KESAH.ID – Masjid Baburahmah di Perum Griya Mukti Sejahtera, Samarinda digadang menjadi masjid ramah energi karena memakai Pembangkit Listrik Tenaga Surya untuk memenuhi sebagian kebutuhan listriknya. Diresmikan pemakaiannya dua tahun lalu, ternyata kapasitas penyimpanan dayanya sudah menurun. Inisiatif dan bantuan tenaga listrik terbarukan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur ini ternyata tidak disertai dengan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dalam menjaga dan merawat sumber pembangkit energi terbarukan ini.
Terletak di tepian aliran Sungai Karang Mumus, tepatnya di Perum Griya Mukti Sejahtera Samarinda, Masjid Baburahmah memang sering kebanjiran. Berdiri sejak tahun 1996 masjid ini sudah beberapa kali mengalami pemugaran.
Terakhir dipugar pada tahun 2023, sehingga ketinggian lantainya kini kurang lebih 1,8 meter. Kini meski lingkungan sekitarnya kebanjiran, seperti kejadian pada bulan Januari 2025 lalu, lantai masjid tidak lagi tergenang. Banjir pada bulan Januari lalu sempat mengenangi Perum Griya Mukti Sejahtera selama kurang lebih 5 hari dengan ketinggian air hingga 60 cm.
Saat peresmian pemugaran Masjid Baburrahmah, Selasa {26/9/2023}, Isran Noor Gubernur Kalimantan Timur waktu itu menyampaikan apresiasinya atas penggunaan PLTS Offgrid di masjid ini. Menurut Isran hal itu sejalan dengan program Presiden Joko Widodo yang mendorong pemanfaatan energi bersih untuk melakukan transisi energi dari energi fosil.
“Dengan adanya tenaga surya ini saya rasa sangat bagus, irit bahan bakar dan listrik pun bersih,” ujar Isran saat itu.
Saat diresmikan, Masjid Baburrahmah terlihat lebih megah dan indah. Rehabilitasinya menelan anggaran Rp 12,240 miliar yang beradal dari dana APBD Provinsi Kalimantan Timur. Dengan luas 1,700 meter persegi, kubah berbentuk pyramid, masjid ini bisa menampung 600 jamaah. Seperti disampaikan oleh gubernur, kelistrikan masjid ini didukung oleh tenaga surya. Pembangkit Listrik Tenaga Surya ini dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan listik untuk rumah kaum, rumah imam, TK-TPA dan pendopo.
Keberadaan PLTS yang mempunyai kapasitas 10 KW/KVA mampu memenuhi 40 persen kebutuhan listrik dari lingkungan dan aktivitas masjid. Sistemnya offgrid atau tidak terkoneksi dengan jaringan listrik PLN, dan energinya disimpan dalam baterei VLRA yang diperkirakan akan tahan selama 5 hingga 7 tahun.
Dua tahun setelah diresmikan, Wahyu Musyifa, Jurnalis Warga untuk Transisi Energi Berkeadilan mengunjungi Masjid Baburrahmah ketika masih dalam suasana lebaran. Hasil pantauan menunjukkan panel surya terlihat berlumut dan beberapa kabelnya mengalami retak, seperti kurang terawat.
Asrofi, Ketua Masjid Baburrahmah tidak menyangkal keadaan itu. Menurutnya kondisi PLTS saat ini hanya butuh perawatan dan pengantian beberapa spare part agar daya yang dihasilkan tetap maksimal.
“Kondisi masih baik, tetapi mungki hanya beberapa yang butuh perhatian dan perawatan lebih, ini masih menungu dana dan beberapa sudah mulai ada bantuan” katanya.
Lebih lanjut Asrofi menjelaskan kendala yang dialami, dimana daya listik yang kini dihasilkan lambat laun menurun. Baterai yang diperkirakan bisa bertahan antara 9 -10 jam kemudian hanya mampu menyediakan daya sampai dengan 3 jam. Bahkan karena saklarnya terbakar sempat tidak bisa digunakan. Pihak masjid kemudian mengatasi kekurangan listrik dengan token atau sambungan listrik pra bayar.
“Begitu kondisinya sekarang, karena tidak ada teknisi ahli jadi mungkin daya awetnya menurun, sempat 8 jam trus nurun sampai 3 jam. tapi kadang di matikan pindah ke token untuk lsitrik masjid” bebernya.
Sungguh sebuah ironi, karena saat peresmian Masjid Baburrahmah oleh Gubernur Kalimantan Timur waktu itu, masjid ini diberitakan sebagai pioner masjid transisi energi di Kalimantan Timur. Namun faktanya, konsepsi masjid sebagai percontohan transisi energi ternyata tidak dirancang dan direncanakan bersama pengurus dan jamaahnya.
Pembangunan PLTS offgrid di Masjid Baburrahmah lebih berpendekatan bantuan dan proyek sehingga tidak dipersiapkan sumber daya manusia dari lingkungan pengurus masjid untuk menjaga keberlanjutannya.

BACA JUGA : Pemakan Segala
Sebuah riset yang dilakukan oleh Institute fot Essential Service Reform, IESR di Jawa Tengah sebagai mana diberitakan oleh Mongabay, 28/03/2025 menunjukkan penghematan karena penggunaan energi terbarukan oleh komunitas di Jawa Tengah rata-rata diatas 20 persen.
Studi yang tidak secara khusus menyasar penggunaan energi terbarukan pada komunitas agama ini, menemukan fakta bahwa tempat ibadah mempunyai peran strategis dalam mendorong penggunaan energi terbarukan.
Menurutnya, inisiatif kelompok keagamaan dalam penggunaan panel surya perlu didorong, ditingkatkan dalam skala yang lebih besar sehingga menjadi salah satu pengerak transisi energi secara partisipatif.
Memang masih ada anggapan bahwa penggunaan energi terbarukan rumit dan mahal. Namun anggapan itu akan terpatahkan jika mulai dipraktekkan.
“Tidak serumit dan semahal yang dibayangkan karena penghematan yang dihasilkan.” ujar Fabby.
Dalam publikasi yang sama dengan judul Belajar Peduli Lingkungan di Masjid Ramah Energi sebenarnya dikisahkan kiprah Ustad Ananto Isworo yang mempelopori dan mengedukasi tentang energi bersih di Masjid Al-Muharram. Masjid yang berada di Dukuh Brajan, Desa Tamantirto, Bantul, Yogyakarta ini memenuhi kebutuhan listriknya dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya, PLTS.
Penggunaan PLTS merupakan salah satu dari tujuh program ramah lingkungan yang dijalankan oleh masjid ini. Masjid ini dibangun sebagai bagian dari implementasi ayat suci Al Quran yakni menjaga lingkungan tetap lestari merupakan bagian dari ketakwaan.
Pembangunan PLTS sendiri dilakukan secara swadaya dan partisipasi masyarakat.
“Lewat infaq ribuan orang dari berbagai daerah dalam program sedekah energi,” ujar Ananto.
Dana yang terkumpul dari sumbangan itu kemudian dibelikan panel surya, baterai dan perangkat lain untuk menunjang PLTS. Setelah selesai seluruh kebutuhan listrik dari Masjid Al-Muharram dipenuhi dengan energi terbarukan.
PLTS yang dibangun mampu menghasilkan energi sebesar 4.800 Watt, lebih besar dari yang dibutuhkan oleh masjid.
Tapi perjalanan untuk menjadikan masjid sebagai kumpulan jamaah yang peduli pada lingkungan tidak bisa hanya lewat pembangunan atau bantuan ini dan itu. Upaya membangun kesadaran pada pelestarian lingkungan sudah dilakukan di kalangan umat sejak tahun 2013.
Memanfaatkan momentum bencana, dimana beberapa tahun lampau jamaah kerap kesulitan untuk beribadah. Di saat musim kemarau mereka kesulitan mengambil air wudhu, sementara di musim hujan mereka kesulitan karena masjid kerap tergenang.
Situasi ini menurut Ustad Ananto dipakai untuk menyadarkan umat perihal dosa ekologis.
Dalam ceramah-ceramahnya Ustad Ananto kerap menyampaikan bahwa dosa ekologis atau dosa karena mengabaikan dan tidak menjaga lingkungan hidup sama berbahaya atau buruknya dengan dosa-dosa lain.
Dimulai dengan mendorong jamaah untuk menanam pohon, membuat sumur resapan, mengelola sampah hingga memanen air hujan, akhirnya secara bersama-sama jamaah Masjid Al-Muharram mampu memenuhi kebutuhan energinya sendiri dengan listrik yang berasal dari sinar matahari.
Mereka menyadari bahwa listrik yang selama ini mereka pakai berasal dari batubara, dan penambangan batubara bukan hanya merusak lingkungan melainkan juga menyengsarakan masyarakat, terutama masyarakat adat yang tergusur dari ruang hidup mereka karena ditambang.

BACA JUGA : Samarinda Kota Rawa
Belajar dari apa yang terjadi di Masjid Baburrahman di Perumahan Griya Mukti Sejahtera, Samarinda dan Masjid Al-Muharram di Bantul Yogyakarta, sesuai dengan temuan yang disampaikan oleh Fabby Tumiwa dari IESR yang menyatakan tempat ibadah bisa mempunyai peran strategis dalam mendorong penggunaan energi terbarukan, hal ini bisa dimanfaatkan oleh Pemerintah Daerah untuk mengakselerasi transisi energi di daerah masing-masing.
Pemerintah daerah bisa melakukan berbagai inisiatif dalam mendorong tempat ibadah yang tentu saja bukan hanya masjid, melainkan juga gereja, pura, vihara dan lainnya sebagai pioner dalam transisi energi.
Langkah strategis yang bisa dilakukan oleh pemerintah daerah adalah :
- Memberi Bantuan dan insentif finansial.
Pemerintah daerah bisa memberi bantuan investasi untuk energi terbarukan di tempat ibadah dan kemudian memberi isentif atau subsidi pajak untuk tempat ibadah.
- Kampanye dan Edukasi Publik
Bekerjasama dengan pemimpin agama untuk melakukan sosialisasi dan kampanye transisi energi serta menjadikan tempat ibadah sebagai contoh nyata. Pemimpin agama mesti didorong untuk menyampaikan pesan menjaga dan memulihkan lingkungan lewat penggunaan energi bersih sesuai ajaran agama masing-masing.
- Program Kemitraan dan Dukungan Teknis
Bekerjasama dengan perusahaan energi dan universitas untuk memberikan bantuan teknis serta pendampingan dalam instalasi dan pemeliharaan teknologi pembangkit energi terbarukan.
- Regulasi atau Kebijakan Daerah Yang Mendukung Inovasi dan Pengawetan Kearifan Lokal Dalam Energi
Membuat kebijakan yang mendukung praktek inovasi dalam penggunaan energi terbarukan dan praktek kearifan lokal dalam penggunaan energi terbarukan.
- Mendorong Pemanfaatan Lahan Tempat Ibadah untuk Energi Terbarukan
Pemerintah Daerah memberi kemudahan dukungan kepada rumah ibadah yang mau memanfaatkankan lahannya untuk pengembangan instalasi pembangkit listrik tenaga surya atau proyek energi lainnya yang berbasis komunitas.
Jika pemerintah daerah aktif mendukung tempat ibadah menjadi pelopor yang menginspirasi masyarakat luas dalam peralihan menuju energi yang berkelanjutan, niscaya transisi energi yang sebagian besar dirumuskan oleh pemerintah nasional akan berjalan lebih cepat dan meluas, serta partisipatif.
Penulis : Wahyu Musyifa
Editor : Yustinus Sapto Hardjanto
Sumber Gambar : Wahyu Musyifa








