KESAH.IDMasyarakat global berkomitmen untuk melakukan transisi energi dari energi fosil ke energi terbarukan untuk mencapai net zero emission agar iklim terjaga untuk tetap ramah bagi kehidupan manusia. Namun masih ada jalan lainnya yang harus juga dilakukan yakni merawat dan menjaga keutuhan lingkungan termasuk lingkungan air. GMSS SKM mempunyai cara tersendiri untuk mendekatkan warga dengan sungai. Interaksi dengan sungai dan pengenalan pada fungsi esensial ekosistemnya akan membuat warga terdorong merawat, menjaga dan memulihkan sungai. Karena menjaga sungai berarti menjaga iklim.

Merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke 80, masing-masing kelompok masyarakat merayakan dengan berbagai cara. Ada yang mengadakan aneka lomba yang melibatkan anak-anak hingga orang dewasa, ada juga yang menggelar upacara sederhana, tetapi tak sedikit yang merayakan dengan kemegahan, seperti di Istana Negara.

Di Samarinda ada yang merayakan dengan cara berbeda. Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus, GMSS SKM bersama dengan Komunitas Padlle Board Samarinda, Susur Gang Samarinda, XR Bunga Terung, Komunitas Jurnalis Warga dan komunitas peduli lingkungan lainnya, merayakan dengan melakukan susur sungai memakai Stand Up Padlleboard.

Di tanggal 17 itu, SUP diberangkatkan dari Bendungan Lempake hingga Jembatan Sungai Dama yang berjarak 17 kilometer. Sungai Karangmumus dipilih karena selama lebih 35 tahun dinormalisasi namun hingga hari ini belum merdeka.

Sampai hari ini, Sungai Karangmumus masih dianggap sebagai sungai yang jorok, bau dan dituduh sebagai biang banjir di Kota Samarinda.

Dalam sebuah upacara kecil di Sekolah Sungai Karang Mumus, Misman, Ketua GMSS SKM mendeklarasikan pernyataan untuk menyatakan komitmen memerdekakan Sungai Karangmumus dari segala bentuk kerusakan dan pencemaran karena sampah dan limbah. Misman bertekan untuk menjaga aliran Sungai Karangmumus, ruang sungai, flora dan fauna serta kebudayaan yang tumbuh dan hidup disekitar Karangmumus.

Karangmumus perlu dimerdekakan karena air Sungai Karangmumus adalah salah satu sumber air baku untuk air bersih di Kota Samarinda.

Krisdiyanto, founder Padlle Board Samarinda yang juga aktif di GMSS SKM mengatakan kegiatan susur sungai dengan SUP adalah bentuk kampanye untuk mendorong masyarakat kembali berinteraksi dengan sungai.

“Salah satu budaya air adalah mendayung, menggunakan sungai sebagai alur transportasi,” ujar Krisdiyanto.

Tanpa menyebut transisi energi, promosi kebiasaan dan ketrampilan mendayung atas salah satu cara juga merupakan promosi energi yang bersih.

Karangmumus sendiri dalam lanskap energi fosil di Samarinda berada dalam posisi sebagai korban. Paska reformasi, ketika Pemerintah Daerah diberi wewenang memberikan ijin tambang, Karangmumus kemudian mengalami pendangkalan yang luar biasa.

Wilayah hulu DAS Karangmumus baik di Kota Samarinda maupun Kabupaten Kutai Kartanegara ditambang.

Bukan hanya badan atau alur sungai yang mendangkal melainkan juga Waduk Benanga atau Bendungan Lempake juga kehilangan daya tampungnya.

Dalam kegiatan bersih-bersih sungai bulan Juni 2025 yang lalu, Andi Harun, Walikota Samarinda mengeluhkan sorotan netizen pada banjir di Samarinda. Padahal menurutnya banjir terjadi juga di kota atau daerah lain.

Andi Harun menyebut ijin tambang dan aktivitas pengupasan lahan yang menjadi penyumbang sedimentasi di sungai. Dan ijin diberikan oleh pemerintah pusat.

“Samarinda hanya menanggung dampak,” ujar Andi Harun.

Sebab menurutnya, percuma Samarinda bersih-bersih jika daerah sekitarnya tetap ditambang.

Kota Samarinda sendiri menurut Andi Harun dalam dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah pada tahun 2026 tak ada lagi zona untuk tambang.

Ajakan untuk peduli lingkungan agar bumi menjadi ruang ramah untuk kehidupan

BACA JUGA : Pajak Kebisingan

Terlibat menjadi salah satu peserta susur Karangmumus dengan SUP, saya menyaksikan sendiri perbedaan kwalitas air di bagian tengah dan bagian hilir. Di wilayah hilir dimana kanan kiri sungai dipadati dengan permukiman, kualitas airnya memburuk.

Di beberapa bagian sungai terlihat tumpukan sedimen. Erosi yang tertransportasi dari bukaan lahan karena pertambangan dan aktivitas lainnya membuat sungai cepat mendangkal walau berkali-kali Karangmumus dikeruk.

Maraknya sektor ekstraksi menjadi ironi tersendiri ditengah desakan dan komitmen global untuk beralih dari energi kotor ke energi bersih. Aktivitas ekstraksi di Kalimantan Timur bukan hanya merusak lahan melainkan juga menghabisi hutan. Data Auriga Nusantara menunjukkan Kalimantan Timur menempati peringkat atas dalam deforestasi.

Ketika menyusuri Karangmumus dari sisi air ini, saya juga bertemu dengan beberapa bangunan atau infrastruktur yang sebelumnya telah dituliskan oleh teman-teman Jurnalis Warga untuk Transisi Energi Berkeadilan.

Setelah melewati bawah jembatan yang menghubungkan antara kompleks perumahan Sempaja City dan Griya Mukti Sejahtera, nampak bangunan masjid yang megah di pinggir sungai. Itu adalah Masjid Babburahman yang diresmikan oleh Isran Noor sebagai masjid hijau karena dilengkapi dengan PLTS.

Seperti banyak proyek PLTS yang sering diklaim sebagai proyek transisi energi, pengembangan energi bersih dan terbarukan, selalu ada kesalahan berulang. Masyarakat atau kelompok penerima manfaat sering tidak dibekali kemampuan untuk merawat, menjaga dan memperbaiki jika ada kerusakan.

Dan kabarnya dalam waktu beberapa tahun saja kemampuan PLTS di Masjid Babburahman sudah menurun drastis sehingga pengurus masjid harus memasang sambungan listrik baru untuk memenuhi kebutuhan energi bagi kegiatan dan lingkungan masjid.

Tak jauh dari Rumah Dinas Walikota Samarinda, tepatnya di bawah Jembatan S. Parman ada pemandangan tersembunyi. Dibawah jembatan itu ternyata ada kompartemen sempit yang dibangun diantara batang horizontal penyangga jembatan dan ditempati sebagai tempat tinggal. Keberadaan manusia kolong ini jelas lepas dari sorotan publik dan lembaga layanan publik. Di bawah Jempatan S. Parman masih tersisa warga Kota Samarinda yang benar-benar belum merdeka.

Mendekati finish, setelah melewati keramaian acara peringatan HUT Kemerdekaan RI di tikungan Gang Nibung, dari kejauhan terlihat tiang kincir angin. Itulah Taman Para’an, taman yang dideklarasikan sebagai ruang publik yang ramah iklim.

Taman yang terletak diantara Pasar Segiri dan Jembatan Gang Nibung itu dilengkapi dengan PLTS dan Kincir Angin sebagai sumber energi. Di taman itu juga terpasang instalasi panen air hujan.

Saya belum cukup mengamati apakah kedua model pembangkit energi terbarukan itu berfungsi dengan baik atau tidak.

Manusia kolong, tinggal di bawah jembatan S. Parman

BACA JUGA : Penakluk Sirkuit

80 tahun merdeka, sepanjang itu pula kecanduan energi fosil membuat Indonesia menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar yang menyebabkan pemanasan global.

Provinsi Kalimantan Timur telah mendeklarasikan diri sebagai Provinsi Hijau, terdepan dalam upaya memitigasi iklim. Samarinda, Ibukota Provinsi Kalimantan Timur membangun ruang publik atau taman berketahanan iklim.

Namun dalam diam, Bachtiar atau biasa dipanggil Iyau telah bertekun menjadi sejengkal ruang tepi Sungai Karangmumus menjadi hijau. Ruang terbuka hijau yang paling dikenal di tepian Sungai Karangmumus, tempat yang disebut Pangkalan Pungut GMSS SKM itu.

Satu persatu SUP yang mengikuti susur sungai untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI ke 80 merapat di dermaga Pangkalan Pungut GMSS SKM. Iyau tersenyum senang walau lelah mengawal dengan perahu ketinting.

Dia memanggil sekelompok anak-anak muda yang berdiri di tepian sungai untuk mencoba SUP.

Mereka riang bermain.

Senyum tersungging dari bibir Iyau karena SUP bisa memanggil anak-anak muda yang biasanya tak menghiraukan sungai datang untuk berinteraksi dengan sungai.

“Sebelum ikut peduli menjaga dan merawat sungai, mereka harus mengenal sungai,” ujar Iyau.

Saya setuju, dan lebih setuju lagi ketika Iyau mengatakan “Menjaga sungai, berarti menjaga iklim,”

Akhirnya saya paham kalau transisi energi bukan jalan tunggal untuk memperbaiki iklim.

Penulis : Windasari

Editor : Yustinus Sapto Hardjanto

Gambar : GMSS SKM