KESAH.IDMungkin matahari adalah sumber energi kita yang paling meyakinkan di masa depan. Dari sisi potensi energinya, matahari bisa disebut sebagai pabrik termonuklir, potensi energinya berlimpah untuk memenuhi kebutuhan peradaban dengan semua kemajuannya. Dan matahari adalah sumber energi paling lestari, tak perlu diapa-apakan, matahari tak akan redup sampai 5 milyard tahun lagi.

Persyarikatan Muhammadiyah memulai lagu marsnya dengan bait “Sang surya telah bersinar”.

Lagu mars adalah lagu penyemangat, dan setiap syairnya selalu mempunyai makna implisit. Surya dalam mars Muhammadiyah mengambarkan kedatangan atau kehadiran sesuatu yang baru, yang punya daya atau tenaga untuk perubahan.

Tentu bukan hanya Muhammadiyah yang memberikan simbolisasi pada matahari atau surya. Dalam berbagai literatur atau karya dalam bentuk lainnya yang diciptakan oleh para spiritualis, seniman atau satrawan, mentari, matahari atau surya memang kerap disimbolkan sebagai harapan, masa depan dan juga ketekunan serta kesetiaan.

Surya dianggap melambangkan kesetiaan karena selalu terbit di ufuk timur dan tenggelam diufuk barat, terus begitu, berulang-ulang tanpa keluh kesah.

Ternyata bukan hanya mereka yang bekerja dengan hati yang menyebut surya sebagai harapan atau masa depan. Seorang ilmuwan ternyata juga menyebutkan hal yang sama, matahari adalah masa depan kita.

Adalah Nikolai kardashev, astrofikawan dari Rusia yang membuat hipotesis kemajuan peradaban planet bumi dan repoduksi energi. Dalam Kardashev Scale dia mengemukakan 3 tiper peradaban.

Tipe 1 disebut sebagai plenetary, merupakan tipe terendah dimana peradaban memanfaatkan sumber energi yang tersedia di planet masing-masing. Penghuni planet bumi memanfaatkan sumber berupa air, angin, mineral, batubara, minyak bumi, gas dan energi dari bintang induk atau matahari.

Tipe 2 disebut stelar, dimana sebuah planet memanen langsung semua energinya dari satu bintang. Untuk planet bumi, memanen dari matahari.

Tipe 3 disebut galaxy, masa dimana peradaban sebuah planet mampu mengendalikan semua energi di sebuah galaxy.

Dan berdasarkan Kardaschec Scale, kita di planet bumi sekarang ini bahkan masih belum memasuki atau berada di peradaban tipe 1. Bauran energi kita masih berinduk pada energi fosil, energi satu bintang yakni matahari atau surya belum sepenuhnya dikuasai.

Padahal jika energi dari satu bintang bisa dikuasai, maka bumi tak perlu menambang, menggali, menyedot sumber-sumber energi yang tak terbarukan. Matahari adalah pabrik termonuklir masif yang alami dan berkelanjutan. Jika total energinya mampu dikonversi, planet bumi akan berlimpah-limpah energinya. Dan akan tersedia abadi karena matahari diperkirakan baru akan redup 5 milliar tahun lagi.

Tantangan pemanfaatan energi matahari pada saat ini adalah soal teknologi. Faktor paling pentingnya adalah panel penangkap dan perangkat penyimpan energinya.

Photovoltaic yang tersedia saat ini belum efisien untuk mengkonversi energi panas matahari menjadi listrik. Kemampuan paling tinggi belum melewati angka 25 persen. Di Indonesia bahkan lebih rendah lagi sekitar 18 persen.

Demikian juga dengan media penyimpannya yakni baterei atau aki.

PV atau panel surya memang terus disempurnakan. Teknologi nano telah memungkinkan untuk menghasilkan panel surya yang tipis, bukan berupa seperti selembar papan melainkan selembar kertas atau plastik yang bisa ditempelkan diatas medan yang terpapar sinar mentari.

Panel surya yang sangat tipis dan kuat telah diciptakan oleh Tesla Solar Roof. Tinggal kemampuan menyerap energinya yang perlu dimaksimalkan. Andai saja mampu melewati 50 persen niscaya PV akan menghasilkan energi yang berlimpah.

Tentang penyimpanan, Tesla juga membuat Tesla Power baterei yang mampu menampung hingga 14 kWh, dengan garansi hingga 20 tahun pemakaian. Tapi harganya tentu masih sangat mahal dan cenderung terus naik. Beterei tipis, dengan daya tampung besar dan masa pakai yang lama akan menjadi solusi untuk mendapatkan energi bersih.

BACA JUGA : Transisi Energi Bukan Hanya Turunkan Emisi 

Peradaban saat ini ditopang oleh bauran energi campuran. Namun sumber utamanya adalah minyak bumi dan batubara. Dunia digerakkan oleh bahan bakar minyak dan gas yang berasal dari minyak bumi dan listrik yang diproduksi dengan pembangkit berbahan batubara.

Kedua sumber energi ini mampu menghasilkan energi dalam jumlah yang besar. Sehingga energinya menjadi komoditas. Dengan sistem distribusi berupa jaringan akses masyarakat pada energi ini juga mudah. Masyarakat kemudian bergantung pada sumber energi ini.

Yang disebut dengan kemandirian energi kemudian melemah, karena masyarakat tidak lagi memproduksi energi sendiri, baik secara individual maupun komunal. Praktek-praktek kemandirian energi ini hanya ada di kelompok masyarakat tertentu, terutama masyarakat tradisional entah karena terpencil atau karena mereka menolak intervensi energi dari luar karena nilai budaya yang mereka yakini.

Masalah skalabilitas membuat sumber energi minyak bumi dan batubara menjadi terdepan. Walau energi juga bisa bersumber pada angin, biomasa. air dan tidal atau pasang surut air laut namun sumber energi ini menghadapi masalah skalabilitas, aspek geografis dan kebutuhan lahan yang besar.

Energi angin misalnya tidak bisa dipanen merata di seluruh wilayah bumi. Secara geografis energi ini melimpah di sebagian wilayah Eropa. Sementara energi tidal hanya mungkin dihasilkan di negara yang mempunyai wilayah pesisir yang luas atau panjang. Demikian juga dengan energi biomasa yang selain butuh lahan yang luas untuk budidaya, juga butuh lahan penampung yang tak kalah besarnya. Sementara energi air bermasalah dengan kontinuitas, air tidak bisa tersedia dalam waktu satu tahun penuh, ada perbedaan antara musim keramau dan musim hujan.

Dengan tantangan seperti itu, maka sampai sekarang pengembangan energi yang berbasis angin, biomassa dan tidal kurang menarik bagi investor atau pebisnis.

Rakusnya peradaban kita pada energi yang berbasis fosil yakni minyak bumi dan batubara membuat permasalahan tersendiri. Sejak dari penambangan, pengolahan, distribusi hingga konsumsi, energi yang berbasis fosil akrab dengan masalah sosial dan lingkungan.

Penambangannya kerap menimbulkan konflik, pencemaran dan kerusakan lingkungan yang berujung pada bencana ekologi. Sedangkan pada saat produksi dan konsumsi energinya, masalah yang paling besar adalah pencemaran lingkungan karena emisi gas buangan dari energi berbasis fosil ini.

Pelepasan emisi gas buangan ini yang telah terakumulasi ini kemudian menimbulkan efek gas rumah kaca, bumi kemudian memanas atau terjadi pemanasan global. Jika panas di bumi meningkat secara cepat dan drastis maka permukaan air laut akan naik karena gunung es abadi di kutub utara akan mencair.

Peningkatan panas yang ekstrim juga akan berdampak pada tumbuhan dan binatang juga manusia. Ada batas-batas adaptasi terhadap kenaikan suhu yang bisa ditoleransi oleh mahkluk hidup. Binatang air menjadi salah satu yang paling sulit untuk beradaptasi jika kemudian suhu air meningkat.

Para ahli sepakat, salah satu langkah untuk menekan laju pemanasan global adalah melakukan perubahan moda energi secara massal, dari energi yang berbasis fosil ke energi yang rendah emisi karbonnya atau sering disebut dengan energi hijau, energi terbarukan.

Lagi-lagi tantangannya pada skalabilitas dan geografis. Dengan mempertimbangkan semua itu, nampaknya energi surya menjadi salah satu pilihan yang paling meyakinkan sebagai energi masa depan.

BACA JUGA : Duo Marquez

Tak berlebihan jika kemudian dikatakan kalau matahari adalah masa depan energi kita.

Produksi energi matahari tetap akan konstan sampai batas waktu masa depan kita. Sekali lagi matahari secara teknis baru akan meredup 5 milyard tahun lagi.

Selain keberlimpahan, energi yang berasal dari matahari juga bisa mendukung aspek kemandirian. Baik kemandirian individual maupun komunal. Orang perorangan dan kelompok masyarakat bisa mengusahakan sendiri energinya dengan basis matahari.

Jika aspek kemungkinan kemandiriannya besar, maka peluang energi matahari untuk dimonopoli menjadi kecil. Tidak seperti energi migas dan batubara yang hanya dikuasai oleh segelintir orang, mereka yang kemudian menjadi sangat kaya raya bahkan berkuasa.

Energi matahari akan menjadi energi yang lebih demokratis dan inklusif termasuk dalam spektrum bisnisnya.

Disebut demokratis dan inklusif karena sumbernya bisa diakses oleh siapa saja dan gratis.

Yang mesti diinvestasikan hanyalah alat, untuk mengkonversi panas atau sinar matahari menjadi sumber energi dan perangkat penyimpanan energinya agar terus bisa dipakai ketika matahari terbenam.

Dengan demikian realitas atau spektrum bisnis yang berbasis energi matahari menjadi luas. Sistem penyediaan energi tidak lagi menjadi sentralistik seperti yang umumnya terjadi sekarang ini, terutama di Indonesia. Energi dikuasai oleh Perusahaan Listrik Negara dan Pertamina.

Monopoli energi yang dikuasai oleh mereka ini membuat inovasi, kreatifitas, pengetahuan dan kearifan tradisional yang berkaitan dengan energi makin menghilang. Masyarakat boleh mengusahakan energi sendiri tapi tak boleh memperoleh keuntungan darinya. Semua energi yang berbayar tidak sah jika tidak melalui PLN dan Pertamina.

Energi berada dalam jaringan atau on grid, sentralistik dengan semua resikonya.

Dalam konteks ini, transisi energi atau perubahan mode energi dari yang berbasis fosil ke energi terbarukan , menjadi momentum untuk melakukan perubahan paradigma energi, termasuk mendorong kemandirian energi, menumbuhkan produsen, penyedia, distributor dan jasa-jasa energi lainnya yang tidak sentralistik atau off grid.

Dengan basis energi matahari, ada masa depan baru untuk generasi penerus. Masa depan hijau, karena rantai industri energi yang berbasis matahari akan melahirkan banyak kesempatan, peluang bisnis, peluang jasa yang tentu saja kemudian banyak menyediakan peluang kerja atau karir.

Kata anak-anak jaman generasi terkini, transisi energi bisa menjadi green future, yang menyediakan green opportunity dan kemudian membuka green jobs.

Tentu saja ini adalah pandangan yang sangat optimistik. Sebab peta jalan transisi energi kita belum jelas, apakah akan jadi jalan terang atau jalan gelap?.

note : sumber gambar – TAMBANG