air. Sungai, danau, rawa, pesisir dan laut isinya sampah, bahkan kolam-kolam yang dibangun di ruang publik kerap merana karena penuh sampah.
Dan di Swedia sana darurat sampah punya arti berbeda. Bukan kelebihan sampah tapi kekurangan karena dengan teknologi, sampah kemudian menjadi bahan baku energi dan bahan bangunan. Zero waste kemudian jadi masalah, karena dengan banyaknya pusat pengolahan sampah, Swedia kekurangan bahan baku sampah.
Saya tak punya keinginan untuk memberi masukan agar kita meniru Swedia. Saya juga tak beranggapan Swedia lebih baik, menurut saya Swedia seperti halnya Singapura hanya berbeda dengan kita dalam urusan mengelola sampah.
Tapi kalau kita anggap baik dan ingin meniru, jangan hanya meniru dengan membeli mesin atau peralatannya. Yang perlu ditiru bagaimana merubah isi kepala masyarakat tentang sampah. Kita bisa saja seperti Singapura, Swedia atau Jepang, tapi ya harus dididik dengan cara mereka.
Kalau hanya meniru peralatannya saja, yang terjadi adalah instalasi mangkrak dan sampah bertebaran dimana-mana. Buat sebagian besar dari kita, tertib membuang sampah seperti orang Singapura jelas menyiksa. Kita akan kehilangan kebebasan, bebas membuang sampah sembarang.
note : sumber gambar – BADUNG








